28 Desember 2006
SMS dari Erwin, adik saya: "Mn bs gw buka intnet, kan gempa. Warnet ge tarutup"
SMS dari saya: "Hah, Bandung gempa. Sorry gw ga tahu. Tar gw browse aja dari JKT."
Sudah beberapa hari saya off dari kantor. Sehingga saya terakhir kali buka email tgl 25 sore. Bener2 ga update,kalo ada gempa di Taiwan yang menyebabkan fiber optik di laut putus dan memutuskan koneksi komunikasi internet asia tenggara, jepang, taiwan, cina dan korea selatan dengan web2 yang ada di luar negaranya.
Ketika belakangan baru tahu, saya tiba2 panik. Sehari, saya rata2 saya buka email lebih dari 5x. Internet manteng selama saya duduk di meja kerja. Google sudah menjadi perpustakaan pribadi saya. How can I live without them? Apa reaksi saya berlebihan? Rasanya gak. Internet persis seperti HP buat saya, Kalo saya ga bawa HP rasanya ada yang kurang, nyawa saya cuma setengah. Kalo hari2 off, saya memang menahan diri, karena commit kepada atensi penuh untuk Sha. Tapi besok2 gimana? Gimana kalau saya mau email bahan2 pelatihan ke kota2 lain. Masa di fax semua? Gimana dengan cerita2 terbaru di blog teman2? Kapan bisa chatting lagi? bener2 penuh kepala saya!
Hari ini saya coba nge-warnet, sambil nunggu suami saya jemput dan belanja bulanan bareng. Yay..!!!! Saya sudah bisa buka yahoo, google, akses YM,update blog,dll. Rasanya lega....tak terkira....
Friday, December 29, 2006
Tuesday, December 19, 2006
The gym Aa played
The controversy over the 2nd marriage of the noted moslem preacher AA Gym still continues. A conversation with some friends few days ago brought facts that this topic easily enters many events of our today lives. A chat over cubicles in the office may lead into polygamy, the ulemas certainly discuss it on their preachs over and over, television debates, even into speeches of board of directors. Not to mention the PP 10 that will be strengthened, as SBY (or Ibu Anie) commanded. The game (pronounced: gim) Aa played has become a national topic.
Apologies if I use the terminology “game” that might take the pros out of their comfort zone. But indeed, I feel enough with the reasoning of sunnah.
I do not mean to extend the controversy but I only wished he could reconsidered his action as he’s a noted ulema who can cross multi culture as well as multi religion. At least he should think about the trust he gained from them, especially the trust that people from different religion gave. Moreover, this act has broadened impression that Islam condones discrimination. Oh well… ;( I am sooo disappointed.
Anyhow, the opinion that Koran’s interpretation is dominated by male point of view is worth contemplating. Besides, the interpretation of hadist should be in accordance with fitrah.
On a religion discussion session yesterday, a friend o mine who graduated from pesantren gave his opinion about polygamy. He said polygamy must be place proportionally. To be honest, I almost slept when he spoke. Especially when later he shared a story about his own experience.
His mother was a second wife. According to him, the reason of the second marriage because his father is not satisfied of the “iman” of the first wife (o, yeah…). The marriage was supported by his father’s family but held secretly form the first wife. Later when she found out, he and his other siblings experienced a terrible childhood where terror from the first wife and her children were addressed towards them. Well, it’s not only happened during childhood but it was until his father passed away. I failed to understand why on his conclusion, he said proudly that the children of the first wife were “on the street” whilst finally he and his siblings become respected citizens ( I mean…professional…go to the office…be ‘somebody’). Does he think that the reason of this is ONLY the “iman” of the first wife? Why he doesn’t take another way of view around that this is an example why people shouldn’t practice polygamy. Why he didn’t ask his father why he failed to groom his first wife’s “iman” and why his father didn’t choose to divorce her than to marry again SECRETLY. Well, I simply do not get his point!
The discussion ended with the same condition: pros and contras. Outside, the debate is not ended yet. Perhaps it won’t.
P.S: Saya lagi melatih english writing nih..jadi maaf ya kalao banyak ketidaksempurnaan ;)
Apologies if I use the terminology “game” that might take the pros out of their comfort zone. But indeed, I feel enough with the reasoning of sunnah.
I do not mean to extend the controversy but I only wished he could reconsidered his action as he’s a noted ulema who can cross multi culture as well as multi religion. At least he should think about the trust he gained from them, especially the trust that people from different religion gave. Moreover, this act has broadened impression that Islam condones discrimination. Oh well… ;( I am sooo disappointed.
Anyhow, the opinion that Koran’s interpretation is dominated by male point of view is worth contemplating. Besides, the interpretation of hadist should be in accordance with fitrah.
On a religion discussion session yesterday, a friend o mine who graduated from pesantren gave his opinion about polygamy. He said polygamy must be place proportionally. To be honest, I almost slept when he spoke. Especially when later he shared a story about his own experience.
His mother was a second wife. According to him, the reason of the second marriage because his father is not satisfied of the “iman” of the first wife (o, yeah…). The marriage was supported by his father’s family but held secretly form the first wife. Later when she found out, he and his other siblings experienced a terrible childhood where terror from the first wife and her children were addressed towards them. Well, it’s not only happened during childhood but it was until his father passed away. I failed to understand why on his conclusion, he said proudly that the children of the first wife were “on the street” whilst finally he and his siblings become respected citizens ( I mean…professional…go to the office…be ‘somebody’). Does he think that the reason of this is ONLY the “iman” of the first wife? Why he doesn’t take another way of view around that this is an example why people shouldn’t practice polygamy. Why he didn’t ask his father why he failed to groom his first wife’s “iman” and why his father didn’t choose to divorce her than to marry again SECRETLY. Well, I simply do not get his point!
The discussion ended with the same condition: pros and contras. Outside, the debate is not ended yet. Perhaps it won’t.
P.S: Saya lagi melatih english writing nih..jadi maaf ya kalao banyak ketidaksempurnaan ;)
Wednesday, November 15, 2006
Finally, Disney Lantern Fun-tasy

Kalau dikasih nilai range 1-10, maka saya akan memberi angka 7. Terus terang ini sesuatu yang cukup berbeda...: karakter2 disney dalam bentuk lentera. Lebih jelas lagi, karakter ini diberi rangka dan dilapisi kain sesuai warna karakter kartunnya, lalu di dalamnya diberikan lampu. Tidak cuma karakter disney, tapi beberapa karakter juga dilengkapi dengan kondisi sekitarnya. Sebut saja Mickey dan Minnie yang dilengkapi dengan Town hall dan Bank serta Gooffy di pojok square-nya dan Aladin yang dilengkapi dengan bangunan2 khas timur tengah. Panggungnya juga berlatarkan kastil yang juga merupakan lentera. Sayangnya, kamera digital kami rusak, sehingga kami tidak bisa "menangkap" keindahan beberapa karakter disney favorit saya : Dumbo, Alladin, dan Nemo. Beberapa karakter yang banyak menarik perhatian adalah CARS, Alladin, Alice in Wonderland (lengkap dengan rabbit yang bawa jam gantung dan pasukan kartu reminya hehe), Cinderella, The Ants, dan tentu saja MICKEY MOUSE (disney banget...)! Di tengah2 lapangan, dimana acara ini diadakan, banyak wahana bermain anak2. Mulai dari motor trail kecil, motor 4 roda, bombom car, sampai serodotan yang super duper tinggi dari bahan parasut. Seru sekali bagi mereka yang berusia sekolah dasar. Masih ada waktu hingga weekend ini bila ada yang mau dateng di acara ini di Bandung. Cuma..., jangan lupa, tiket masuknya kalo weekend agak mahal, yaitu Rp.30.000,- ;(
Wednesday, November 08, 2006
Urbanisasi, "Kue", dan impian
Sebuah artikel di KOMPAS pasca lebaran mengungkapkan fakta klasik: urbanisasi ke Jakarta pasca lebaran. Cerita lama yang selalu menarik. Bayangkan saja, begitu magnetisnya kota Jakarta, sehingga kaum pendatang ini berani mengadu nasib ke Jakarta dengan bermodalkan uang Rp.20.000 dan menginap di terminal. Ada yang berniat menjadi PRT, kuli bangunan, atau apa saja asalkan tidak di kampung. Alasannya, di kampung pendapatannya sangat minim atau bisa hanya berkisar seribu-an rupiah perhari.
PRT
Sebagai IRT (derajatnya tidak berbeda di mata Allah dengan PRT, namun perbedaan P dan I seringkali menunjukkan siapa yang disuruh dan menyuruh) di Indonesia, apalagi dengan peran ganda saya sebagai Ibu bekerja, bantuan PRT adalah sebuah kewajiban.
PRT: "Saya gak mau digaji 300 ribu,Bu. Tahun lalu saja saya sudah digaji 450 ribu sama majikan saya yang dulu."
IRT: *Glek*
PRT: "Ibu kok beli telur cuma 5? Maksud Ibu 5 kg?"
IRT: "Memangnya saya buka warung!"
Tingkah laku PRT masa kini memang "aneh2". Dipicu oleh ekspektasi urbanisasi dan persamaan hak asasi manusia, membuat saya kadang rindu sama si-mbok yang dulu bisa mengabdi hingga tahunan bahkan belasan tahun di keluarga papah-mamah atau bahkan eyang saya. Yang tidak membantah maupun memberi pandangan meremehkan dnegan polah hidup sederhana kami.
Jadi, begitulah, sekarang saya semakin mirip mamah saya. Ngerumpiin pembantu dengan temen kerja, mulai dari hobby rata2 para PRT untuk "nangga" hinggga temen2 yang mengalami PRTnya berulah (hamil,dll.)
Saya dan Papah
Sebenernya, saya juga ga berbeda dengan pembantu, atau kuli bangunan yang mengadu nasib ke Jakarta. Hampir 6 tahun yang lalu, saya berurbanisasi dari Bandung. Kesempatan sebenarnya sudah mulai ada sejak 1999. Tapi, sebagai jagoan kandang, saya masih berat meninggalkan Bandung saat itu. Saat akhirnya pindah ke Jakarta, saya mengalami "cultural shock" serbagai urban-er. Perbedaan gaya bahasa yang lebih "opposing", gaya hidup "hedonis" dengan penawaran segala ada dan serba luxurious, dan lain sebagainya. Tp, tolong dicatat, bahwa memang secara keilmuan, pengalaman, dan tingkat penghasilan, semuanya akhirnya lebih berkembang.
Akhir tahun ini, Papah saya juga turut berurbanisasi ke Jakarta. Papah aktif di sebuah LSM lokal yang berpusat di Jakarta. Duh...lansia ini memang pengennya terus aktif. Sementara di Bandung kesempatan untuk ini, katanya lebih sedikit.
Rasanya dari waktu ke waktu Jakarta memang tambah penuh. Banyak orang bilang...mereka ke Jakarta untuk berebut "potongan kue". Hmmm..."Apa kuenya cuma ada di jakarta,Jek?". Entahlah, tapi sebenernya, di dalam hati saya masih memendam sebuah keinginan...tinggal di Bandung tapi kerja di Jakarta. Siapa tahu di masa depan ada kereta cepat sehingga perjalanan hanya dapat ditempuh dalam satu jam saja.
Ah sudahlah....
PRT
Sebagai IRT (derajatnya tidak berbeda di mata Allah dengan PRT, namun perbedaan P dan I seringkali menunjukkan siapa yang disuruh dan menyuruh) di Indonesia, apalagi dengan peran ganda saya sebagai Ibu bekerja, bantuan PRT adalah sebuah kewajiban.
PRT: "Saya gak mau digaji 300 ribu,Bu. Tahun lalu saja saya sudah digaji 450 ribu sama majikan saya yang dulu."
IRT: *Glek*
PRT: "Ibu kok beli telur cuma 5? Maksud Ibu 5 kg?"
IRT: "Memangnya saya buka warung!"
Tingkah laku PRT masa kini memang "aneh2". Dipicu oleh ekspektasi urbanisasi dan persamaan hak asasi manusia, membuat saya kadang rindu sama si-mbok yang dulu bisa mengabdi hingga tahunan bahkan belasan tahun di keluarga papah-mamah atau bahkan eyang saya. Yang tidak membantah maupun memberi pandangan meremehkan dnegan polah hidup sederhana kami.
Jadi, begitulah, sekarang saya semakin mirip mamah saya. Ngerumpiin pembantu dengan temen kerja, mulai dari hobby rata2 para PRT untuk "nangga" hinggga temen2 yang mengalami PRTnya berulah (hamil,dll.)
Saya dan Papah
Sebenernya, saya juga ga berbeda dengan pembantu, atau kuli bangunan yang mengadu nasib ke Jakarta. Hampir 6 tahun yang lalu, saya berurbanisasi dari Bandung. Kesempatan sebenarnya sudah mulai ada sejak 1999. Tapi, sebagai jagoan kandang, saya masih berat meninggalkan Bandung saat itu. Saat akhirnya pindah ke Jakarta, saya mengalami "cultural shock" serbagai urban-er. Perbedaan gaya bahasa yang lebih "opposing", gaya hidup "hedonis" dengan penawaran segala ada dan serba luxurious, dan lain sebagainya. Tp, tolong dicatat, bahwa memang secara keilmuan, pengalaman, dan tingkat penghasilan, semuanya akhirnya lebih berkembang.
Akhir tahun ini, Papah saya juga turut berurbanisasi ke Jakarta. Papah aktif di sebuah LSM lokal yang berpusat di Jakarta. Duh...lansia ini memang pengennya terus aktif. Sementara di Bandung kesempatan untuk ini, katanya lebih sedikit.
Rasanya dari waktu ke waktu Jakarta memang tambah penuh. Banyak orang bilang...mereka ke Jakarta untuk berebut "potongan kue". Hmmm..."Apa kuenya cuma ada di jakarta,Jek?". Entahlah, tapi sebenernya, di dalam hati saya masih memendam sebuah keinginan...tinggal di Bandung tapi kerja di Jakarta. Siapa tahu di masa depan ada kereta cepat sehingga perjalanan hanya dapat ditempuh dalam satu jam saja.
Ah sudahlah....
Thursday, November 02, 2006
Family Outing : Pusat Primata Schmutzer

