Thursday, January 26, 2006

My new job has won over my part time job

05.30 : wake up
05.45 : poop, then playing
06.30 : milk time
07.00 : sleep
08.00 : wake up
08.30 : breakfast
Now that I have much time, I try to prepare fresh food for Sha.
Canned juice and processes food are being left behind.
Thanks to my blender as the most important thing on my kitchen.
And the recipe book given from Oz by my aunty.* some are not applicable,though*
I gave Sha a training cup to drink water and juice.
I guess her first tooth will show up soon that she'd better take more water to clean her mouth. Later on, I need to put a spout on the training cup as the fruit is getting more solid as puree' or raw juice.
09.00 : Take a bath
09.30 : Milk time
10.00 : Sleep
12.00 : Wake up and lunch (rice smoothie with chcken/liver and veggie)
13.00 : Play
14.00 : Juice
14.30 : sleep
15.30 : wake up and play
17.00 : take a bath and play
20.00 : sleep

Not included in the schedule:
I also work on her letter of birth changing process, as we wish to change her middle name. Sure it's not a short process. Besides, I already raised my enquiries to our bank and insurance regarding this matter. Another long birocracy I have to settled.
Yesterday, I took her to have baby massage.
Next week,it's her schedule for immunisation.

I just found out that a baby could consume my time more than 8 to 5 job.

Could you advise when I can do my part time job?

Monday, January 16, 2006

Sydney (The End)

Pada suatu pagi, satu hari menjelang kepulangan saya ke Indonesia, saya menyempatkan diri browsing ke beberapa bangunan tua di Sydney. Kalau ditanya apa sebenernya yang saya cari, ini semata2 karena kecintaan saya pada bangunan2 tua dan mungkin kebosanan pada tempat2 yang dikujungi turis pada umumnya...shopping centers, souvenir shops, cruises, dan tipikal lainnyalah…
Maka pagi2 sekitar jam 8, setelah breakfast, saya berjalan menuju Hydepark. Tentunya ini bukan Hydepark seperti di London dimana terdapat legenda atau mitos (?) Jack the Ripper. Beberapa tempat, lokasi, dan nama jalan di sini memang banyak mengkopi dari Inggris, i.e Liverpool street, Covent garden, Hydepark, Lecester, dan masih banyak lagi. Hyde Park terletak di pusat kota dan di salah satu sisinya terletak St. Marry’s Cathedral.




St. Marry’s Cathedral adalah salah satu katedral terbesar di dunia dan pernah pula dikunjungi oleh Paus pada tahun 1970an. Sebagaimana katedral Katolik pada umumnya, katedral ini sangat indah dan dipenuhi dengan kaca2 patri yang indah pula. Belum lagi lukisan-lukisan besar yang sepertinya punya model yang sama dengan kaca patri (kehidupan Yesus?). Di dekat salah satu pintu masuk juga ada patung Bunda Maria dan lilin-lilin yang cantik. Saya ingin sekali ikut free guided tour di sini, sayangnya sebagaimana tur gratis lainnya, tur ini hanya ada di weekend...;(.




Dari sini (college street), saya berjalan ke arah Macquaries Street (atau lebih jelasnya berjalan ke arah marina Circluar Quay). Di sepanjang jalan ini banyak sekali gedung2 tua peninggalan masa kolonial. Di sebelah kanan ada Hyde Park Barracks museum. Gedung ini berdiri pada awal 1800-an dan didesain oleh arsitektur kenamaan Australia saat itu, Francis Greenway (masih inget Oom yang satu ini khan?). Sebagaimana sejarah Australia yang kita tahu sebagai daerah orang2 buangan pada masa awal benua ini ditemukan, di sinilah tempat tinggal para kriminal yang dibuang ke Oz. Mereka pulalah yang saat itu menjadi buruh bangunannya. Hyde Park Barracks pun pernah menjadi tempat penampungan para imigran perempuan lajang yang bekerja sebagai pembantu saat itu. Yang jijik tapi penting secara arkeologis adalah liang dan jalur tikus di bawah tanah yang ternyata sangat berguna bagi para arkeolog. Liang ini membuka sejarah pada masa ini dan di sini ditemukan pula beragam alat yang digunakan oleh ”penghuni” barak pada zaman itu. Dari mulai sendok logam yang sangat sederhana sampai alat jahit menjahit. Yang lebih jijik lagi juga dilihatkan bangkai tikusnya erggggh....
Selain itu, pada kurun waktu lainnya, gedung ini juga digunakan untuk gedung pengadilan dan kantor pemerintahan. Jadi boleh dibilang gedung ini ”jam terbangnya” udah tinggi banget...dari masa ke masa..dari satu fungsi ke fungsi lainnya. Sekarang walaupun di depan museum ini ada cafe yang cantik, teuteup keangkeran gedung ini masih sangat terasa...



