Monday, September 24, 2007

ALE & DUL

Sudah seminggu lebih saya ngantor di tempat baru. Secara alamiah saya masih suka kangen sama kantor lama. Siapa sangka ya...dulu waktu pertama kali masuk ke kantor (yang lama) saya merasa gak betah dan merasa "alone"...eh sekarang saya baru sadar kalau saya ternyata mempunyai banyak sahabat di sana.

Dari semuanya, ada dua orang sahabat yang masih suka bikin saya tersenyum kalau saya mengingat ucapan atau tingkah laku mereka. Mereka adalah Ale dan Dul. Dua orang yang sama sekali tidak mirip ini, baik dalam rupa maupun sifat, mempunyai sisi masing-masing yang membuat saya kangen.

ALE
Ale sebenarnya merupakan teman lama saya. Ale saya kenal waktu kami sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu kami masuk sekolah ballet Tanneke Burki. Lulus SD, Ale menghilang sementara saya meneruskan hingga awal SMA.
Pertemuan dengan Ale di kantor lama cukup mengagetkan dan menghapuskan memori saya atas Ale kecil yang jutek dan kaku. Ale yang saya kenal saat ini adalah Ale yang humoris, pandai menempatkan diri dan mengambil hati orang lain, dan maniak VINCCI serta Body Shop hehe. Saya seringkali terkagum-kagum pada si banci kaleng ini. Suatu saat Ale bisa tampil begitu cantik dengan make up lengkap dan disaat yang lain berjalan dengan gagah dan super cepat saat menuju terminal busway. Ale bisa bertutur sapa lembut saat anak bungsunya menelpon, bertutur mesra saat suaminya menelpon, dan kemudian melontarkan tawa menggelegar saat bercanda dengan saya. Hemmmm, cuco' khaan... Ga sok manis, tapi tau diri. Kapan bisa tertawa lepas, kapan harus memberi teladan pada sang anak. Satu lagi, saya kagum saat Ale tetap profesional bekerja dan tetap berdedikasi sekalipun saat dia merasa kecewa atas keputusan institusi ataupun atasannya. Dia tidak pernah setengah2 saat bekerja. Salut, neng!

DUL
Dul adalah anak tetangga sebelah ;p Maksudnya, berbeda dengan Ale yang ada di departemen yg sama dengan saya, Dul berasal dari departemen lain. Pertemuan kami lebih banyak di alam maya (YM). Bingung? Sama dooong. Saya juga bingung. Dugaan saya sih karena si Dul ini orangnya pendiam dan kaku. Jadi kalo ngobrol empat mata atau face to face dengan saya dia suka salting huahahaha...Maklum saya kan mahluk "halus" ;)
Anyhow, ngobrol dengan Dul itu cukup membuat saya betah. Mungkin karena banyak hal yang bisa saya gali saat chatting dengan dia. Saya bisa nanya banyak hal yang berhubungan dengan pekerjaan sekaligus curhat tentang kantor. Hal yang ga banyak saya dapet dari superior saya saat itu. Entah kenapa si Dul juga kok betah2nya ngerumpi sama saya di YM, padahal kerjaan bapak ini buanyaaaknya setengah mati, tapi sempet aja tuh OL saat di luar kota. Kangen gw kali yaaa? hahahaha.....
Kalo saya sering konsul masalah kerjaan ama Dul. Sebaliknya Dul suka juga ngobrol soal masalah "pribadinya" dengan saya. Secara saya bokasa dan banyak pengalaman soal yang satu ini mah...yah saya terima aja dengan lapang dada. Lagian, kadang2 pertanyaan dan pernyataan Dul sering bikin saya geli, senyum, dan ketawa. Win-win toh???

Terima kasih Tuhan, menyinggahkan saya bekerja di kantor lama dan mengenalkan saya pada Ale & Dul. Semoga kau jaga mereka dalam kejauhan dan Kau berikan sahabat-sahabat lain di sini.

Monday, September 10, 2007

Hailing Ramadhan

I noticed that from about a month ago, many supermarkets or hypermarkets in Jakarta had prepared for hailing fasting month. It was clearly seen from the displays. They had variety of dates, hand-made cookies (castengeel, nastar,etc.), nata de coco, mukena, sajadah, sarung , hampers, and many more. Those items are well representing Ramadhan and Ied of Indonesian.

I am an Indonesian moslem who does not understand Arabic. Like most of Indonesian, I learned Islam automatically, without any awareness or questioning why or what every single of my devotion act means.
Every Ramadhan went by with a joy of a once a year experience where I can break fasting together with some friends, colleagues, family as well as having special treat on the Ied.

I do not want to end up blaming my culture or my odd nation. I am here as I have a chance to give meaning to this year's Ramadhan. A Ramadhan that gives me a chance to grow as a person, not only on Ramadhan, but afterwards. To forgive others, to be more patient, to share with others, to be grateful for His bless, and to be closer to Him.

I wish for a truly Happy Ied with a cleaner soul. More than a ritual of new clothes all over my body and cookies on tray.

Please forgive me for all my faults.
Marhaban Ya Ramadhan

Wednesday, September 05, 2007

Final days at the office (1)

I am kind of a shotgun Sam person--a kind of person who gives snap response to things, and now I regret myself for being mad to one of my colleagues.

I wish I could turn back time and let him flying with his illusion, opinion or whatever it was. Instead I exploded and I would never forget his calm (but I think it was startled) face. I am an open character and a lot of times LOL too much, but I am also sensitive. I hope he can forgive me for throwing such words.

Six working days left. After that, I will leave this institution and back to corporate. This is the fact that he doesn't know. This is not about friendship or even more. This is about professionality and a direction of my life. I choosed for what I think will be best for my family. I had signed the contract, dear friend. My life has to move on and so has yours...