Beberapa waktu lalu, kami mengunjungi Pusat Primata Schmutzer. Letaknya ada di dalam Kebun Binatang Ragunan. Untuk saya pribadi, ini bukan kunjungan pertama. Karena itu kali ini saya ingin berbagi "kekaguman" saya akan pusat konservasi ini.
Memasuki Pusat Primata Schmutzer, Anda tidak akan merasa berada di bonbin yang ada di Indonesia ;p. Konsepnya memang konservasi, bukan untuk sekedar tontonan karena itu para pengunjung tidak dibolehkan memberi makanan. Primata2 di sini menu makanannya juga hebat: apel fuji, semangka, melon...ga kalah ama parcel buah-buahan menjelang lebaran :). Lingkungannya pun bersih dan asri. Dilengkapi pula dengan canopy bridge, area simpanse (sedang dikembangkan) dan terowongan buatan. Belum termasuk museum ber-AC yang mengetengahkan sejarah primata dan dilengkapi pula oleh teater yang menayangkan film-film mengenai primata.


Di sini, Sha kami "pertemukan" dengan saudara2 tua ;p yang centil2. Ada yang besar sampai masih baby seperti Sha. Baby monkey ini nempel di kaca (kebetulan jenis ini ada di dalam kandang yang berkaca) dan mengikuti setiap gerak gerik Sha sehingga dia jadi heboh. Di kesempatan lain, ada segerombolan simpanse yang bersahut2an. Simpanse ini lehernya seperti mereka yang terjangkit gondok...namun demikian efek suara yang ditimbulkan jadi bergema. Sekali saja mereka berteriak, seperti ada 2 atau tiga lebih simpanse yang berteriak....lalu dijawab oleh Sha dengan teriakan lainnya...(duh!).


Sayangnya, kami tidak bisa menjelajahi setiap sudut dari pusat primata schmutzer. maklum saat itu sedang puasa. Jadi rasanya lemes dan haus... Jadi suka ngiri kalo ada "saudara tua" yang lagi makan buah. Walaupun sempet masuk ke terowongan/gua buatan, kami juga ga sempet ketemu ama orang utan... Dan ga sempet naik canopy bridge ;( Tapi kami pasti kembali lagi...mengajak lebih banyak "pasukan" untuk "lebih akrab" dengan para primata ini.
Wednesday, November 01, 2006
Wednesday, October 11, 2006
Oh Sasha....
Hari ini umur Sha 15 bulan 13 hari. Jalannya sudah lancar banget...bahkan tidak bisa dihentikan lagi. Maksudnya, "tidak terkendali. "Ucul" kata orang Jawa. Sha jalan atau bahkan lari ke mana dia suka atau saat dia melihat "target" yang harus dicapai.
A perfect house was only in a past. Sekarang di meja kabinet TV gak ada lagi kumpulan frame-frame foto yang manis. Di meja ruang TV juga tidak ada lagi taplak. Semuanya menyingkir. Itu belum ditambah lagi dengan balon yang bertebaran di mana-mana; kamar tidur, carport, atau ruang TV. Jangan heran kalau menemukan buku-buku "pelajaran" sha tergeletak di dapur pas di depan lemari makan. Ini lemari favoritnya. Dia tahu bahwa di dalamnya ada roti, ada ayam goreng, ada sayur sop, dll....makanya tiap pagi habis pipis Sha langsung absen ke depan pintu lemari makan ini. Berdiri dengan tanpa (maaf) celana sambil ngomong, "maem....".
Balon memang mainan favoritnya. Entah karena dia tahu saya jarang membelikan mainan (termasuk balon) atau memang suka banget sama balon, kalau ada balon gratisan, baik dari supermarket, dari resto, atau dari promosi produk, Sha suka tereak-tereak...bikin emaknya malu setengah mati. Dan ga cukup satu pula! Mintanya paling gak dua..... ;(
Imitator
Satu lagi kebiasaan baru Sha adalah meniru tingkah laku orang-orang disekitarnya. Kalau pembantu harian kami dateng, sha pasti ikut sibuk. Ikut nyapu... (untungnya sapu ada dua) ngelap-ngelap,dll. kadang kita nyapu debu ke arah pintu keluar, dia tackle (seperti maen hockey) dan malah di arahkan ke dalam rumah...;p Untuk masalah lap mengelap, Sha biasanya ngelap2 lemari bajunya.... Yang jadi masalah, alat yang dia pakai adalah tissue basah pigeon!!! Duh...ga murah khan... Rupanya Sha sudah bisa membuka flip tissue basah pigeon yang biasa di simpan di atas tape deck.
Satu lagi...adalah kemampuan bicaranya yang sudah mulai bisa meniru potongan-potongan kata singkat seperti Mama, Papa,"Wunda", dan Kakak (dengan k yang ditekan).
Paa suatu kesempatan, Sha sedang bermain di kamar depan (kamar saya) sementara saya sedang beres2 di kamar Sha (ada connecting door). Tidak lama kemudian, terdengar suara tukang kerupuk lewat," Puk...kerupuk...puk...puk...". selang beberapa detik, dari depan terdengar suara Sha,"puk...puk....". Terdengar suara tukang kerupuk yang lebih keras, manatp, kencang dari arah jalan," Puk...puk...". "Puk...puk...", Sha lebih keras menimpali.
"Puk...."
"Puk...."
Berbalas-balasan.....
Sampai akhirnya suara tukang kerupuk hilang....
Mungkin dia udah capek.
Sementara si emak terkakak2 di kamar belakang.
A perfect house was only in a past. Sekarang di meja kabinet TV gak ada lagi kumpulan frame-frame foto yang manis. Di meja ruang TV juga tidak ada lagi taplak. Semuanya menyingkir. Itu belum ditambah lagi dengan balon yang bertebaran di mana-mana; kamar tidur, carport, atau ruang TV. Jangan heran kalau menemukan buku-buku "pelajaran" sha tergeletak di dapur pas di depan lemari makan. Ini lemari favoritnya. Dia tahu bahwa di dalamnya ada roti, ada ayam goreng, ada sayur sop, dll....makanya tiap pagi habis pipis Sha langsung absen ke depan pintu lemari makan ini. Berdiri dengan tanpa (maaf) celana sambil ngomong, "maem....".
Balon memang mainan favoritnya. Entah karena dia tahu saya jarang membelikan mainan (termasuk balon) atau memang suka banget sama balon, kalau ada balon gratisan, baik dari supermarket, dari resto, atau dari promosi produk, Sha suka tereak-tereak...bikin emaknya malu setengah mati. Dan ga cukup satu pula! Mintanya paling gak dua..... ;(
Imitator
Satu lagi kebiasaan baru Sha adalah meniru tingkah laku orang-orang disekitarnya. Kalau pembantu harian kami dateng, sha pasti ikut sibuk. Ikut nyapu... (untungnya sapu ada dua) ngelap-ngelap,dll. kadang kita nyapu debu ke arah pintu keluar, dia tackle (seperti maen hockey) dan malah di arahkan ke dalam rumah...;p Untuk masalah lap mengelap, Sha biasanya ngelap2 lemari bajunya.... Yang jadi masalah, alat yang dia pakai adalah tissue basah pigeon!!! Duh...ga murah khan... Rupanya Sha sudah bisa membuka flip tissue basah pigeon yang biasa di simpan di atas tape deck.
Satu lagi...adalah kemampuan bicaranya yang sudah mulai bisa meniru potongan-potongan kata singkat seperti Mama, Papa,"Wunda", dan Kakak (dengan k yang ditekan).
Paa suatu kesempatan, Sha sedang bermain di kamar depan (kamar saya) sementara saya sedang beres2 di kamar Sha (ada connecting door). Tidak lama kemudian, terdengar suara tukang kerupuk lewat," Puk...kerupuk...puk...puk...". selang beberapa detik, dari depan terdengar suara Sha,"puk...puk....". Terdengar suara tukang kerupuk yang lebih keras, manatp, kencang dari arah jalan," Puk...puk...". "Puk...puk...", Sha lebih keras menimpali.
"Puk...."
"Puk...."
Berbalas-balasan.....
Sampai akhirnya suara tukang kerupuk hilang....
Mungkin dia udah capek.
Sementara si emak terkakak2 di kamar belakang.
Saturday, September 16, 2006
Pasar Seni ITB 2006
Saya dan Feming doyan banget pergi ke pameran2 seni dan craft. Apalagi kalo masuknya free of charge a.k.a. gretongan. Entah mulainya dari mana kebiasaan ini muncul di antara kami berdua. Kayaknya (GR banget nih), Feming banyak menyesuaikan diri dengan minat saya mengenai art dan culture. Kalau craft, dia memang doyan (kayaknya....;p).
Pssar Seni ITB 2006, yang digelar 5 tahun sekali udah lama masuk ke jadwal acara kami. Jadi pada hari H berangkatlah kami dengan gagahnya ke Dago (cuma digelar satu hari sajah!). Dari pengalaman dan temanya yaitu "Tumplektubleugh" kami memilih naik motor dan parkir di Borromeus. Pilihan yang tepat, karena jam 11 siang itu, Dago udah macet total. Bahkan jalan2 kecil di seputaran Toko You-Raden-Patah-Teuku Angkasa udah pada macet pula. Parkir motor R.S Borromeus juga ikut marema, karena banyak pengunjung Pasar Seni ITB yang rupanya memiliki pikiran sama dengan kami.
Memasuki area Pasar Seni ITB (yang kali ini semua digelar di dalam Kampus, tidak lagi di sepanjang Jalan Ganesa dan sekitarnya), kami harus diperiksa (baca: security check). Hmmmm, maksudnya apa ya? Maklum, yang periksa ga pake alat sensor dan antrian pengunjung juga panjang sehingga petugas keamanan kayaknya cuma periksa basa basi tuh.
Anyway, kami senang sekali karena di pintu masuk ini ada pick-up point peta Pasar Seni ITB 2005 (sitemap)yang DIJUAL dengan harga 5000 rupiah. Kami pikir ini pasti sangat membantu keterbatasan waktu kami untuk browsing arena pasar seni yang besar dan dijubeli oleh begitu banyak anak muda, kakek, nenek,tante, adek bayi, anak SD, dan lain sebagainya. Hehehe ternyata kami cuma bisa nyengir kuda karena entah karena gambar2nya terlalu kecil atau entah kami berdua begitu bodo atau apalah sebabnya...peta ini ternyata tidak terlalu membantu. Tetap saja, kami gagal mendapatkan lokasi booth2 khusus seperti booth-nya Sunaryo, Pirous, dan Kartika Affandi. O, ya....salah satu booth artis yang saya suka adalah Booth Tapestry Biranul Anas Zaman dan Booth-nya Runi Palar.