The Mint, adalah gedung tua lainnya, yang terletak pas di sebelah kanan Hyde Park Barracks. Saat saya memasuki gedung ini, saya sempat bingung, kok sepertinya ga ada penjelasan tertentu atau penjelasan dari apa yang saya lihat. Yang terlihat jelas hanyalah beberapa foto dan captionnya di beranda belakang serta section yang telah dirubah menjadi The Mint Cafe. Saya kan jadi penasaran dan bertanya,”Excuse me, I read bout this building on the guide book and could u tell me what I can see in the building”. Huhh, jawabannya mengecewakan,”Well, actually nothing you can do or see in particular in the building. This is just one of the preserved buildings and currently this building houses the historic houses trust’s head office, library, meeting room, cafĂ©, and you can find small display about this bulding at the back.” Whoaaa….sialan! Memang siyy Australia pinter banget jualan ini itu, ternyata tourist attarctionnya siy menurut saya biasa2 saja.
Anyhow a glance bout this building: The Mint awalnya merupakan sayap sebelah selatan dari Sydney Hospital (saat itu namanya adalah Rum Hospital) dan dibangun lebih kurang pada masa yang sama dengan dibangunnya Hyde Park Barracks. Hingga kemudian, tahun 1854 ditemukan emas di New South Wales. Sejak saat itu di belakang gedung ini dibuatlah pabrik koin. Pabrik ini berhenti berjalan saat kemudian di Canberra didirikan pabrik yang lebih besar pada tahun 1920-an.




Selanjutnya adalah, Charming and ellegant Sydney Hospital. Rumah sakit ini menghadap ke Martin Place. Dan di depannya ada patung babi hihihi Saya siyy bingung aja kok babi gitu loh. Babi kan jorok padahal rumah sakit kan kudunya tempat yang bersih dan higienis.... Hmmm mungkin saya ga punya sense of art???


Parliament house di Sydney jauh dari mentereng. Saya sempet keki waktu polisi yang jaga melihat saya dengan mata memicing penuh kecurigaan. Idiihhh, memangnya saya teroris. Di sini bener2 ga ada apa2..selain penjagaan yang ketat. Bagian gedung sebelah dalam juga sudah modern. Sangat berlainan dengan bentuk luar gedung yang mencerminkan masa pembangunannya (abad ke-19).



Dari sini saya melanjutkan perjalanan ke pinggir kota. Saya penasaran untuk melihat ELizabeth Bay House yang dikatakan sebagai "the finest house in the colony". Walaupun sempet tersesat, akhirnya saya sampai juga. Disini, saya memanfaatkan lagi voucher diskon yang saya punya dan ikut dalam free tour ;p. Rumah ini tadinya merupakan rumah dari sekretaris koloni, Alexander Macleay, yang dibangun pada 1830an. Rumah ini bergaya villa Yunani, terletak di bay dan memiliki view yang sangat indah ke Sydney Harbour. Bayangkan, tadinya rumah ini memiliki kebun yang besar dan luas tanahnya 54 acre. Sayangnya, dalam masa pembangunan rumah ini, Macleay mengalami kesulitan finansial sehingga pembangunannya tidaklah tuntas. Rumah ini kemudian menjadi asrama bagi sejumlah artis sebelum akhirnya dilestarikan di bawah naungan historic house of trust. Di rumah ini ada tangga yang berputar (cantilevered staircase), domed ceiling, library, kamar2 yang besar, drawing room, dan bagian basement yang tadinya merupakan tempat tinggal para pembantu dan wine cellar. Disini diputar film mengenai putri Macleay yang menuturkan mengenai ayahnya dan rumah ini. Saya sempat turun ke basement sendirian--ke bagian wine cellar, (masuknya melalui belakang gedung dan tangganya merupakan batu2 yang tidak rata). Tapi...brrrr...dingin dan keueung (sepi) ...apalagi filmnya bersifat naratif dengan tokohnya yang mengenakan pakaian ala abad 19. Hi....saya langsung lari terbirit2 (berasa lagi uji nyali soalnya!).
Selain kebunnya yang sudah tidak ada lagi, bagian belakang rumah (dapur) juga sudah tidak ada karena kebakaran. Furniture yang ada di dalam rumah ini pun sebagian besar bukan merupakan furniture aslinya...melainkan hanya rekonstruksi/refleksi dari perabotan di zaman tersebut.

