Friday, May 26, 2006

BONBIN, family day (a thought and experience)


Sebentar lagi Sha genap 10 bulan. Selain giginya yang sudah 3 buah, Sha juga sudah mulai belajar berdiri-berbicara, mulai mengenal wajah, mulai memiliki kemampuan bersosialisasi dan mengenal binatang. Terinspirasi dari "kehebohan" Sha melihat anak ayam saat di rumah Oom di Banjaran baru2 ini, saya berinisiatif melakukan family day ke Bonbin Bandung hehehe. Boleh deh komen apa aja tentang ide ini. Saya juga sebenernya ga terlalu happy untuk ke Bonbin Bandung. Kondisinya yang kurang terawat, binatangnya yang terlihat "layu" memang bikin males. Zaman belum punya anak, saya dan Feming malesnya berjuta kali kalau harus ke sini. Tapi bagaimanapun mengajarkan anak akan dunia luar rumah (selain mall dan rumah eyang!) serta mengajarkan anak untuk mencintai binatang harus dimulai sejak dini.


Jangan coba2 bandingin bonbin Bandung ama bonbin di luar negeri!!! Nanti bisa bete. Kami siyy cukup mengelus dada melihat penunjuk lokasi yang tidak jelas.... Jadi inisitippppp aja nyari sendiri, sugan panggih :p Ya untungnya Sha masih kecil, jadi kami memilih binatang2 besar seperti gajah, unta, jerapah untuk dilihat. Selain itu juga kami mengunjungi kandang2 beberapa binatang yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti ayam dan burung (sambil berdoa dalam hati semoga kami sekelurga sehat dan dijauhkan dari virus flu burung hiiiii amit2). So far, Sha cukup senang dan tertarik dengan gajah dan unta. Dia paling antusias saat si gajah (tua) itu mengulurkan belalainya. Saat kami sudah menjauh dari kandang gajah pun, Sha masih menunjuk2 ke arah kandang gajah tersebut. Buat saya sendiri, saya sangat terkesan dengan ayam jambul hehe. Menurut saya siyyy, jambulnya itu mirip rambut ala mohawk anak2 punk.... sedangkan Erwin (adik saya yang kebetulan ikut) punya opini lain. Katanya siyyy, ayam jambul itu mirip James Brown!


O,ya di bonbin ini banyak juga arena bermain (seperti mobil2an dan kereta api-kereta apian). Hal ini membuat kami sempat mengerutkan kening....bukan apa2 siy tapi rasanya tujuan ke bonbin jadi bias. Anak2 usia batita ke atas jadi sibuk bermain, sehingga mungkin saja melupakan esensi dari kunjungan ke bonbin itu sendiri. Apalagi arena2 tersebut tidak tematik atau memiliki relevansi dengan binatang dan konservasi. jadi, kalau Sha sudah lebih besar, rasanya harus dipertimbangkan lagi bagaimana bijaknya mengajak dia kemari. Taela...serius banget ya ogut. Ya beginilah...si IRT tea geuning. Makin banyak waktu di rumah, mencoba mencari tahu prilaku anak dan mencari pengetahuan tentang anak dan psikologinya. Orang tua mana siyyy yang gak pengen memberi anaknya yang terbaik?

Friday, May 05, 2006

Ketika semuanya sakit...

Udara lagi jelek banget. Panas terik bentar, hujan deras. Jakarta atau Bandung sama saja. Semua di rumah Bandung pada sakit. Setelah minum antibiotik yang cukup keras, flu dan batuk baru mulai membaik. Suara yang hilang mulai muncul,sedikit parau. Untuk Sha, bukan cuma flu dan batuk, tapi diare lebih dari dua minggu. Sha juga sempet panas sampai di atas 39 derajat. Sha yang tadinya lincah tiba2 jadi diem, lemes, ga berdaya.

Rencana ke Jakarta tertunda lebih dari dua minggu. Rencana wawancara kerja tertunda. Rencana konsultasi sekolah tertunda. Kerjaan menulis lab profile Fikom UNPAD berjalan lebih lambat. Yang ga bisa ditunda, menghadap ke biro kepegawaian di Pemkot dan ngambil surat mutasi Feming ke Bandung. Mudah-mudahan...paling gak ada yang bergerak maju...

Monday, May 01, 2006

Melaka (2)



Perjalanan kami di Melaka masih berlanjut. Kami menuju ke replika Melaka Sultanate Place, sebuah bangunan rekonstruksi yang dibangun di kaki bukit St Paul. Replika ini kabarnya benar2 menggambarkan istana Sultan Melaka di abad ke-16. Menurut saya, gaya arsitekturnya tidak jauh dengan gaya bangunan2 kesultanan di Indonesia, terutama kesultanan yang terletak di daerah Pesisir, seperti di Sulawesi dan terutama Sumatra. Gedung ini sendiri sekarang menjadi Museum Budaya Melaka yang banyak memamerkan artefak2 dari masanya.



Dari replika Istana Sultan Melaka, kami naik ke atas bukit St.Paul. Di sini kami menemukan gereja (kalau masih bisa dibilang gereja karena sebenernya sudah hampir kehilangan bentuk) St Paul, dulunya merupakan Gereja Katolik Portugis. Pada zaman Belanda, di sini dikuburkan banyak tokoh2 terkemuka mereka. Yang masih banyak tertinggal adalah tombstones dengan inscriptions Latin dan Portugis.



Berjalan turun dari Gereja St Paul kami menyusuri bukit menuju A' Famosa melalui banyak kuburan2 tua Belanda....*untungnya siang bolong!kalo malem....wah udah uji nyali kaleey*. A'Famosa lagi2 tinggal ruins-nya saja (reruntuhan). Ya...kalo mau dibilang masih ada, hanyalah entrancenya saja. A'Famosa tadinya merupakan fortress yang dibangun Portugis setelah Portugis menguasai Melaka, namun kemudian hancur saat Belanda melakukan invasi.


Melaka memang memiki sejarah yang kaya. Mulai dari awal saat Melaka ditemukan oleh Pangeran dari Sumatra (bukan! Bukan Feming! Dia mah menemukan sayahhh :p)yaitu Prameswara sampai kemudian dijajah Portugis pada tahun 1500an, dijajah Belanda pada tahun 1600an hingga lama kemudian dijajah Inggris hingga kemudian merdeka. Namun demikian di Melaka ini dikenal banyak sekali peranakan Melayu dan Cina. Hal ini tercermin dari gaya arsitektural, budaya, dan kuliner. Karena itu kami berdua sempat mencoba hidangan khas Baba dan Nyonya di salah satu restoran di pinggir Sungai. Di Sungai ini tampak beberapa perahu dayung dan gudie lokal yang menyediakan jasa mengelilingi Melaka melewati Sungai. Walaupun, saya sangat senang menyusuri kota melalui kanal/sungai, kali ini saya ga terlalu berminta. Maaf...ehem...kalinya coklat dan banyak sampah. Hehe....takut kecebur dan keminum airnya gituh ;( kalo boleh milih siy mendingan minum air sungai Thames aja deh.... ;p



Perjalanan kami harus berakhir di sini. Sayang sekali, kami belum sempat mengunjungi Maritime Museum, Baba dan Nyonya Museum serta Kampung Keling....*sedih*