Hal yang paling saya kangenin dari Pasar Seni ITB adalah happening art dan hal2 nyeleneh yang dipajang di lokasi (sebegai elemen estetis gitu? atau diindah-indah?atau mungkin maksudnya mah diseni-senikeun? saya ga tau pasti tapi yang pasti selalu menghibur). Seperti puluhan atau mungkin ratusan papan kertas yang ditancapkan di seputaran rumput di dekat booth2 khusus. Benar2 menggelitik!
Selain itu juga ada happening art anak2 IKJ yang segar dan kritis. Sayangnya, microphone-nya ga balance, jadi artikulasi mereka menjadi kurang jelas sehingga makna happening art tersebut kurang dapat dipahami. Tapi teuteup...menyita perhatian pengunjung pasar seni. Memang nyeleneh dan beda...
Satu lagi yang menarik, komik2 yang digambar sebesar baligo di seputaran pintu masuk. Satu komik yang jadi favorit saya bercerita kurang lebih seperti ini:
*Setting pemilihan miss-miss-an aatau putri2an*
Pembawa acara: "Siapa tokoh idola Anda"
Kandidat Putri: "Pangeran Diponegoro" --->Tepu pisaaaannnn
Pembawa acara: "Wah Anda nasionalis sekali ya.... Kalau begitu kapan beliau wafat?"
Kandidat Putri: "Maaf saya tidak tahu...;(" --->Kumaha siyyy ceunah idola bari ga tau iraha wafatna. Bullshit pisan.
Pembawa acara: "Oh.....Baiklah kalau begitu. Pangeran Diponegoro wafat pada 1830"
Kandidat Putri: "1830? Jadi baru maghrib tadi? Kalau gitu saya ngelayat dulu aaahhh..." ---> DUNG PLANG!
Sayangnya saat saya siap2 mengambil foto baligo komik ini, siuuuuuttttt...baligonya jatuh ditiup angin ;p
Dalam pasar seni kali ini juga digelar macam2 wahana. Antara lain komik jepret dan Leuwih Gadjah (Wahana ini berusaha menyampaikan pesan lingkungan melalui pengolahan material bekas menjadi suatu produk baru yang dapat digunakan. Recycle, Re-use, Redesign). Di sini juga ada counter tuker sampah. Seperti saya misalnya, yang menukarkan dua botol bekas air mineral, saya mendapatkan sebuah mainan anak yang diolah dari sampah. Walaupun mainan ini sangat sederhana, tapi ternyata banyak juga loh yang minta buat nukerin sampah2nya ke sini.
Mengenai panggung, ada 3 panggung : panggung utama, panggung tradisional, dan panggung siangnite. Saat saya di sana saya sempat menyaksikan keroncong merah putih lagi tampil, sedangkan di panggung utama kayaknya (dari jadwal) The changcuter sebentar lagi bakal maen. Sebernya siyy maksud hati masih pengen lama di sini, nonton eta ieu,browsing ke sana ke mari. Tapi udah leklok banget. Lagian Sha di tinggal di rumah. Jadi kami akhirnya bertekad mengakhiri kunjungan kali ini.
Insya Allah, ketemu lagi lima tahun lagi....
Pssar Seni ITB 2006, yang digelar 5 tahun sekali udah lama masuk ke jadwal acara kami. Jadi pada hari H berangkatlah kami dengan gagahnya ke Dago (cuma digelar satu hari sajah!). Dari pengalaman dan temanya yaitu "Tumplektubleugh" kami memilih naik motor dan parkir di Borromeus. Pilihan yang tepat, karena jam 11 siang itu, Dago udah macet total. Bahkan jalan2 kecil di seputaran Toko You-Raden-Patah-Teuku Angkasa udah pada macet pula. Parkir motor R.S Borromeus juga ikut marema, karena banyak pengunjung Pasar Seni ITB yang rupanya memiliki pikiran sama dengan kami.
Memasuki area Pasar Seni ITB (yang kali ini semua digelar di dalam Kampus, tidak lagi di sepanjang Jalan Ganesa dan sekitarnya), kami harus diperiksa (baca: security check). Hmmmm, maksudnya apa ya? Maklum, yang periksa ga pake alat sensor dan antrian pengunjung juga panjang sehingga petugas keamanan kayaknya cuma periksa basa basi tuh.
Anyway, kami senang sekali karena di pintu masuk ini ada pick-up point peta Pasar Seni ITB 2005 (sitemap)yang DIJUAL dengan harga 5000 rupiah. Kami pikir ini pasti sangat membantu keterbatasan waktu kami untuk browsing arena pasar seni yang besar dan dijubeli oleh begitu banyak anak muda, kakek, nenek,tante, adek bayi, anak SD, dan lain sebagainya. Hehehe ternyata kami cuma bisa nyengir kuda karena entah karena gambar2nya terlalu kecil atau entah kami berdua begitu bodo atau apalah sebabnya...peta ini ternyata tidak terlalu membantu. Tetap saja, kami gagal mendapatkan lokasi booth2 khusus seperti booth-nya Sunaryo, Pirous, dan Kartika Affandi. O, ya....salah satu booth artis yang saya suka adalah Booth Tapestry Biranul Anas Zaman dan Booth-nya Runi Palar.

Hal yang paling saya kangenin dari Pasar Seni ITB adalah happening art dan hal2 nyeleneh yang dipajang di lokasi (sebegai elemen estetis gitu? atau diindah-indah?atau mungkin maksudnya mah diseni-senikeun? saya ga tau pasti tapi yang pasti selalu menghibur). Seperti puluhan atau mungkin ratusan papan kertas yang ditancapkan di seputaran rumput di dekat booth2 khusus. Benar2 menggelitik!
Selain itu juga ada happening art anak2 IKJ yang segar dan kritis. Sayangnya, microphone-nya ga balance, jadi artikulasi mereka menjadi kurang jelas sehingga makna happening art tersebut kurang dapat dipahami. Tapi teuteup...menyita perhatian pengunjung pasar seni. Memang nyeleneh dan beda...
Satu lagi yang menarik, komik2 yang digambar sebesar baligo di seputaran pintu masuk. Satu komik yang jadi favorit saya bercerita kurang lebih seperti ini:
*Setting pemilihan miss-miss-an aatau putri2an*
Pembawa acara: "Siapa tokoh idola Anda"
Kandidat Putri: "Pangeran Diponegoro" --->Tepu pisaaaannnn
Pembawa acara: "Wah Anda nasionalis sekali ya.... Kalau begitu kapan beliau wafat?"
Kandidat Putri: "Maaf saya tidak tahu...;(" --->Kumaha siyyy ceunah idola bari ga tau iraha wafatna. Bullshit pisan.
Pembawa acara: "Oh.....Baiklah kalau begitu. Pangeran Diponegoro wafat pada 1830"
Kandidat Putri: "1830? Jadi baru maghrib tadi? Kalau gitu saya ngelayat dulu aaahhh..." ---> DUNG PLANG!
Sayangnya saat saya siap2 mengambil foto baligo komik ini, siuuuuuttttt...baligonya jatuh ditiup angin ;p
Dalam pasar seni kali ini juga digelar macam2 wahana. Antara lain komik jepret dan Leuwih Gadjah (Wahana ini berusaha menyampaikan pesan lingkungan melalui pengolahan material bekas menjadi suatu produk baru yang dapat digunakan. Recycle, Re-use, Redesign). Di sini juga ada counter tuker sampah. Seperti saya misalnya, yang menukarkan dua botol bekas air mineral, saya mendapatkan sebuah mainan anak yang diolah dari sampah. Walaupun mainan ini sangat sederhana, tapi ternyata banyak juga loh yang minta buat nukerin sampah2nya ke sini.
Mengenai panggung, ada 3 panggung : panggung utama, panggung tradisional, dan panggung siangnite. Saat saya di sana saya sempat menyaksikan keroncong merah putih lagi tampil, sedangkan di panggung utama kayaknya (dari jadwal) The changcuter sebentar lagi bakal maen. Sebernya siyy maksud hati masih pengen lama di sini, nonton eta ieu,browsing ke sana ke mari. Tapi udah leklok banget. Lagian Sha di tinggal di rumah. Jadi kami akhirnya bertekad mengakhiri kunjungan kali ini.
Insya Allah, ketemu lagi lima tahun lagi....
Wednesday, September 13, 2006
Percakapan populer
Percakapan paling populer akhir-akhir ini:
Teman lama:"Kerja di mana?"
Saya:"Di mana ya?"
Teman Lama:"Kok balik nanya? Suka gitu deh..."
Saya:"Di rumah aja kok."
Teman lama:"Bohong banget..."
Bingung deh. Katanya nanya. Kok ngotot...malah ujung2nya nuduh saya bohong. Katanya dia ga percaya saya ga kerja....@#&***%
Percakapan ini hampir mirip dengan percakapan ketika saya belum menikah dan sudah lulus kuliah. Hanya temanya saja ganti dan diawali dengan kalimat, " Kapan nyusul (nikah)?"...selanjutnya semua orang pasti tahu percakapan ini akan berakhir dimana.
Dua jenis percakapan populer di atas paling mudah membuat saya ingin melempar sandal (lebih mantap kalo kebetulan saya pake sandal dengan hak tebal atau hak lancip minimal 5cm!).
Maaf, bukannya kasar, tapi memang kasar....saya memang ga tahan dengan jenis percakapan populer ini. Seakan2 sudah ada stereotip jalan hidup yang harus dilalui seseorang untuk dikategorikan sukses atau mendapatkan pandangan kagum atau keplokan tangan.
Mungkin juga saya sensita..(untung saya perempuan..kalau saya laki pasti saya sentitit)..karena saat ini saya masih dalam cuti kerja super panjang bebas hambatan.
Ya, bebas hambatan untuk tetap di rumah. Kalau untuk sampai ke pekerjaan berikutnya...hmmm ibaratnya kendaraan....saya pakai mobil tua yang mulai terseok2. Mereknya sudah tidak jelas, yang penting masih bisa melaju ke depan, walau entah kapan sampai di tujuan. Spion kanannya pecah, disenggol teman yang naek motor otomatis keluaran terbaru menuju kantor barunya. Mobil tua ini catnya aus kena panas matahari, maklum lagi halodo (musim kemarau dalam bahasa sunda,red.)...nganter pemiliknya interpiu ke sana ke mari, mulai dari Jendral Sudirman sampai Kelapa Gading. Belakangan, rodanya juga mulai aus....mungkin ingin menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Hanya radio bututnya yang masih berbunyi...(itu pun gelombangnya tidak pas karena bukan digital)... Lagunya, "Kasih Bunda kepada beta tak terhingga sepanjang masa...dst."
Seperti seorang teman, yang baru saya kunjungi di friendster, saya seolah merasakan kemirisannya saat dia bercerita dapat bertahan dengan 20 ribu rupiah seminggu sementara temannya dihadiahi Fortuner dari suaminya. CASH!!!
Respons saya persis sekali dengan respons teman saya itu. Menghibur diri bahwa kami hanya sedang mengisi bahan bakar untuk kembali siap melaju kencang.Aaahhhhh.....
Saya masih di jalan buntu. Sekarang saya hanya menatap anak saya tumbuh. Bukan magis tapi memberikan saya kekuatan untuk terus melanjutkan hidup dan tidak pernah berhenti berusaha.
Ya Allah, janganlah Kau berpaling dariku...
Teman lama:"Kerja di mana?"
Saya:"Di mana ya?"
Teman Lama:"Kok balik nanya? Suka gitu deh..."
Saya:"Di rumah aja kok."
Teman lama:"Bohong banget..."
Bingung deh. Katanya nanya. Kok ngotot...malah ujung2nya nuduh saya bohong. Katanya dia ga percaya saya ga kerja....@#&***%
Percakapan ini hampir mirip dengan percakapan ketika saya belum menikah dan sudah lulus kuliah. Hanya temanya saja ganti dan diawali dengan kalimat, " Kapan nyusul (nikah)?"...selanjutnya semua orang pasti tahu percakapan ini akan berakhir dimana.
Dua jenis percakapan populer di atas paling mudah membuat saya ingin melempar sandal (lebih mantap kalo kebetulan saya pake sandal dengan hak tebal atau hak lancip minimal 5cm!).
Maaf, bukannya kasar, tapi memang kasar....saya memang ga tahan dengan jenis percakapan populer ini. Seakan2 sudah ada stereotip jalan hidup yang harus dilalui seseorang untuk dikategorikan sukses atau mendapatkan pandangan kagum atau keplokan tangan.
Mungkin juga saya sensita..(untung saya perempuan..kalau saya laki pasti saya sentitit)..karena saat ini saya masih dalam cuti kerja super panjang bebas hambatan.
Ya, bebas hambatan untuk tetap di rumah. Kalau untuk sampai ke pekerjaan berikutnya...hmmm ibaratnya kendaraan....saya pakai mobil tua yang mulai terseok2. Mereknya sudah tidak jelas, yang penting masih bisa melaju ke depan, walau entah kapan sampai di tujuan. Spion kanannya pecah, disenggol teman yang naek motor otomatis keluaran terbaru menuju kantor barunya. Mobil tua ini catnya aus kena panas matahari, maklum lagi halodo (musim kemarau dalam bahasa sunda,red.)...nganter pemiliknya interpiu ke sana ke mari, mulai dari Jendral Sudirman sampai Kelapa Gading. Belakangan, rodanya juga mulai aus....mungkin ingin menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Hanya radio bututnya yang masih berbunyi...(itu pun gelombangnya tidak pas karena bukan digital)... Lagunya, "Kasih Bunda kepada beta tak terhingga sepanjang masa...dst."
Seperti seorang teman, yang baru saya kunjungi di friendster, saya seolah merasakan kemirisannya saat dia bercerita dapat bertahan dengan 20 ribu rupiah seminggu sementara temannya dihadiahi Fortuner dari suaminya. CASH!!!
Respons saya persis sekali dengan respons teman saya itu. Menghibur diri bahwa kami hanya sedang mengisi bahan bakar untuk kembali siap melaju kencang.Aaahhhhh.....
Saya masih di jalan buntu. Sekarang saya hanya menatap anak saya tumbuh. Bukan magis tapi memberikan saya kekuatan untuk terus melanjutkan hidup dan tidak pernah berhenti berusaha.
Ya Allah, janganlah Kau berpaling dariku...
Monday, August 28, 2006
Rembrandt's Etchings at Erasmus Huis