Ini adalah hari terakhir saya di Sydney.
Thanks God for such a journey.

Friday, January 13, 2006

An ode to my Dear Sha and my hubby...


aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu...
aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu....
karena langkah merapuh tanpa dirimu...
ooohh..karena hati tlah letih....

aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh...
aku ingin kau tau bahwaku selalu memujamu....
tanpamu sepinya waktu merantai hati...
oh bayangmu seakan akan....

reff
kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu..ooohh
kau seperti udara yang kuhela kau selalu ada....
**
hanya dirimu yang bisa membuatku tenang...
tanpa dirimu aku merasa hilang..........
dan sepi......
(Dealova, by Once)

"ga tau udah berapa kali lagu ini saya puter hari ini..."
for more music:elvinds.multiply.com

Wednesday, January 11, 2006

At my wits end

The facts are:
-There is no new status on Feming transfer process. Means he has to go back and forth : Jakarta-Pangkal Pinang. So exhausting and quite money-consuming.
-Sha is like baby on the go. I think she's one of a kind baby-career who states that she's willing to travel intensively.
-And now apparently this job doesn't take me anywhere! The task is absolutely for The Flash and those who can read people's mind. No priorities till the boss says so. Plus, it may changes anytime, even at 12 am.
What else can be worse?

Monday, January 09, 2006

Sydney (Part 7)

Tarongga Zoo zoo with a view


Terus terang, saya ga termasuk dalam penyayang binatang. Binatang yang saya suka cuman anjing dan ikan. Nah, kalo di Sydney tiba2 saya menclok di Tarongga Zoo, itu sebenernya hanya karena saya pengen liat Koala ama Kangguru. Ga appdoooll dong udah nyampe OZ eh ga liat koala ama kangguru hihihi
Dari buku yang saya ambil cuma-cuma di airport, saya tahu ada beberapa pilihan untuk dapat menemukan kedua binatang ini:ke zoo atau wildlife park. Melalui buku ini juga, saya mendapatkan banyak voucher diskon. Salah satunya adalah diskon masuk ke Taronga Zoo;p Mengingat ada peluang penghematan dan pengennya naik ferry, maka saya memutuskan untuk lihat kedua binatang ini di Tarongga Zoo saja. *Sebenernya dari halteu deket hotel ada bis menuju sana, tapi saya memutuskan untuk naik ferry ke sana karena kebiasaan saya untuk melihat kota dari sungai atau laut di setiap tempat yang saya singgahi, jika memang memungkinkan*. Selain itu saya juga bisa ambil harga paket : ferry ke Tarongga wharf + bus/cable car ride ke pintu Tarongga Zoo + admission fee. Lumayan kan?
Anyhow, Tarongga Zoo sendiri terletak di utara Sydney, jadi dari sini kita bisa melihat view hi-rise building, opera house, and the bridge...


