Friday, July 28, 2006

*Angklung 11* dalam kenangan





Akhirnya kami sampai ke waktunya juga.... Kami harus pindah dari *Angklung 11*. (Kami maksudnya adalah keluarga Bandung=papa+mama+erwin+perabotan2 papa mama erwin irfan dan saya). Phiuuuhhh, ini adalah sebuah keputusan panjang. Sudah dipikirkan masak-masak dan dalam jangka waktu panjang. Sebagai bagian dari rencana yang Insya Allah bisa terwujud.

Sudah lebih dari 30 tahun kami tinggal di rumah ini. Jadi, walaupun rumah baru letaknya tidak jauh dari rumah dulu dan dalam kondisi yang lebih cantik tapi emotional attachment yang membuat kami terasa lebih berat meninggalkan rumah ini.....jadi,tentunya, ini bukan masalah rumah Angklung indah, mewah atau apa....
Anyway, perlahan-lahan melihat sebagian demi sebagian ruang dari rumah ini menjadi kosong ternyata membuat saya....waas...syeedih... Mengingat begitu banyak hal sudah terjadi di sini; lahir,belajar berjalan, main petak umpet, ulang tahun ke-17, diapelin pacar, ciuman pertama ;p, dilamar, hingga menyusui Sha.
Karena itu hari terakhir sebelum angkat2 barang dimulai, saya menatap setiap ruang dengan detil secara diam2. Jujur,saya ga mau ada yang tahu bahwa Hanny bisa menangis begitu mudah..;( . Saya mencoba menanamkan dalam ingatan saya setiap detil dari ruangan2....dan peletakan furniture2...



Mengenai pindah2annya sendiri..., saya menjadi mover yang bekerja keras selama 2 bulan terakhir. Bener2 kerja keras karena papa dan mama tipe orang yang seneng keep barang2 ga perlu. Alasannya, "Sayang ah...masih bagus" atau "Dulu belinya mahal loh" atau " Simpen aja, nanti pasti kepake kok"....IDIIIHHH!!!! Bayangin deh, kalo sifat ini sudah menahun dan tinggal di sebuah rumah selama 30 tahun.
Saya jadi seperti menemukan harta karun, hadiah2 pernikahan mama hampir 40 tahun lalu (berupa cangkir set) masih ada...malah ada 2 set dengan motif yang sama! Ahikkkk...

O, ya karena beberapa waktu belakangan ini saya sering ada di Bandung dan menempati kamar saya lagi bersama Sha, tentunya saya juga jadi ikut mengemasi barang2 kami. Plus juga barang2 saya yang ternyata masih sangat banyak di kamar tersebut. Koleksi komik Sin Chan, Novel Agatha Cristie, Text book Ilmu Komunikasi, baju2 pesta simpenan untuk acara Bandung, baju-baju tidur khusus simpenan kalo saya mudik ke Bandung, juga album2 foto zaman baheula. Belum lagi iket rambut - iket rambut...duh, saya bingung mau diapain...rambut saya sekarang cepak gini...;(

Akhirnya, sebelum menyerahkan kunci rumah ke pemilik baru, saya menatap sekali lagi ruang2 kosong yang pernah mengisi hari2 saya (sayang saya belum berhasil mendownload foto2 ini). Apapun rumah ini bentuknya nanti (direnovasi,di bangun ulang, atau apalah), saya berharap dia ga kesakitan saat dibongkar. Saya berharap rumah ini bisa memberi tempat berteduh yang menentramkam hati sebagaimana ia dulu kepada kami... Saya berharap rumah ini akan dipenuhi tawa dan memori seperti saat kami di sini dulu...

Monday, July 03, 2006

Is it the one?


Minggu lalu saya dapet offering untuk menjadi LO untuk kerjasama British Red Cross dan LIPI. Detailnya, posisi ini harus memonitor dan mengevaluasi (monef) relawan2 British Red Cross (BRC) di lapangan, hingga nantinya apa yang mejadi tujuan BRC dapat diukur kesuksesannya.
Nah, apa yang dimaksud dengan lapangan? 3 Kabupaten di Aceh. Relawan-relawan ini akan mengkomunikasikan buku pendidikan bagi siswa/i SD di sana yag bermuatan lokal kehidupan pesisir termasuk membangun pengetahuan dan awareness mengenai tsunami.
Konsekuensinya, karena harus memonef relawan2 tsb, posisi ini akan traveling Jakarta-Aceh secara regular (minimum 4-5 hari sekali jalan), termasuk menyeberangi laut ke kabupaten yang ada di pulau kecil (mungkin dengan speed boat atau perahu).

Buat saya ini bener2 hal baru dan bukan saja full of challenge tapi juga menyentuh sisi humanitas (taelaaa :p)... Biasa ada di hi-rise building di kawasan segitiga emas di Jakarta...biasa pakai suit yang manis dan wangi ketemu partner di merchantile....sekarang harus jump in to the real world....ketemu komunitas yang sekian lama mengalami banyak penderitaan dan kekecewaan dari mulai GAM sampai tsunami. Komunitas yang mungkin akan defensif terhadap "apa yang kami akan bawa"...

Selama ini saya memang mencari pekerjaan yang menawarkan challenge baru dan antara lain berminat untuk membangun karir di social services. Nah saat ada kesempatan datang, saya jadi berpikir bahwa ini bukan sekedar sebuah tawaran bekerja yang menawarkan challenge, tapi apakah saya berani mengambil komitmen untuk melakukan leap dalam perjalanan karir dan hidup saya? Is it the one?