The exhibition in the Erasmus Huis shows etchings of the Rembrandt House in Amsterdam and from private collections. The exhibition offers an overview of Rembrandt’s world-famous etchings with subjects ranging the Bible, landscapes and portraits and many more.
Indeed, Rembrandt Van Rijn is one of the greatest etchers. He is more acknowledged for his mastery in etching than painting. What I like most from his graphic works is the technique he used to make a dramatic light effect. The rendering is remarkable!
This exhibition definitely shouldn't be missed!
Thursday, August 24, 2006
Ulang Tahun
Terima kasih untuk semua yang udah ngucapin selamat ulang tahun baik melalui telpon, SMS, kirim kartu on line dan lain2nya. Terima kasih masih inget ulang tahun saya dan mendoakan semua yang terbaik untuk saya (saoalnya saya sendiri bukan jenis orang yang mengingat tanggal ultah teman2 saya dengan baik...*sorry*).
Maaf ga bisa satu2 terbalas. Ga tau kenapa, tgl 21-8-2006 itu sibuk banget. Mungkin karena hari terakhir dalam rangkaian long weekend. Sekali lagi maaf ya, pren...
Maaf ga bisa satu2 terbalas. Ga tau kenapa, tgl 21-8-2006 itu sibuk banget. Mungkin karena hari terakhir dalam rangkaian long weekend. Sekali lagi maaf ya, pren...
Monday, August 14, 2006
A Letter to Sha...
Dear Asha Freda Elvind,
I remember the day you were born
29 July 2005
It wasn't love at first sight like many tales told
But my love grows as you do
I remember the days during your first two months
You cried all days and nights
And I just knew nothing to do and felt useless
But there's nothing quite as magical as a mother's love
Your first lesson for me.
Now your little legs learn to walk carefully
You start to babbling your name...cacaca...
You laugh and giggle
You're quite a performer
Now that I spend my days talking to pictures, fishes, cats, and birds
I learn so much than I could never thought before
Figured out that my teacher is a one year-old baby girl
Thank you for the joy and the lesson
Clap your hands, dance, and laugh...
Happy Birthday,darling!
-Bunda-
CC to God:
Thank you for a healthy baby.
*I mean what can be a mommy's worst fear than dealing with their sick baby*
Thank you for an amazing gift.
Thursday, August 10, 2006
MATCH POINT - a DVD review

A sensual film that reveals the huge part luck plays in events. With the setting of English upper class, the story is about the seduction of wealth and passion (the discordant between love and lust ;p).
I underlined the dialogue : "I'd rather be lucky than good" cause I absolutely agree with the idea that a great part of life is dependant on luck and lately I am afraid that mine runs out...
Out of all, I just love the english accent, London scenic views, and the life style (enjoy their fortune while also supporting arts).... *urgggghhhh saatchi gallery..tate modern...I miss you...*
If you love drama, you'll love it! At least, you'll love the ending. Just unpredictable!
Friday, July 28, 2006
*Angklung 11* dalam kenangan

Akhirnya kami sampai ke waktunya juga.... Kami harus pindah dari *Angklung 11*. (Kami maksudnya adalah keluarga Bandung=papa+mama+erwin+perabotan2 papa mama erwin irfan dan saya). Phiuuuhhh, ini adalah sebuah keputusan panjang. Sudah dipikirkan masak-masak dan dalam jangka waktu panjang. Sebagai bagian dari rencana yang Insya Allah bisa terwujud.
Sudah lebih dari 30 tahun kami tinggal di rumah ini. Jadi, walaupun rumah baru letaknya tidak jauh dari rumah dulu dan dalam kondisi yang lebih cantik tapi emotional attachment yang membuat kami terasa lebih berat meninggalkan rumah ini.....jadi,tentunya, ini bukan masalah rumah Angklung indah, mewah atau apa....
Anyway, perlahan-lahan melihat sebagian demi sebagian ruang dari rumah ini menjadi kosong ternyata membuat saya....waas...syeedih... Mengingat begitu banyak hal sudah terjadi di sini; lahir,belajar berjalan, main petak umpet, ulang tahun ke-17, diapelin pacar, ciuman pertama ;p, dilamar, hingga menyusui Sha.
Karena itu hari terakhir sebelum angkat2 barang dimulai, saya menatap setiap ruang dengan detil secara diam2. Jujur,saya ga mau ada yang tahu bahwa Hanny bisa menangis begitu mudah..;( . Saya mencoba menanamkan dalam ingatan saya setiap detil dari ruangan2....dan peletakan furniture2...
Mengenai pindah2annya sendiri..., saya menjadi mover yang bekerja keras selama 2 bulan terakhir. Bener2 kerja keras karena papa dan mama tipe orang yang seneng keep barang2 ga perlu. Alasannya, "Sayang ah...masih bagus" atau "Dulu belinya mahal loh" atau " Simpen aja, nanti pasti kepake kok"....IDIIIHHH!!!! Bayangin deh, kalo sifat ini sudah menahun dan tinggal di sebuah rumah selama 30 tahun.
Saya jadi seperti menemukan harta karun, hadiah2 pernikahan mama hampir 40 tahun lalu (berupa cangkir set) masih ada...malah ada 2 set dengan motif yang sama! Ahikkkk...
O, ya karena beberapa waktu belakangan ini saya sering ada di Bandung dan menempati kamar saya lagi bersama Sha, tentunya saya juga jadi ikut mengemasi barang2 kami. Plus juga barang2 saya yang ternyata masih sangat banyak di kamar tersebut. Koleksi komik Sin Chan, Novel Agatha Cristie, Text book Ilmu Komunikasi, baju2 pesta simpenan untuk acara Bandung, baju-baju tidur khusus simpenan kalo saya mudik ke Bandung, juga album2 foto zaman baheula. Belum lagi iket rambut - iket rambut...duh, saya bingung mau diapain...rambut saya sekarang cepak gini...;(
Akhirnya, sebelum menyerahkan kunci rumah ke pemilik baru, saya menatap sekali lagi ruang2 kosong yang pernah mengisi hari2 saya (sayang saya belum berhasil mendownload foto2 ini). Apapun rumah ini bentuknya nanti (direnovasi,di bangun ulang, atau apalah), saya berharap dia ga kesakitan saat dibongkar. Saya berharap rumah ini bisa memberi tempat berteduh yang menentramkam hati sebagaimana ia dulu kepada kami... Saya berharap rumah ini akan dipenuhi tawa dan memori seperti saat kami di sini dulu...
Monday, July 03, 2006
Is it the one?

Minggu lalu saya dapet offering untuk menjadi LO untuk kerjasama British Red Cross dan LIPI. Detailnya, posisi ini harus memonitor dan mengevaluasi (monef) relawan2 British Red Cross (BRC) di lapangan, hingga nantinya apa yang mejadi tujuan BRC dapat diukur kesuksesannya.
Nah, apa yang dimaksud dengan lapangan? 3 Kabupaten di Aceh. Relawan-relawan ini akan mengkomunikasikan buku pendidikan bagi siswa/i SD di sana yag bermuatan lokal kehidupan pesisir termasuk membangun pengetahuan dan awareness mengenai tsunami.
Konsekuensinya, karena harus memonef relawan2 tsb, posisi ini akan traveling Jakarta-Aceh secara regular (minimum 4-5 hari sekali jalan), termasuk menyeberangi laut ke kabupaten yang ada di pulau kecil (mungkin dengan speed boat atau perahu).
Buat saya ini bener2 hal baru dan bukan saja full of challenge tapi juga menyentuh sisi humanitas (taelaaa :p)... Biasa ada di hi-rise building di kawasan segitiga emas di Jakarta...biasa pakai suit yang manis dan wangi ketemu partner di merchantile....sekarang harus jump in to the real world....ketemu komunitas yang sekian lama mengalami banyak penderitaan dan kekecewaan dari mulai GAM sampai tsunami. Komunitas yang mungkin akan defensif terhadap "apa yang kami akan bawa"...
Selama ini saya memang mencari pekerjaan yang menawarkan challenge baru dan antara lain berminat untuk membangun karir di social services. Nah saat ada kesempatan datang, saya jadi berpikir bahwa ini bukan sekedar sebuah tawaran bekerja yang menawarkan challenge, tapi apakah saya berani mengambil komitmen untuk melakukan leap dalam perjalanan karir dan hidup saya? Is it the one?
Monday, June 26, 2006
Daddy's going home real soon...
Yep, Feming got the SK finally!
He should have been in Bandung by Mid July.
You know, today, Bandung-Jakarta is only 2 hours.
More over, I and Sha will still be in Bandung until I get a new job.
Who's happy now? Guess???? :p
He should have been in Bandung by Mid July.
You know, today, Bandung-Jakarta is only 2 hours.
More over, I and Sha will still be in Bandung until I get a new job.
Who's happy now? Guess???? :p
Sunday, June 18, 2006
Green street hooligans-DVD review
Sebuah alternatif pilihan tontonan buat penggemar sepakbola. Tapi bukan contoh yang baek buat bonek2 Indonesia...
Namun demikian, ada beberapa message yang saya ambil :
1.bahwa kita harus membela apa yang kita percayai. STAND YOUR GROUND and FIGHT!
2.dari kata2 elijah wood,"You know the best part? It isn't knowing that your friends have your back. It's knowing that you have your friends' back." Masih ada ga siyyyy yang kayak gini di kehidupan nyata....
3.ada waktunya untuk mempertahankan sesuatu dan melepaskannya..."There is a time to stand your ground and time to walk away"

"A well-intentioned but ultimately calamitous attempt to analyse the so-called 'English disease.'"
-- Neil Smith, BBC
"Authenticity lends a sharp edge to what would otherwise be yet another gritty drama about British yob culture."
-- Rich Cline, SHADOWS ON THE WALL
"A feature-length folly about the terrors and self-affirming joys of football (that is, soccer) hooliganism."
-- Manohla Dargis, NEW YORK TIMES
"The message is that violence is hard-wired into men, if only the connection is made."
-- Roger Ebert, CHICAGO SUN-TIMES
Namun demikian, ada beberapa message yang saya ambil :
1.bahwa kita harus membela apa yang kita percayai. STAND YOUR GROUND and FIGHT!
2.dari kata2 elijah wood,"You know the best part? It isn't knowing that your friends have your back. It's knowing that you have your friends' back." Masih ada ga siyyyy yang kayak gini di kehidupan nyata....
3.ada waktunya untuk mempertahankan sesuatu dan melepaskannya..."There is a time to stand your ground and time to walk away"

"A well-intentioned but ultimately calamitous attempt to analyse the so-called 'English disease.'"
-- Neil Smith, BBC
"Authenticity lends a sharp edge to what would otherwise be yet another gritty drama about British yob culture."
-- Rich Cline, SHADOWS ON THE WALL
"A feature-length folly about the terrors and self-affirming joys of football (that is, soccer) hooliganism."
-- Manohla Dargis, NEW YORK TIMES
"The message is that violence is hard-wired into men, if only the connection is made."
-- Roger Ebert, CHICAGO SUN-TIMES
Tuesday, June 06, 2006
What was left to lose?
Time was when I put trust in friendship and how I appreciated the relationship.
A golden band of trust that bound us.
Guess that I was too naive.
Whilst everybody was looking for their life jacket.
Wish you health and wealth.
The only thing I could say.
All was gone.
A golden band of trust that bound us.
Guess that I was too naive.
Whilst everybody was looking for their life jacket.
Wish you health and wealth.
The only thing I could say.
All was gone.
Friday, June 02, 2006
Jiffest oh Jiffest
Sejak hidup sendirian di Jakarta, sebagai perantau, saya kerap berusaha mencari hiburan alternatif untuk mengusir sepi dan kejenuhan bekerja. Walaupun Jakarta punya seabrek mal atau super mal, ternyata saya pada akhirnya mencapai titik jenuh sebagai window shopper apalagi compulsive shopper.