Dan disinilah cerita mengenai terbakarnya kulit saya bermulai. Saya yang pergi ke sana sendirian...asyik aja duduk di deck menikmati view Sydney menuju kebun binatang. (Sambil asyik ngobrolin Bae Yong Jun (pemain film Winter Sonata) ama orang Korea di sebelah saya....saya ga sadar bahwa hidung saya mulai merah.....*kalo foto saya diperbesar maka akan kelihatan bahwa hidung saya persis seperti Rudolph the reindeer;p*).
Seperti yang saya sudah rencanakan, saat sampe ke bonbin pas banget sama photo oppotunity with koala. Langsung deh saya ada di antrian nomer 3 (hebat ga?). Brengseknya, setelah bayar 3 dolar, saya mesti pake kamera saya sendiri !&^%#^*. Selaen ogi, saya juga panik, saya kan sendirian. Sapa yang mau motoin. Orang2 mah ke bonbin sekeluarga, lah saya???? Untung bakat SKSD (sok akrab sok deket) saya teuteup melekat. Setelah ngobrol2 ama orang Amerika yang dibelakang saya tentang cuaca di Sydney, cuaca di Amerika, suasana di Chicago, akhirnya saya minta tolong dia motoin saya hihihihi..... ”No probs, we can help you if the lady inside (the officer) can not help you taking photo”, gitu katanya.


Dari situ saya langsung mencari kangguru. Ya abisan apalagi. Yang laen kan banyak di bonbin Bandung ;p Eh, ternyata dari situ saya sempat muter2 dulu. Pertama, karena saya menemukan ING sebagai sponsor pemeliharaan singa di sini. Duh, jadi sedih inget ING. Kemaren di Darling Harbour lihat logo di gedungnya aja perasaan tercabik2...eh sekarang lihat spanduk berdirinya...(persis seperti desain kalendar yang kita buat dulu). Kedua, gara2 ga beli peta bonbin saya jadi tersesat (ini bikin tangan saya hitam dan belang)....bengong...lihat kanan..lihat kiri...lihat tanda petunjuk arah....
Sampai ada petugas dg pakaian sipil,” You are lost, aren’t you?”. Tau aja niyy bule ada orang kampung ke Sydney….


Alhamdulillah akhirnya bisul pecah juga...kesampean lihat kangguru gitu maksudnya....tapi perasaan kanggurunya kurus2. Mungkin laen kali harusnya liat ke Wildlife Park ya.....
Kangguru yang saya lihat saat itu kebanyakan pada bobo. Pas ada satu aja yang berdiri, semua langsung pada heboh dan siap2 moto. Eh kanggurunya kayak yang becandain kita...kita udah siap mau foto..eh dia malah nunduk lagi.... Sebel. Saya juga kecewa ga nemuin kangguru yang lagi "nyakuin" anaknya... ;(


Otw pulang, saya sempet beli suvenir terus kembali dengan cable car ke dock/wharf. Nunggu ferrynya datang lagi. Di dalam perjalanan pulang ini, saya ngulangin kesalahan saya lagi, duduk di deck sambil ngobrol ama ibu2 Amerika yang bawa anak dan ponakannya. Bener2 deh saya lupa diri… Ya kalo bule mah kena panas matahari paling merah terus putih lagi. Kalau saya kena panas matahri setelah merah ya iteeeem..tau deh kapan kembali normal lagi...*hiks..berdoa mulai....*

Wednesday, January 04, 2006

Sydney (Part 6)--updated

Phiuh…ternyata udah part 6 *plsbearwithme*

Royal Botanical Garden more than just a garden
Royal Botanical Garden mulai dirintis pada tahun 1788 oleh Gubernur Phillips. Awalnya diset sebagai daerah pertanian, tapi gagal karena tanahnya yang berpasir. Memang letak royal botanical garden ini adalah di teluk (mulai dari sisi opera house terus memanjang hingga ke bagian kota yang lama).

Saya ga tau berapa luas taman ini, tapi yang jelas gede buanget dan saya kemudian sadar bahwa banyak bagian Sydney city yang dapat tembus melalui berbagai gate di taman ini.