Saya kemudian menemukan komunitas Sahabat Museum dan JIFFEST. Yang pertama, akan saya ceritakan di lain kesempatan, sekarang saya mau cerita dikit tentang yang kedua saja. Saya memang dari dulu hobi nonton pelem :p. Zaman pacaran, bioskop adalah tujuan utama kencan hehehe... Pokoknya setiap film baru, apalagi saya tertarik atau reviewnya menarik pasar pasti saya kejar. Setelah era DVD, saya lebih seneng menonton di rumah. Tapi makin lama makin bosen....film2 hollywood yang benar2 ditujukan untuk industri (maksudnya selera pasar bangeeet) rasanya polanya sudah bisa saya tebak.
Di Jiffest, saya menemukan hal berbeda. Disini saya menemukan film sebagai media ekspresi berkesenian. Film2nya berasal dari berbagai negara dari Eropa hingga India. Topiknya pun sangat beragam. Filmnya kadang film independent ataupun dokumenter. Seru deh pokoknya. Saya juga rela mengantri tiket atau malah pesan tiket in advance.
Sayangnya, saya ketinggalan Jiffest 2005 lalu karena sibuk dengan persiapan ke Oz. Jadi bayangin betapa bahagianya saya saat saya tahu ternyata ada Jiffest & Screendocs! Traveling di Bandung. GRATIS PULA!!!!
Duhhhh, senangnya bisa menonton dua film...."Peace One Day" dan "The Bride Kdnapping in Kyrgyztan". Film yang terakhir ini film dokumenter yang menarik. Sebagai perempuan, saya miris melihat kenyataan yang terjadi hingga kini di Kyrgyztan (negara ini ada di perbatasan Cina dan Rusia, dulu ada di bawah Uni Soviet) dimana kaum lelaki dan keluarga yang tidak mampu memberikan mas kawin kepada perempuan yang disukai akan menculik dan menikahi paksa perempuan2 tersebut. So mean....
Walaupun masih ada dua film bagus yang saya lewatkan dengan berat hati("Taegukgi" dari Korea dan "The Grand Voyage" dari Maroko), Jiffest and Screendocs! Traveling 2006 cukup mengobati sakaw :p saya setelah melewakan Jiffest 2005 lalu.
Untuk info mengenai Jiffest dan aktivitas lainnya, klik aja www.jiffest.org
Saya kemudian menemukan komunitas Sahabat Museum dan JIFFEST. Yang pertama, akan saya ceritakan di lain kesempatan, sekarang saya mau cerita dikit tentang yang kedua saja. Saya memang dari dulu hobi nonton pelem :p. Zaman pacaran, bioskop adalah tujuan utama kencan hehehe... Pokoknya setiap film baru, apalagi saya tertarik atau reviewnya menarik pasar pasti saya kejar. Setelah era DVD, saya lebih seneng menonton di rumah. Tapi makin lama makin bosen....film2 hollywood yang benar2 ditujukan untuk industri (maksudnya selera pasar bangeeet) rasanya polanya sudah bisa saya tebak.
Di Jiffest, saya menemukan hal berbeda. Disini saya menemukan film sebagai media ekspresi berkesenian. Film2nya berasal dari berbagai negara dari Eropa hingga India. Topiknya pun sangat beragam. Filmnya kadang film independent ataupun dokumenter. Seru deh pokoknya. Saya juga rela mengantri tiket atau malah pesan tiket in advance.
Sayangnya, saya ketinggalan Jiffest 2005 lalu karena sibuk dengan persiapan ke Oz. Jadi bayangin betapa bahagianya saya saat saya tahu ternyata ada Jiffest & Screendocs! Traveling di Bandung. GRATIS PULA!!!!
Duhhhh, senangnya bisa menonton dua film...."Peace One Day" dan "The Bride Kdnapping in Kyrgyztan". Film yang terakhir ini film dokumenter yang menarik. Sebagai perempuan, saya miris melihat kenyataan yang terjadi hingga kini di Kyrgyztan (negara ini ada di perbatasan Cina dan Rusia, dulu ada di bawah Uni Soviet) dimana kaum lelaki dan keluarga yang tidak mampu memberikan mas kawin kepada perempuan yang disukai akan menculik dan menikahi paksa perempuan2 tersebut. So mean....
Walaupun masih ada dua film bagus yang saya lewatkan dengan berat hati("Taegukgi" dari Korea dan "The Grand Voyage" dari Maroko), Jiffest and Screendocs! Traveling 2006 cukup mengobati sakaw :p saya setelah melewakan Jiffest 2005 lalu.
Untuk info mengenai Jiffest dan aktivitas lainnya, klik aja www.jiffest.org
Friday, May 26, 2006
BONBIN, family day (a thought and experience)

Sebentar lagi Sha genap 10 bulan. Selain giginya yang sudah 3 buah, Sha juga sudah mulai belajar berdiri-berbicara, mulai mengenal wajah, mulai memiliki kemampuan bersosialisasi dan mengenal binatang. Terinspirasi dari "kehebohan" Sha melihat anak ayam saat di rumah Oom di Banjaran baru2 ini, saya berinisiatif melakukan family day ke Bonbin Bandung hehehe. Boleh deh komen apa aja tentang ide ini. Saya juga sebenernya ga terlalu happy untuk ke Bonbin Bandung. Kondisinya yang kurang terawat, binatangnya yang terlihat "layu" memang bikin males. Zaman belum punya anak, saya dan Feming malesnya berjuta kali kalau harus ke sini. Tapi bagaimanapun mengajarkan anak akan dunia luar rumah (selain mall dan rumah eyang!) serta mengajarkan anak untuk mencintai binatang harus dimulai sejak dini.

Jangan coba2 bandingin bonbin Bandung ama bonbin di luar negeri!!! Nanti bisa bete. Kami siyy cukup mengelus dada melihat penunjuk lokasi yang tidak jelas.... Jadi inisitippppp aja nyari sendiri, sugan panggih :p Ya untungnya Sha masih kecil, jadi kami memilih binatang2 besar seperti gajah, unta, jerapah untuk dilihat. Selain itu juga kami mengunjungi kandang2 beberapa binatang yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti ayam dan burung (sambil berdoa dalam hati semoga kami sekelurga sehat dan dijauhkan dari virus flu burung hiiiii amit2). So far, Sha cukup senang dan tertarik dengan gajah dan unta. Dia paling antusias saat si gajah (tua) itu mengulurkan belalainya. Saat kami sudah menjauh dari kandang gajah pun, Sha masih menunjuk2 ke arah kandang gajah tersebut. Buat saya sendiri, saya sangat terkesan dengan ayam jambul hehe. Menurut saya siyyy, jambulnya itu mirip rambut ala mohawk anak2 punk.... sedangkan Erwin (adik saya yang kebetulan ikut) punya opini lain. Katanya siyyy, ayam jambul itu mirip James Brown!

O,ya di bonbin ini banyak juga arena bermain (seperti mobil2an dan kereta api-kereta apian). Hal ini membuat kami sempat mengerutkan kening....bukan apa2 siy tapi rasanya tujuan ke bonbin jadi bias. Anak2 usia batita ke atas jadi sibuk bermain, sehingga mungkin saja melupakan esensi dari kunjungan ke bonbin itu sendiri. Apalagi arena2 tersebut tidak tematik atau memiliki relevansi dengan binatang dan konservasi. jadi, kalau Sha sudah lebih besar, rasanya harus dipertimbangkan lagi bagaimana bijaknya mengajak dia kemari. Taela...serius banget ya ogut. Ya beginilah...si IRT tea geuning. Makin banyak waktu di rumah, mencoba mencari tahu prilaku anak dan mencari pengetahuan tentang anak dan psikologinya. Orang tua mana siyyy yang gak pengen memberi anaknya yang terbaik?
Friday, May 05, 2006
Ketika semuanya sakit...
Udara lagi jelek banget. Panas terik bentar, hujan deras. Jakarta atau Bandung sama saja. Semua di rumah Bandung pada sakit. Setelah minum antibiotik yang cukup keras, flu dan batuk baru mulai membaik. Suara yang hilang mulai muncul,sedikit parau. Untuk Sha, bukan cuma flu dan batuk, tapi diare lebih dari dua minggu. Sha juga sempet panas sampai di atas 39 derajat. Sha yang tadinya lincah tiba2 jadi diem, lemes, ga berdaya.
Rencana ke Jakarta tertunda lebih dari dua minggu. Rencana wawancara kerja tertunda. Rencana konsultasi sekolah tertunda. Kerjaan menulis lab profile Fikom UNPAD berjalan lebih lambat. Yang ga bisa ditunda, menghadap ke biro kepegawaian di Pemkot dan ngambil surat mutasi Feming ke Bandung. Mudah-mudahan...paling gak ada yang bergerak maju...
Rencana ke Jakarta tertunda lebih dari dua minggu. Rencana wawancara kerja tertunda. Rencana konsultasi sekolah tertunda. Kerjaan menulis lab profile Fikom UNPAD berjalan lebih lambat. Yang ga bisa ditunda, menghadap ke biro kepegawaian di Pemkot dan ngambil surat mutasi Feming ke Bandung. Mudah-mudahan...paling gak ada yang bergerak maju...
Monday, May 01, 2006
Melaka (2)

Perjalanan kami di Melaka masih berlanjut. Kami menuju ke replika Melaka Sultanate Place, sebuah bangunan rekonstruksi yang dibangun di kaki bukit St Paul. Replika ini kabarnya benar2 menggambarkan istana Sultan Melaka di abad ke-16. Menurut saya, gaya arsitekturnya tidak jauh dengan gaya bangunan2 kesultanan di Indonesia, terutama kesultanan yang terletak di daerah Pesisir, seperti di Sulawesi dan terutama Sumatra. Gedung ini sendiri sekarang menjadi Museum Budaya Melaka yang banyak memamerkan artefak2 dari masanya.


Dari replika Istana Sultan Melaka, kami naik ke atas bukit St.Paul. Di sini kami menemukan gereja (kalau masih bisa dibilang gereja karena sebenernya sudah hampir kehilangan bentuk) St Paul, dulunya merupakan Gereja Katolik Portugis. Pada zaman Belanda, di sini dikuburkan banyak tokoh2 terkemuka mereka. Yang masih banyak tertinggal adalah tombstones dengan inscriptions Latin dan Portugis.


Berjalan turun dari Gereja St Paul kami menyusuri bukit menuju A' Famosa melalui banyak kuburan2 tua Belanda....*untungnya siang bolong!kalo malem....wah udah uji nyali kaleey*. A'Famosa lagi2 tinggal ruins-nya saja (reruntuhan). Ya...kalo mau dibilang masih ada, hanyalah entrancenya saja. A'Famosa tadinya merupakan fortress yang dibangun Portugis setelah Portugis menguasai Melaka, namun kemudian hancur saat Belanda melakukan invasi.

Melaka memang memiki sejarah yang kaya. Mulai dari awal saat Melaka ditemukan oleh Pangeran dari Sumatra (bukan! Bukan Feming! Dia mah menemukan sayahhh :p)yaitu Prameswara sampai kemudian dijajah Portugis pada tahun 1500an, dijajah Belanda pada tahun 1600an hingga lama kemudian dijajah Inggris hingga kemudian merdeka. Namun demikian di Melaka ini dikenal banyak sekali peranakan Melayu dan Cina. Hal ini tercermin dari gaya arsitektural, budaya, dan kuliner. Karena itu kami berdua sempat mencoba hidangan khas Baba dan Nyonya di salah satu restoran di pinggir Sungai. Di Sungai ini tampak beberapa perahu dayung dan gudie lokal yang menyediakan jasa mengelilingi Melaka melewati Sungai. Walaupun, saya sangat senang menyusuri kota melalui kanal/sungai, kali ini saya ga terlalu berminta. Maaf...ehem...kalinya coklat dan banyak sampah. Hehe....takut kecebur dan keminum airnya gituh ;( kalo boleh milih siy mendingan minum air sungai Thames aja deh.... ;p


Perjalanan kami harus berakhir di sini. Sayang sekali, kami belum sempat mengunjungi Maritime Museum, Baba dan Nyonya Museum serta Kampung Keling....*sedih*
Tuesday, April 11, 2006
Melaka (1)
Dari awal perjalanan, kami berdua sudah mempertimbangkan untuk melongok Melaka. Saat tiba di hotel dan melihat paket tur ke Melaka...wuiiihhh kami langsung terjengkang hehehe.... Tadinya kami berpikir untuk ikut tur supaya menghemat waktu, tapi kalo hitung punya hitung biaya tur = 4 x biaya kalo kami berangkat sendiri... ya akhirnya tentu saja kami pilih berangkat sendiri.
Perjalanan ke Melaka hanya 2 jam dengan bis dari Hentian Puduraya di KL. Banyak pilihan bis di sini. Walaupun gedung stasiun bis ini jauh lebih tuwir dari terminal Kampung Rambutan (JKT) atau Leuwi Panjang (BDG) tapi Hentian Puduraya jauh lebih bersih (banget) dan teratur. Jadi, kami sama sekali ga kesulitan untuk memilih bis dan membeli tiket yang kurang dari 10 RM per orang. Bisnya juga sangat nyaman....dan tenang....Ga ada yang ngamen,ga ada yang jualan jeruk, ga ada pengemis,ga ada yang nawarin tabloid infotaiment....(bayangin suasana saat kita masuk bus di terminal di Indonesia hehehe). Karcis pun sudah dibeli di loket dan diberi nomor duduk.



Begitu sampai di terminal bus di Melaka, kami langsung menuju information centre untuk mendapatkan peta Melaka. Dari sini kami naik town bus (seharga sekitar 80 sen saja) dan langsung turun di red square yang terkenal. Red square ini dikenal juga dengan sebutan dutch square. Kenapa disebut red square? Karena gedung2 di central point ini dicat merah semua. Di sini terdapat 2 gedung tua, yaitu Christ Church dan Stadhuys. Selain itu, juga terdapat clock tower dan Victorian Fountain (fountain ini merupakan persembahan rakyat Melaka kepada Queen Victoria di tahun 1904).
Christ Church sendiri merupakan gereja protestan yang dibangun saat Belanda menjajah Melaka. Ada sedikit perubahan yang dibuat oleh Inggris setelah mereka merebut kembali Melaka dari Belanda. Melaka, karena letaknya yang strategis dan memiliki nilai eknomik yang tinggi mengalami 4 penjajah yang berbeda: Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. No wonder jika saat ini terlihat banyak sekali peninggalan sejarah dengan gaya arsitektur yang berlainan.
Stadhuys adalah town hall, umurnya sudah 340 tahun. Kini gedung ini digunakan sebagai muzium sejarah dan etnografi. Menurut saya sih, lebih grande stadhuys di oude Batavia (kini dikenal dengan museum Fatahillah).


Di belakang stadthuys ini ada Galeri Laksamana Cheng Ho. Tepatnya di antara muzium sastra, muzium pemerintahan demokrasi, dan muzium sejarah dan etnografi (nagunan stadthuys.) Cheng Ho adalah Tionghoa Muslim yang hidup sekitar 6 abad lalu. Cheng Ho sudah menjelajah antar benua selama 7 kali berturut2 selama 28 tahun jauh sebelum Columbus dan Vasco Da Gama menjelajah dunia. Cheng ho juga dikabarkan turut menyebarkan Islam. Cheng Ho juga sempat mampir di Nusantara, seperti di Bangka, Tuban, dan Semarang. Salah satu anak buah armadanya juga merupakan cikal bakal keturunan Tiong Hoa di Semarang dan membangun kuil Sam Po Kong.
Sebenernya siy saya agak kecewa dengan galeri ini. Karena ternyata ga banyak peninggalan Cheng Ho di sini. Paling hanya replika kapal, peta perjalanan Cheng Ho, sedikit mengenai silsilah keluarga, dan beberapa dokumentasi dalam peringatan 100tahun Cheng Ho.
Di Indonesia sendiri, kini Cheng Ho sudah semakin harum namanya (ga ngalagin Ibu Kartini siyyyy). Sudah mulai banyak peringatan dan tulisan mengenai Cheng Ho. National Geographic juga sempat mengeluarkan tulisan mengenai Cheng Ho di salah satu edisinya belum lama ini.
Perjalanan ke Melaka hanya 2 jam dengan bis dari Hentian Puduraya di KL. Banyak pilihan bis di sini. Walaupun gedung stasiun bis ini jauh lebih tuwir dari terminal Kampung Rambutan (JKT) atau Leuwi Panjang (BDG) tapi Hentian Puduraya jauh lebih bersih (banget) dan teratur. Jadi, kami sama sekali ga kesulitan untuk memilih bis dan membeli tiket yang kurang dari 10 RM per orang. Bisnya juga sangat nyaman....dan tenang....Ga ada yang ngamen,ga ada yang jualan jeruk, ga ada pengemis,ga ada yang nawarin tabloid infotaiment....(bayangin suasana saat kita masuk bus di terminal di Indonesia hehehe). Karcis pun sudah dibeli di loket dan diberi nomor duduk.



Begitu sampai di terminal bus di Melaka, kami langsung menuju information centre untuk mendapatkan peta Melaka. Dari sini kami naik town bus (seharga sekitar 80 sen saja) dan langsung turun di red square yang terkenal. Red square ini dikenal juga dengan sebutan dutch square. Kenapa disebut red square? Karena gedung2 di central point ini dicat merah semua. Di sini terdapat 2 gedung tua, yaitu Christ Church dan Stadhuys. Selain itu, juga terdapat clock tower dan Victorian Fountain (fountain ini merupakan persembahan rakyat Melaka kepada Queen Victoria di tahun 1904).
Christ Church sendiri merupakan gereja protestan yang dibangun saat Belanda menjajah Melaka. Ada sedikit perubahan yang dibuat oleh Inggris setelah mereka merebut kembali Melaka dari Belanda. Melaka, karena letaknya yang strategis dan memiliki nilai eknomik yang tinggi mengalami 4 penjajah yang berbeda: Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. No wonder jika saat ini terlihat banyak sekali peninggalan sejarah dengan gaya arsitektur yang berlainan.
Stadhuys adalah town hall, umurnya sudah 340 tahun. Kini gedung ini digunakan sebagai muzium sejarah dan etnografi. Menurut saya sih, lebih grande stadhuys di oude Batavia (kini dikenal dengan museum Fatahillah).


Di belakang stadthuys ini ada Galeri Laksamana Cheng Ho. Tepatnya di antara muzium sastra, muzium pemerintahan demokrasi, dan muzium sejarah dan etnografi (nagunan stadthuys.) Cheng Ho adalah Tionghoa Muslim yang hidup sekitar 6 abad lalu. Cheng Ho sudah menjelajah antar benua selama 7 kali berturut2 selama 28 tahun jauh sebelum Columbus dan Vasco Da Gama menjelajah dunia. Cheng ho juga dikabarkan turut menyebarkan Islam. Cheng Ho juga sempat mampir di Nusantara, seperti di Bangka, Tuban, dan Semarang. Salah satu anak buah armadanya juga merupakan cikal bakal keturunan Tiong Hoa di Semarang dan membangun kuil Sam Po Kong.
Sebenernya siy saya agak kecewa dengan galeri ini. Karena ternyata ga banyak peninggalan Cheng Ho di sini. Paling hanya replika kapal, peta perjalanan Cheng Ho, sedikit mengenai silsilah keluarga, dan beberapa dokumentasi dalam peringatan 100tahun Cheng Ho.
Di Indonesia sendiri, kini Cheng Ho sudah semakin harum namanya (ga ngalagin Ibu Kartini siyyyy). Sudah mulai banyak peringatan dan tulisan mengenai Cheng Ho. National Geographic juga sempat mengeluarkan tulisan mengenai Cheng Ho di salah satu edisinya belum lama ini.
Tuesday, April 04, 2006
KL (4)


Menara KL
Dari kamar kami di hotel, kami mendapatkan view Menara KL. Saya dan Feming senang sekali memandanginya di saat malam. Karena kalau malam, menara komunikasi tertinggi ke-4 di dunia ini terlihat lebih cantik. Terutama lampu2 dari bagian bundar yang terletak di puncaknya.
Menara KL merupakan salah satu landmark Malaysia. Menara ini tingginya 421 meter dan selesai dibangun pada tahun 1995-1996. Dari observation deck, kita dapat menikmati view KL. Saat itu, saya dan Feming, sengaja memilih waktu malam hari untuk ke menara ini karena ingin menikmati city light. Walaupun badan cape banget karena baru saja kembali dari Malaka (lengkap dengan minyak2 di wajah :p) kami datang dengan penuh semangat. Cayoooooo.....
Dari pintu gerbang, kami menggunakan shuttle bus menuju menara. Kalo ga, pasti gempor, karena jalan ke atas ini cukup menanjak tajam dan berkelok2.
Memasuki lobby level, makin jelas bagi kami bahwa menara ini merefleksikan arsitektural Islam yang cukup kental. Saat masuk (setelah menunjukkan tiket dan sebelum naik ke lift) di langit2 kami menemukan muqarnas (ini merupakan kerajinan dari kaca. kalo saya ga salah ini merupakan kerajinan khas dari timur tengah), yang merefleksikan berlian besar yang menggambarkan 7 lapisan (layer) langit.
Di observation deck ini kami dapat menggunakan teropong dan audio tour secara cuma2 *asa diulangtaunkeun nemu nu haratis mah hehe* Dari sini kami berdua menemukan hotel tempat kami menginap, Hentian Puduraya, Menara Petronas dan banyak tempat lainnya.
Di puncak Menara KL ada Seri Angkasa Revolving Restaurant. Sayang sekali kami berdua tidak bisa makan malam di sana. Karena untuk masuk, kami harus mengenakan sepatu dan berpakain sopan (hehehe aye mah turis...pake sendal jepit dan kaos oblong ;p)



Menara Petronas dan KLCC
Malaysia kayaknya gemar banget bikin rekor. Saya ga tau pasti kenapa. Dugaan saya siy mungkin untuk memberi "jalan" kepada promosi negara ini ke publik. Coba aja lihat setelah Menara Petronas tidak lagi menjadi menara tertinggi di dunia (kalah oleh Taipei 101), mereka sekarang mengklaim dari sudut yang lain yaitu bahwa menara ini menara kembar tertinggi dunia. Kalau di kemudian hari ada menara lain yang lebih tinggi, mungkinkah mereka akan mengklaim menara ini sebagai menara berarsitektur islam tertinggi di dunia? :p... hmmm retoris ajah!
Menara Petronas tingginya 452m. Menara satu merupakan kantor pusat Petronas, sedangkan menara dua disewakan kepada banyak perusahaan seperti Microsoft, IBM, dan Bloomberg. Lantai gedungnya merupakan segi delapan yang merefleksikan seni Islam. Saya lupa pastinya berapa lantai yang ada di menara ini, yang pasti jembatan langit /skybridge (menghubungkan kedua menara) ada di lantai 41 dan 42. Pengunjung dapat naik ke jembatan ini secara cuma2 asalkan rela mengantri. Selama antri, kita dapat menikmati berbagai alat peraga yang berhubungan dengan teknis menara ini. Misalnya ada kurungan faraday (ini menjelaskan bagaimana metode kumparan faraday di atas menara ini dapat mencegah menara dari sambaran listrik). Huh...asa kembali ke kelas fisika zaman sma (ehemmmm inget Pak BE, guru fisika yang cute :p).
Di bagian bawah menara, terdapat KLCC, pusat perbelanjaan yang cukup bergengsi di KL. Dalamnya sih, menurut saya, gak jauh beda ama Plaza Indonesia. Begitu juga dengan brand2 yang ada (kecuali ISETAN--departmen store asal jepang ini merupakan major tenant KLCC). Yang paling menarik cuma sale Vincci yang memang sedang berjalan di KLCC dan berbagai mall di KL saat itu. Haussss....haus...... :)
Di luar KLCC, terdapat taman, trek jogging, kolam air mancur dengan lansekap yang menarik saat dilihat dari skybridge.
Selain KLCC, di bagian bawah menara terdapat Dewan Filharmonik Orkestra Petronas dan Science Centre.
Note: Kami berdua tidak terlalu puas dengan hasil kunjungan kami ke Menara Petronas. Menurut kami, view dari Menara KL lebih indah..apalagi kalo sempat trekking di taman sekitar menara.
Sunday, April 02, 2006
KL (3)


Indian Cuisine at NAGAS
Walaupun Malaysia merupakan negara dengan etnis Cina terbanyak di Asia Tenggara, etnis India juga merupakan salah satu etnis yang cukup banyak terlihat di sini. Saya tidak tahu pasti kenapa, dan apakah ini ada kaitannya dengan Malaysia sebagai salah satu negara bekas jajahan Inggris.
Well, saya dan Feming akhirnya bertemu dengan Ramesh. Teman kami yang berdarah India ini bermaksud mengenalkan masakan khas India kepada kami. Di Indonesia masakan India memang tidak terlalu populer. Malam itu, kami menuju NAGAS, salah satu restoran India, tidak jauh dari little india.
Malam itu Feming memilih daging kambing muda (hmmm....pantesan malemnya hot ;p) dan diberi bumbu seperti rendang dan nasi (Feming sangat susah lepas dari nasi ;p) yang rupanya mirip dengan nasi kuning. *Seingat saya, Ramesh menyebut daging kambing muda sebagai acen atau ancen*
Pilihan saya adalah roti nan dengan keju (roti nan ini bisa plain, bisa diberi bawang dan banyak variasi lainnya) dipadukan dengan bumbu kuning dan ayam tandoori.
Mau tanya apa rasanya? Hmmmm untuk saya (yang selalu nrimo dengan berbagai jenis makanan apapun) not badlah for a beginner. Untuk Feming? hihihihi komentarnya siy haru biru...karena rupanya si daging kambing tadi berbumbu kari (lagi!) We have to try anyway, hubby! :D
Ramesh sendiri orangnya sangat sopan dan educated. Agak berbeda dengan kami yang cewawakan dan cuek. Sayang sekali istri dan anaknya berhalangan hadir. Moga2 ada kesempatan berikutnya dimana kami (laen kali bersama Sha) bisa bertemu lagi dengan Ramesh dan keluarga.
Di sekitar Little India, sebenarnya tidak ada sesuatu yang khusus untuk dilihat. paling2 (lagi2) market yang berisi berbagai macam barang semisal rolex seharga 10 RM :p Dari mobil Ramesh yang melewati beberapa toko India malam itu, rasanya saya masih bisa mencium aroma spices India dan bunga2 yang digunakan untuk mereka bersembahyang.