Tadinya saya males ke taman ini *it’s a garden aft all* tapi ternyata saya merasa waktu saya kurang. Saya pengen kembali lagi ke sini kalo suatu saat kembali ke Sydney.
Kenapa? Ya, karena di sini ga cuman ada tanaman seperti taman pada umumnya, tapi juga banyak patung2 cantik, fountain, gedung tua, dan dikelilingi oleh gedung2 tinggi dan situs bangunan-bangunan kolonial yang berjejer rapi.
Salah satu yang terkenal adalah Mrs. Macquaries chair, kursi istri salah satu gubernur yang terkenal di zamannya (yang menginisiasikan QVB, a.l). First lady ini memprakarsai dibuatnya jalan di sepanjang cove saat itu dan dia juga senang duduk disitu untuk memperhatikan setiap kapal yang datang..



Selain itu terletak pula Conservatorium of Music dan Government House.Conservatorium of music ini tadinya merupakan kandang kuda (yang megah dan bergaya Victoria) dari Government House.



Government housenya sendiri bergaya Gothic. Letaknya agak tersembunyi di balik rerimbunan taman. So comfy and elegan. Sayangnya, saya gak sempat masuk karena hari bukanya hanya Jumat sampai Minggu...;(

Sydney Opera House one of the bussiest opera house in the world


Keluar dari Royal Botanical Garden menuju Sydney Opera House, kita akan melewati gate Queen Elizabeth II. Kalo saya ga salah Queen Elizabeth II ini yang meresmikan Sydney Opera House di tahun 1973 setelah bertahun-tahun dibangun dan ga beres2. Dananya sendiri diambil dari lotto *porkas kalo di indonesia* yang sengaja dibuat untuk membangun opera house ini.

Kebetulan saya sempet ikutan tur bersama dengan sekitar dua puluh orang dari berbagai bangsa, dan ada di antaranya yang berprofesi sebagai arsitek. Sydney Opera House didesain oleh arsitek muda (di era tersebut), Utzon, yang memenangkan kontes desain opera house. Utzon, yang berasal dari Denmark, memulai membangun opera house pada tahun 1957. Menurut guide dan arsitek yang ikutan tur, untuk zaman tersebut, desain sydney opera house termasuk revolusioner. *Makanya menjadi salah satu ikon terkuat di dunia....* Namun demikian, Utzon resign pada tahun 1967 dan dilanjutkan oleh arsitek lainnya *menurut ceritanya,ternyata Utzon ini cukup keras kepala, mirip gw hehe*.


Di gedung yang akhirnya resmi dibuka tahun 1973 ini, saya juga sempat masuk ke opera theatre dan concert hallnya yang megah. Lumayan, paling ga, walaupun saya ga kebagian tiket nonton pagelaran ballet sleeping beauty, saya sempet lihat rehearsalnya. O,iya..Sydney Opera House punya jadwal pagelaran yang padat loo...hebatnya pas saya cek banyak yang udah fully booked... Dari salah satu atriumnya, kita dapat melihat ke arah teluk dan memperhatikan kapal2 yang lewat. Atrium ini disewakan sebagai venue untuk acara2 seperti pernikahan (tapi yang nikah ga boleh orang Indonesia, krn kapasitasnya ga cukup untuk 1000 orang ;p). O, iya di teluk yang bersebrangan adalah rumah megah dengan "posisi" yang cantik..nah itu adalah rumah PM Howard *keren banget tuh*

Saat ini, Sydney Opera House sedang mulai bebenah lagi. Pemerintahnya juga sudah memanggil Utzon kembali ke Oz. Kayaknya pemerintah di sana udah jaga2 kalo ga dibenahin sekarang, gedungnya udah keburu outdated. Hebat ya antisipasinya…


Sydney Harbour Bridge I promise to be back and climb

Jembatan yang terkenal ke seluruh dunia dan juga dikenal sebagai salah satu ikon Oz ini bukanlah jembatan besi terpanjang di dunia. Tapi merupakan jembatan besi dengan lengkungan terbesar. Penggagas jembatan ini lagi2 adalah arsitek terkenal Oz yaitu Francis Greenway (kalau saya ga salah, dia juga yang ngedesain entah conservatorium of music entah government house..pokoknya salah satulah…).