Saat mengantar kami kembali ke hotel, Ramesh menunjukkan Dataran Merdeka kepada kami. Di sekitar sini, kami melihat banyak gedung tua yang menarik. Antara lain Sultan Abdul Samad Building dan Mesjid Jamek. Gedung ini merupakan kombinasi arsitektur victorian dan moorish. Cantik sekali.....
Wednesday, March 29, 2006
KL (2)

China Town
Sebelum kami berangkat ke KL, saya sempat menemukan info mengenai China Town di KL dimana terdapat Petaling Street yang terkenal. Terus terang, saya dan Feming agak kecewa juga pada saat akhirnya menemukan Jalan Petaling ini. Ga sesuai rekomendasi gitu...
Di sekitar China Town ini keadaannya crowded banget, ga siang dan ga malam. Letaknya dekat sekali dengan Hentian Puduraya (salah satu terminal bis utama di KL) dan Central Market (tempat belanja suvenir murahan). Kondisi Jalan Petaling sangat mirip dengan China Town di Sydney. Atau lebih gampang lagi Pasar Baru di Jakarta. Bedanya, kalo di Pasar Baru banyak India kalo di sini ya jelas banyak orang Cina dan tulisan Mandarin dimana2. Di sepanjang Jalan Petaling, banyak sekali toko-toko yang berjualan beraneka jenis barang-barang palsu....(i believe it's kinda fake PRADA bags, fake ADIDAS jackets and many more fake goods). Terus terang barang2 gini ga menarik buat saya yang biasa tinggal di Indonesia. Bukan artinya saya mampu dan biasa beli yang asli. Tapi di JKT barang2 ginian ga kalah serunya. Guess that I feel enough with all those ITCs in JKT, Tanah Abang, or Pasar Ular. Untuk Feming sendiri, hehe dia memang ga terlalu silau ama merek kecuali dia ngeceng berat ama modelnya.
Kalau malam, Jalan Petaling ini benar2 tertutup dengan kios2 bertenda biru. Dagangannya sih sama ama yang siang tadi, cuma sekarang karena pedagangnya lebih banyak ya jadi jauh lebih penuh aja. Sehingga kalo kita mau lewat...kita benar2 harus berjalan di antara pedagang, barang dagangan, dan calon pembeli. Ripuh!
Satu hal yang saya suka dari barang dagangan di sini cuma suvenir hehehe. Walaupun Central Market dikatakan sebagai pusat suvenir (dari jumlah ragam dan harganya yang bersaing), tapi pengalaman saya menunjukkan bahwa belanja suvenir di sini harganya bisa jauh lebih murah. Resepnya, teken aja terus penjualnya hehehe (read: bargain hard).

Kebetulan saat pertama kali mengunjungi China Town adalah saat jam makan siang. Jadi kami sekalian aja mencoba salah satu food court yang ada dan mencoba menu terkenal Malaysia, yaitu Nasi Lemak. Wuiiihh....Feming ga tahan dengan aroma kari yang sangat kental pada ayamnya. Nasi lemak ini lebih kurang mirip dengan nasi uduk. Tapi nasi lemak ini biasanya berpasangan dengan kari. Saya sendiri ga keberatan dengan kari asal ga terlalu sering aja. Saat malamnya, kami kembali ke Jalan Petaling mencoba memilih dari sekian banyak kios yang ada (sebagaimana digembar-gemborkan banyak pihak katanya enak2 dan murah). Damn the review! Kita makan sate kambing dan ketupat dengan harga 10RM. Puihhhhhh...rasanya manis...ketupatnya keras kayak batu (kayaknya kebanyakan kapur). Feming marah berat....karena perutnya udah laper banget. Akhirnya kita berjalan ke Puduraya dan Feming makan nasi kampong dengan pilihan sardin :( *cari aman, jek!*
Di sekitar China Town-Hentian Puduraya-Central Market tergambarlah apa yang dikatakan Malaysia sebagai truly Asia. Di sini kita akan menemukan etnis Melayu, India, dan Cina berbauran. Bahasa yang digunakan pun beragam. Jadi terkadang kalau kami tanya arah jalan pakai Bahasa Inggris...eh di jawab pakai Bahasa Melayu. Atau kadang saat kami tanya pakai Bahasa Melayu...eh yang ditanya ge ngerti...dan saat kami ganti lagi ke Bahasa Inggris ternyata ga ngerti juga...Rupanya ngertinya Bahasa Mandarin doang! *maappppp....les bahasa mandarinnya berhenti,Ci!*
Thursday, March 23, 2006
KL (1)
Sudah lama, saya dan Feming "termakan" campaign Turisme Malaysia, Truly Asia. Jadi pada kesempatan liburan tahunan kali ini kami memutuskan untuk mengunjungi KL dan Malaka.

Perjalanan kami pada awal Maret lalu, dimulai dengan KLIA, Bandara yang memiliki desain modern dan hi-tech. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah transit di sini. Makanya saya cukup heran saat tiba di bandara ini dan tidak menemukan toko2 duty free yang beragam dan menarik :p. Setelah saya lebih teliti lagi, ternyata terminal saya sekarang ini berbeda dengan terminal transit saya dulu (berbeda gedung). Untuk berpindah ke gedung lain tersebut, saya dapat menggunakan aerotrain, free of charge.
KLIA sendiri, setahu saya, dibangun oleh seorang arsitek asal Jepang dan mulai beroperasi di tahun 1998. Dengan arsitektur dan fasilitas modern, airport ini pantas bersaing dengan Changi.

Dari airport, kami menuju hotel di area bukit bintang dengan menggunakan bus. Banyak sekali moda transportasi yang sebenarnya dapat dipilih, seperti express rail link, shuttle bus menuju Hentian Duta, dan lain sebagainya. Sebagai budget traveller, kami memilih naik bus menuju Stasium KTM (Kereta Api Tanah Melayu) terdekat, yaitu stasiun NILAI. Dengan sekitar 5 ringgit berdua, kami sampai di sana dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun KL Sentral. Total lama perjalanan yang kami tempuh dari KLIA yang terletak di Sepang menuju KL adalah hampir 2 jam.
Dalam perjalanan menuju stasiun NILAI, kami melihat Malaysia "buhun". Maksudnya, saat nanti kami sampai di kota KL, kami akan menemukan kota yang modern, maju, hi-tech, di mana Malaysia seakan telah berubah menjadi negara yang maju dengan demokrasi ekonomi yang tidak semata2 mengandalkan perkebunan dan pertambangan. Tapi dalam perjalanan ini, kami menemukan hamparan tanah putih yang mengandung timah, perkebunan kelapa sawit yang luas dan perkampungan-perkampungan sub urban yang teratur. Kalau diperhatikan sekilas, alam, bentuk rumah, dan cuaca persis sekali dengan Sumatra.
Sepanjang perjalanan ini, kami bersama2 dengan 2 turis asal Prancis. Ga tau juga siapa yang ngikutin siapa, yang jelas lumayan aja, ada sedikit teman seperjuangan, apalagi dia bawa buku travelling yang bisa dijadikan guide (wuihh...isinya seluruh dunia looo.....pasti mahal :p). O, ya di Malaysia ini kami sering juga menemukan orang berbahasa Indonesia dan Jawa. Jadi saat saya dan Feming ingin ngerumpi, kami memutuskan menggunakan Bahasa Sunda hehehe Insya Allah lebih aman...
Dari KL Sentral kami masih harus menggunakan LRT dan monorail menuju Bukit Bintang. Menemukan hotel juga bukan perkara yang sulit, karena di depan stasiun monorail bukit bintang ada kios informasi yang menerangkan lokasi sekaligus memberikan peta dan brosur cuma-cuma (bayangin kalo harus beli buku travelling guide kayak londo dari prancis tadi :p).
Daerah Bukit Bintang ini sendiri dikenal dengan banyaknya pertokoan, cafe, dan restauran. Bayangin, baru turun dari stasiun monorail aja udah disambut ama Lot 10 di sebelah kiri :p kemudian ada juga mall lain2 seperti Sungai Wang, BB, Plaza Low Yat, Debenhams, dan masih banyak lagi. Di sini juga terletak Planet Hollywood dan beberapa diskotek, bagi mereka yang pengen keluar malem. Sayangnya, malam ini kami ada janji untuk kopi darat dengan teman India kami, Ramesh.
Di seputar hotel, di jalan Tengkat Tong Shin, juga banyak cafe2 kecil dan hawker stalls. Yang ditawarkan beragam, dari mulai masakan kampong (masakan Melayu yang mirip dengan masakan Sumatra), masakan cina, masakan vietnam, masakan Baba dan Nyonya, duren, baso tulang, dan masih banyak lagi. Jadi 24 jam sehari kami tidak perlu takut kelaparan. Apalagi toko 7-11, yang kalo di Oz cepet banget tutup...,di sini buka 24 jam.
Di sekitar hotel kami juga banyak hostel yang bisa menjadi alternatif bagi para backpakers. Kebanyakan, cafe2 dan hostel2 ini menggunakan bangunan 2 tingkat yang sangat kental arsitektur cinanya (2 bad, i did not take a picture). Di depan bangunan ini (di trotoarnya) juga ada semacam kotak (seperti kotak pos di Indonesia tapi terbuka di salah satu sisinya) dimana dipasang peralatan sembahyang (hio). Hal serupa ini juga saya temukan di Bangka, daerah yang kental dengan keturunan Cina. Bedanya kalau di Bangka, biasanya rata2 rumah warga keturunan memiliki kuil kecil sendiri.

Perjalanan kami pada awal Maret lalu, dimulai dengan KLIA, Bandara yang memiliki desain modern dan hi-tech. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah transit di sini. Makanya saya cukup heran saat tiba di bandara ini dan tidak menemukan toko2 duty free yang beragam dan menarik :p. Setelah saya lebih teliti lagi, ternyata terminal saya sekarang ini berbeda dengan terminal transit saya dulu (berbeda gedung). Untuk berpindah ke gedung lain tersebut, saya dapat menggunakan aerotrain, free of charge.
KLIA sendiri, setahu saya, dibangun oleh seorang arsitek asal Jepang dan mulai beroperasi di tahun 1998. Dengan arsitektur dan fasilitas modern, airport ini pantas bersaing dengan Changi.

Dari airport, kami menuju hotel di area bukit bintang dengan menggunakan bus. Banyak sekali moda transportasi yang sebenarnya dapat dipilih, seperti express rail link, shuttle bus menuju Hentian Duta, dan lain sebagainya. Sebagai budget traveller, kami memilih naik bus menuju Stasium KTM (Kereta Api Tanah Melayu) terdekat, yaitu stasiun NILAI. Dengan sekitar 5 ringgit berdua, kami sampai di sana dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun KL Sentral. Total lama perjalanan yang kami tempuh dari KLIA yang terletak di Sepang menuju KL adalah hampir 2 jam.
Dalam perjalanan menuju stasiun NILAI, kami melihat Malaysia "buhun". Maksudnya, saat nanti kami sampai di kota KL, kami akan menemukan kota yang modern, maju, hi-tech, di mana Malaysia seakan telah berubah menjadi negara yang maju dengan demokrasi ekonomi yang tidak semata2 mengandalkan perkebunan dan pertambangan. Tapi dalam perjalanan ini, kami menemukan hamparan tanah putih yang mengandung timah, perkebunan kelapa sawit yang luas dan perkampungan-perkampungan sub urban yang teratur. Kalau diperhatikan sekilas, alam, bentuk rumah, dan cuaca persis sekali dengan Sumatra.
Sepanjang perjalanan ini, kami bersama2 dengan 2 turis asal Prancis. Ga tau juga siapa yang ngikutin siapa, yang jelas lumayan aja, ada sedikit teman seperjuangan, apalagi dia bawa buku travelling yang bisa dijadikan guide (wuihh...isinya seluruh dunia looo.....pasti mahal :p). O, ya di Malaysia ini kami sering juga menemukan orang berbahasa Indonesia dan Jawa. Jadi saat saya dan Feming ingin ngerumpi, kami memutuskan menggunakan Bahasa Sunda hehehe Insya Allah lebih aman...
Dari KL Sentral kami masih harus menggunakan LRT dan monorail menuju Bukit Bintang. Menemukan hotel juga bukan perkara yang sulit, karena di depan stasiun monorail bukit bintang ada kios informasi yang menerangkan lokasi sekaligus memberikan peta dan brosur cuma-cuma (bayangin kalo harus beli buku travelling guide kayak londo dari prancis tadi :p).
Daerah Bukit Bintang ini sendiri dikenal dengan banyaknya pertokoan, cafe, dan restauran. Bayangin, baru turun dari stasiun monorail aja udah disambut ama Lot 10 di sebelah kiri :p kemudian ada juga mall lain2 seperti Sungai Wang, BB, Plaza Low Yat, Debenhams, dan masih banyak lagi. Di sini juga terletak Planet Hollywood dan beberapa diskotek, bagi mereka yang pengen keluar malem. Sayangnya, malam ini kami ada janji untuk kopi darat dengan teman India kami, Ramesh.Di seputar hotel, di jalan Tengkat Tong Shin, juga banyak cafe2 kecil dan hawker stalls. Yang ditawarkan beragam, dari mulai masakan kampong (masakan Melayu yang mirip dengan masakan Sumatra), masakan cina, masakan vietnam, masakan Baba dan Nyonya, duren, baso tulang, dan masih banyak lagi. Jadi 24 jam sehari kami tidak perlu takut kelaparan. Apalagi toko 7-11, yang kalo di Oz cepet banget tutup...,di sini buka 24 jam.
Di sekitar hotel kami juga banyak hostel yang bisa menjadi alternatif bagi para backpakers. Kebanyakan, cafe2 dan hostel2 ini menggunakan bangunan 2 tingkat yang sangat kental arsitektur cinanya (2 bad, i did not take a picture). Di depan bangunan ini (di trotoarnya) juga ada semacam kotak (seperti kotak pos di Indonesia tapi terbuka di salah satu sisinya) dimana dipasang peralatan sembahyang (hio). Hal serupa ini juga saya temukan di Bangka, daerah yang kental dengan keturunan Cina. Bedanya kalau di Bangka, biasanya rata2 rumah warga keturunan memiliki kuil kecil sendiri.
Friday, March 10, 2006
Pengalaman Pertama Sha Berenang

Setiap Feming pulang ke Jakarta, saya biasanya udah usul, kemana aja keluarga kecil kita mau jalan. Bukannya apa2, kesempatan Feming untuk berinteraksi dan berkegiatan dengan kami (saya dan Sha) boleh dibilang once in a blue moon. Jadi kami selalu menyepakati aktivitas apa aja yang dilakukan selama satu minggu Feming di Jakarta. Kali ini, kami sepakat untuk ngajak Sha berenang. Sha memang baru 7 bulan siyyy. Tapi kami pikir ga ada salahnya untuk mengenalkan Sha pada aktivitas outdoor lebih dini, terutama karena berenang sangat baik bagi tulangnya. Lagian selama ini, Sha seringnya cuma dibawa ke mall doang. Maklum, si indung tea hiburannana ke mal huehehehe

Sabtu pagi, Saya-Feming-Sha ke Hotel Kartika Chandra. Paling dekat dan paling ekonomis. Memang ga ada seluncuran...tapi toh Sha memang belum bisa juga kan. Paling hanya early introduction to water besides bathroom/bath tube hehe. O, iya Sha udah beli baju renang dan ban lumba2 loh....(eughhh ieu mah si indung deui nu boga hajat....). Mama dan Papa saya juga ikut jadi penonton.... Maklum pengalaman pertama Sha, jadi Papa dan Mama Eyangnya juga ga mau ketinggalan...
Sha kelihatan sempet bingung waktu dinaikin ke ban renang. Terus dia mulai senyum2 sama Mama Eyangnya. Kemudian Feming mengangkat Sha dari ban...wuih dia seneng..karena kakinya bisa maen aer....cipluk....cipluk....
Nahhhh....berenangnya kudu selesai waktu Sha kemudian nangis. Kenapa? Sha ditengkurapin (digendong Feming). Terus Sha ga mau berhenti bergerak termasuk mengexplore untuk memasukkan kepalanya sendiri ke air.... Hwaaaaaa.....air kolam keminum dan masuk hidung.....
Ok deh, Sha....
Next time kita coba lagi yakkk....
Tuesday, February 28, 2006
Value for money...value for your health?

Pernah tergoda beli barang karena ada promosi atau sale? Hati-hati, jangan sampai akhirnya kecewa seperti saya....
Baru-baru ini, saat sedang di Bandung, saya mampir ke supermarket Y. Di sini saya membeli beberapa keperluan Sha yang udah habis. Salah satu yang perlu dibeli adalah wet tissue. Biasanya Sha pake merek Pigeon atau Mitu. Saat itu ada promosi buy one get one free untuk wet tisue dengan merek W. Waduh! Value for money tuh pikir saya. Langsung aja saya beli. Karena dengan demikian, dengan nominal yang sama saya mendapatkan jumlah yang ganda.
Gak lama, ternyata saya menemukan Sha seperti menunjukkan reaksi alergi. Muncul bintik2 merah seperti ruam di kulit kemaluan dan bokongnya. Aduh....selama ini dia ga punya masalah dengan diapersnya. Lagi pula kita selalu rajin menggantinya setiap 4-5 jam. Jadi saya lalu berasumsi bahwa Sha kemungkinan alergi pada wet tissue ini atau mungkin kualitas wet tissue ini sudah kurang baik. Entahlah....probably yes...
Sedih sekali, hanya gara2 10.000 rupiah, Sha harus menjerit setiap pup atau pipis. Rasanya saya mau marah ama diri sendiri. It's just not worthed!!!! Begitulah godaan promosi pada ibu2 tukang belanja seperti saya...yang beda seribu aja dikejar....eh ternyata malahan biaya dokter dan obat2an jadi lebih mahal. BETE!
Maafin Bunda ya, Sha....
Friday, February 17, 2006
Feming---who's who,from my prespective
Setelah ulang tahun pernikahan kami dan menjelang ulang tahun Feming,suami saya, saya jadi ingin berbagi sedikit tentang Feming yang saya kenal.
Kesan Pertama
All of my life, saya mungkin ga pernah kebayang akan menikah dengan Feming. Jangan lantas ini diartikan Feming sebagai sosok yang buruk, melainkan karena perbedaan di antara kami. Kalau saya kilas balik ke masa saat saya dan Feming pertama kali bertemu, jelas sekali bahwa saya dan Feming berada di dua kutub yang berlawanan. Feming dengan kehidupan PUNKnya dan saya dengan hedonisme anak gaul (yang ceritanya penyiar radio tealah ;p). Bukannya anak punk engga gaya, tapi mereka punya "gaya dan pola hidup" sendiri yang saya ga pahami.
Saat pertama kali ketemu sama Feming....ihhh syereeemmm. Serius! Dia botak, gede, diem, dan hmmmmm jauh dari rapi hihihi. Well, I guess the words " don't judge the book by its cover" is really true. Ternyata, Feming mahluk (berperasaan) halus hihiihi. Ga tau maksudnya JP atau emang tulus, saat kita nginep rame2 di rumah temen dan tengah malem saya kelaparan, dia dengan manisnya ngedadarin telor buat saya ;D Sampai sekarang siyy sebenernya saya masih curiga telornya itu ada peletnya huahahaha *justajokedarling*.
Masa Pacaran
Jarak Bandung-Jakarta ga pernah jadi penghalang buat Feming ngunjungin saya. Pernah suatu saat, (katanya) dia lagi ga punya uang banget, tapi mau ke Jakarta. Hiksss akhirnya dia merelakan jam swatch kesayangannya di lego buat ongkos. Itulah Feming. Kadang terlihat cuek dan bener2 ga peduli, tapi di saat yang lain dia bisa menunjukkan pengorbanan yang berlebih.
Saat awal pacaran, seperti sebagian anak punk (saya ga tau alasannya apa)Feming adalah vegetarian. Ini ngebuat saya risih dan kesal. Karena kalo kita makan bareng, entah di resto ataupun di warteg jadi buat susah. Lama kelamaan, Feming mulai kembali mengkonsumsi daging. Malah dia ketularan keluarga saya menjadi penggemar coto Makassar. Duh! (Saya ga berani nanya alasan apa sebenernya yang bikin dia kembali mengonsumsi daging. Apa karena memang rindu makan daging atau karena saya suka ngomel2....)Tapi hal di atas hanya hal2 ringan yang menunjukkan adaptasi Feming kepada hidup saya. Banyak hal lain, yang menggagetkan saya, bagaimana dia bisa berubah menyesuaikan diri tanpa saya harus meminta apalagi memaksa. Feming dengan cepat menyelesaikan kuliahnya.... Feming kembali shalat dan mengaji.... So, Amazing... Feming juga ternyata dalam diamnya memahami perasaan dan harapan saya. Terus terang, dari banyak cowok yang saya kenal, saya belum pernah ketemu dengan cowok sesensitif ini.
Let's get married!
Saya tidak pernah tahu, hingga saya menikah, betapa sedihnya Feming saat harus bekerja di Bangka. Saya yang sangat tidak sensitif menganggap ini sebagai suatu keputusan politis saja, karena dia memutuskan memulai karirnya. I thought it was only the probs of now or never. But, it's beyond that.
Feming dengan posisinya di Bangka, sempat membuat saya kehilangan banyak hal. Teman bicara, teman berbagi, pacar yang melindungi, dan banyak hal baik lainnya. Dia sendiri, menurut saya, agak sedikit mudah tersinggung saat itu. Sering kali hanya karena misscommunication, seperti saat baca sms yang tidak tuntas atau salah memahami isi SMS. This time was so hard. It took my Feming away.
Saat kita ketemu lagi (kopi darat hehehe), banyak yang Feming sampaikan, begitu juga dengan niatnya untuk lebih serius dengan hubungan kami. Dia juga (dengan gayanya yang suka petentengan ;p) datang ke rumah malam itu, bicara dengan papa dan mama saya. Feming yang suka cengos dalam lingkungan pertemanannya, sebenarnya orang yang sangat serius dengan perasaannya....
Our New Life

Feming dan saya punya opini yang sama. Bahwa kemesraan saat pacaran harus terus dibawa dalam pernikahan. Maka disinilah kami, membuka lembaran hidup, membangun masa depan. Bekerja, bermain, nongkrong, nonton bioskop, pulang malem, ngedugem, travelling, olah raga, menjadi agenda kami dalam hidup sehar-hari dalam lokasi yang berbeda.
Resume
Setiap manusia ga ada yang sempurna. Begitu juga Feming. Sedikit tentang kebaikannya sudah saya bagi untuk mendeskripsikan siapa Feming. Banyak hal lain yang tidak bisa diceritakan, hanya bisa disikapi.
Love you much, miss you more...,hubby!
Kesan Pertama
All of my life, saya mungkin ga pernah kebayang akan menikah dengan Feming. Jangan lantas ini diartikan Feming sebagai sosok yang buruk, melainkan karena perbedaan di antara kami. Kalau saya kilas balik ke masa saat saya dan Feming pertama kali bertemu, jelas sekali bahwa saya dan Feming berada di dua kutub yang berlawanan. Feming dengan kehidupan PUNKnya dan saya dengan hedonisme anak gaul (yang ceritanya penyiar radio tealah ;p). Bukannya anak punk engga gaya, tapi mereka punya "gaya dan pola hidup" sendiri yang saya ga pahami.
Saat pertama kali ketemu sama Feming....ihhh syereeemmm. Serius! Dia botak, gede, diem, dan hmmmmm jauh dari rapi hihihi. Well, I guess the words " don't judge the book by its cover" is really true. Ternyata, Feming mahluk (berperasaan) halus hihiihi. Ga tau maksudnya JP atau emang tulus, saat kita nginep rame2 di rumah temen dan tengah malem saya kelaparan, dia dengan manisnya ngedadarin telor buat saya ;D Sampai sekarang siyy sebenernya saya masih curiga telornya itu ada peletnya huahahaha *justajokedarling*.Masa Pacaran
Jarak Bandung-Jakarta ga pernah jadi penghalang buat Feming ngunjungin saya. Pernah suatu saat, (katanya) dia lagi ga punya uang banget, tapi mau ke Jakarta. Hiksss akhirnya dia merelakan jam swatch kesayangannya di lego buat ongkos. Itulah Feming. Kadang terlihat cuek dan bener2 ga peduli, tapi di saat yang lain dia bisa menunjukkan pengorbanan yang berlebih.
Saat awal pacaran, seperti sebagian anak punk (saya ga tau alasannya apa)Feming adalah vegetarian. Ini ngebuat saya risih dan kesal. Karena kalo kita makan bareng, entah di resto ataupun di warteg jadi buat susah. Lama kelamaan, Feming mulai kembali mengkonsumsi daging. Malah dia ketularan keluarga saya menjadi penggemar coto Makassar. Duh! (Saya ga berani nanya alasan apa sebenernya yang bikin dia kembali mengonsumsi daging. Apa karena memang rindu makan daging atau karena saya suka ngomel2....)Tapi hal di atas hanya hal2 ringan yang menunjukkan adaptasi Feming kepada hidup saya. Banyak hal lain, yang menggagetkan saya, bagaimana dia bisa berubah menyesuaikan diri tanpa saya harus meminta apalagi memaksa. Feming dengan cepat menyelesaikan kuliahnya.... Feming kembali shalat dan mengaji.... So, Amazing... Feming juga ternyata dalam diamnya memahami perasaan dan harapan saya. Terus terang, dari banyak cowok yang saya kenal, saya belum pernah ketemu dengan cowok sesensitif ini.Let's get married!
Saya tidak pernah tahu, hingga saya menikah, betapa sedihnya Feming saat harus bekerja di Bangka. Saya yang sangat tidak sensitif menganggap ini sebagai suatu keputusan politis saja, karena dia memutuskan memulai karirnya. I thought it was only the probs of now or never. But, it's beyond that.
Feming dengan posisinya di Bangka, sempat membuat saya kehilangan banyak hal. Teman bicara, teman berbagi, pacar yang melindungi, dan banyak hal baik lainnya. Dia sendiri, menurut saya, agak sedikit mudah tersinggung saat itu. Sering kali hanya karena misscommunication, seperti saat baca sms yang tidak tuntas atau salah memahami isi SMS. This time was so hard. It took my Feming away.
Saat kita ketemu lagi (kopi darat hehehe), banyak yang Feming sampaikan, begitu juga dengan niatnya untuk lebih serius dengan hubungan kami. Dia juga (dengan gayanya yang suka petentengan ;p) datang ke rumah malam itu, bicara dengan papa dan mama saya. Feming yang suka cengos dalam lingkungan pertemanannya, sebenarnya orang yang sangat serius dengan perasaannya....
Our New Life

Feming dan saya punya opini yang sama. Bahwa kemesraan saat pacaran harus terus dibawa dalam pernikahan. Maka disinilah kami, membuka lembaran hidup, membangun masa depan. Bekerja, bermain, nongkrong, nonton bioskop, pulang malem, ngedugem, travelling, olah raga, menjadi agenda kami dalam hidup sehar-hari dalam lokasi yang berbeda.
Resume
Setiap manusia ga ada yang sempurna. Begitu juga Feming. Sedikit tentang kebaikannya sudah saya bagi untuk mendeskripsikan siapa Feming. Banyak hal lain yang tidak bisa diceritakan, hanya bisa disikapi.
Love you much, miss you more...,hubby!
Subscribe to:
Posts (Atom)