Di pinggir jembatan itu ada lane yang memungkinkan pedestrian untuk jalan kaki. Lane ini sangat panjang...dan jika kita terus berjalan melalui lane dan sampai di pinggir jalan tol, kita akan mendapati pemandangan circular quay lengkap dengan opera house dan harbour bridge. Kebetulan saat saya menaiki bridge stairs dan kemudian sampai di titik itu saat sunset...wah jadi stunning lah...
Tapi ya teuteup… ada yang saya missed dari bagian ini, yaitu observatory hill dan pylon lookout ;(

Tuesday, January 03, 2006

Sydney (Part 5)

Queen Victoria Building, a posh shopping arcade
Pertama kali saya melewati gedung ini adalah saat saya menuju Paddy’s Haymarket. Sekilas, dari warna gedungnya (tampak dari sisi George Street) mengingatkan saya pada Harrod’s. Kebetulan saat itu saya duduk di belakang supir bis (bukan di samping Pak Kusir) yang asyik ngobrol sama saya dan langsung nunjukin QVB (begitu gedung ini biasa dipanggil) sebagai salah satu tempat yang harus saya kunjungi.

**

Jadi, pada hari kedua, saya langsung bergegas menuju QVB yang terletak di George Street atau persis di sebelah utaranya Town Hall.
Setelah masuk, saya baru ngeh kalo QVB ini formatnya bukan mall (display), melainkan shopping arcade. Dari pintu masuk yang menghadap ke Town Hall, saya mendapati dua buah lift yang sangat kuno tapi sangat cantik. Lift ini berhadap-hadapan dan diapit oleh tangga berputar seperti di Gereja Imannuel,Jakarta atau di Mint Cafe, Sydney. Di dinding2 seputar tangga terpasang foto-foto hitam putih yang lagi-lagi sangat indah. Yang saya lihat saat itu siyy, foto2 itu menggambarkan keadaan gedung di zaman baheula.
O,iya di muka pintu masuk dari arah Town Hall ini ada patung the Royal Wishing Well & Queen Victoria.




Di lantai satu ada area berjalan di dalam mall yang disebut the grand walk. Emang siyy grande banget dengan gedung kuno ala Roman yang sangat mewah, elegan, dan berbobot. Udah pasti toko2 di sini juga branded, mulai dari Adidas, Osh Kosh, Salvatore Ferragamo, Fossil, Tie Rack, Gianni Versace, L’occitane, Bijoux, Jigsaw, Bally, Cellini’s Bar & Resto sampe.....kristal Swarovski *hiksss ga mampu*. Di lantai satu (di tengah/atriumnya) ada pohon natal gede buanget...tingginya 24 meter dan sampai tembus ke lantai paling atas.. Bukan cuma gede dan tingginya pohon natal yang bikin heboh, tapi asosoris pohon natal yang terdiri dari 15.000 kristal swarovski itu yang bikin pohon ini semakin ”bernilai” dan berkilauan... Pantesan QVB bangga banget ama pohon natal ini dan digembor2in di flyer2nya sebagai the most dazzling christmas tree.... *minta kristalnya duuunng atuuuu aja..bener deh..atu ajah cukup kok..*


Di lantai berikutnya juga ada display2 menarik lainnya, misalnya batu pualam cina yang berbentuk (apa ya....) kapal (kayaknya ;p) dan perhiasan serta asesoris kerajaan. Juga ada jam menggantung, yang membuat gedung ini semakin klasik.
Di atrium lantai paling atas juga ada concierge desk,sofa, dan piano. Megah ya.... Rasanya ga bisa ngebayangin kalo gedung ini dulunya adalah pasar biasa yang merupakan tempat florist, penjahit, gudang, show room dll. Tapi zaman itu, gedungnya belum seperti ini loh. Karena gedung ini ”baru” selesai dibangun tahun 1898.

Sebagai kesimpulan, QVB ini adalah tempat belanja terindah yang pernah saya lihat. Walaupun keluar dari sini saya cuman nenteng suvenir ;p suatu saat saya pengen kembali lagi ke sini, belanja ina inu, duduk di cafe sambil chit chat ama suami dan anak saya serta ikut tur tentang sejarah gedung ini...

Sunday, January 01, 2006

HAPPY NEW YEAR
TO ALL DEAR FRIENDS AND FAMILY...

Wish you lots of happiness, health and wealth.


From:
Hanny, Feming, Asha Elvind