Tuesday, February 28, 2006

Value for money...value for your health?


Pernah tergoda beli barang karena ada promosi atau sale? Hati-hati, jangan sampai akhirnya kecewa seperti saya....

Baru-baru ini, saat sedang di Bandung, saya mampir ke supermarket Y. Di sini saya membeli beberapa keperluan Sha yang udah habis. Salah satu yang perlu dibeli adalah wet tissue. Biasanya Sha pake merek Pigeon atau Mitu. Saat itu ada promosi buy one get one free untuk wet tisue dengan merek W. Waduh! Value for money tuh pikir saya. Langsung aja saya beli. Karena dengan demikian, dengan nominal yang sama saya mendapatkan jumlah yang ganda.

Gak lama, ternyata saya menemukan Sha seperti menunjukkan reaksi alergi. Muncul bintik2 merah seperti ruam di kulit kemaluan dan bokongnya. Aduh....selama ini dia ga punya masalah dengan diapersnya. Lagi pula kita selalu rajin menggantinya setiap 4-5 jam. Jadi saya lalu berasumsi bahwa Sha kemungkinan alergi pada wet tissue ini atau mungkin kualitas wet tissue ini sudah kurang baik. Entahlah....probably yes...

Sedih sekali, hanya gara2 10.000 rupiah, Sha harus menjerit setiap pup atau pipis. Rasanya saya mau marah ama diri sendiri. It's just not worthed!!!! Begitulah godaan promosi pada ibu2 tukang belanja seperti saya...yang beda seribu aja dikejar....eh ternyata malahan biaya dokter dan obat2an jadi lebih mahal. BETE!

Maafin Bunda ya, Sha....

Friday, February 17, 2006

Feming---who's who,from my prespective

Setelah ulang tahun pernikahan kami dan menjelang ulang tahun Feming,suami saya, saya jadi ingin berbagi sedikit tentang Feming yang saya kenal.

Kesan Pertama
All of my life, saya mungkin ga pernah kebayang akan menikah dengan Feming. Jangan lantas ini diartikan Feming sebagai sosok yang buruk, melainkan karena perbedaan di antara kami. Kalau saya kilas balik ke masa saat saya dan Feming pertama kali bertemu, jelas sekali bahwa saya dan Feming berada di dua kutub yang berlawanan. Feming dengan kehidupan PUNKnya dan saya dengan hedonisme anak gaul (yang ceritanya penyiar radio tealah ;p). Bukannya anak punk engga gaya, tapi mereka punya "gaya dan pola hidup" sendiri yang saya ga pahami.

Saat pertama kali ketemu sama Feming....ihhh syereeemmm. Serius! Dia botak, gede, diem, dan hmmmmm jauh dari rapi hihihi. Well, I guess the words " don't judge the book by its cover" is really true. Ternyata, Feming mahluk (berperasaan) halus hihiihi. Ga tau maksudnya JP atau emang tulus, saat kita nginep rame2 di rumah temen dan tengah malem saya kelaparan, dia dengan manisnya ngedadarin telor buat saya ;D Sampai sekarang siyy sebenernya saya masih curiga telornya itu ada peletnya huahahaha *justajokedarling*.

Masa Pacaran
Jarak Bandung-Jakarta ga pernah jadi penghalang buat Feming ngunjungin saya. Pernah suatu saat, (katanya) dia lagi ga punya uang banget, tapi mau ke Jakarta. Hiksss akhirnya dia merelakan jam swatch kesayangannya di lego buat ongkos. Itulah Feming. Kadang terlihat cuek dan bener2 ga peduli, tapi di saat yang lain dia bisa menunjukkan pengorbanan yang berlebih.

Saat awal pacaran, seperti sebagian anak punk (saya ga tau alasannya apa)Feming adalah vegetarian. Ini ngebuat saya risih dan kesal. Karena kalo kita makan bareng, entah di resto ataupun di warteg jadi buat susah. Lama kelamaan, Feming mulai kembali mengkonsumsi daging. Malah dia ketularan keluarga saya menjadi penggemar coto Makassar. Duh! (Saya ga berani nanya alasan apa sebenernya yang bikin dia kembali mengonsumsi daging. Apa karena memang rindu makan daging atau karena saya suka ngomel2....)Tapi hal di atas hanya hal2 ringan yang menunjukkan adaptasi Feming kepada hidup saya. Banyak hal lain, yang menggagetkan saya, bagaimana dia bisa berubah menyesuaikan diri tanpa saya harus meminta apalagi memaksa. Feming dengan cepat menyelesaikan kuliahnya.... Feming kembali shalat dan mengaji.... So, Amazing... Feming juga ternyata dalam diamnya memahami perasaan dan harapan saya. Terus terang, dari banyak cowok yang saya kenal, saya belum pernah ketemu dengan cowok sesensitif ini.

Let's get married!
Saya tidak pernah tahu, hingga saya menikah, betapa sedihnya Feming saat harus bekerja di Bangka. Saya yang sangat tidak sensitif menganggap ini sebagai suatu keputusan politis saja, karena dia memutuskan memulai karirnya. I thought it was only the probs of now or never. But, it's beyond that.

Feming dengan posisinya di Bangka, sempat membuat saya kehilangan banyak hal. Teman bicara, teman berbagi, pacar yang melindungi, dan banyak hal baik lainnya. Dia sendiri, menurut saya, agak sedikit mudah tersinggung saat itu. Sering kali hanya karena misscommunication, seperti saat baca sms yang tidak tuntas atau salah memahami isi SMS. This time was so hard. It took my Feming away.

Saat kita ketemu lagi (kopi darat hehehe), banyak yang Feming sampaikan, begitu juga dengan niatnya untuk lebih serius dengan hubungan kami. Dia juga (dengan gayanya yang suka petentengan ;p) datang ke rumah malam itu, bicara dengan papa dan mama saya. Feming yang suka cengos dalam lingkungan pertemanannya, sebenarnya orang yang sangat serius dengan perasaannya....

Our New Life

Feming dan saya punya opini yang sama. Bahwa kemesraan saat pacaran harus terus dibawa dalam pernikahan. Maka disinilah kami, membuka lembaran hidup, membangun masa depan. Bekerja, bermain, nongkrong, nonton bioskop, pulang malem, ngedugem, travelling, olah raga, menjadi agenda kami dalam hidup sehar-hari dalam lokasi yang berbeda.

Resume
Setiap manusia ga ada yang sempurna. Begitu juga Feming. Sedikit tentang kebaikannya sudah saya bagi untuk mendeskripsikan siapa Feming. Banyak hal lain yang tidak bisa diceritakan, hanya bisa disikapi.

Love you much, miss you more...,hubby!

Wednesday, February 01, 2006

Happy 2nd Anniversary

31 Januari 2006
06:43:42
SMS
"Pagi Bunda + Sha...
Udah sarapan?
Hari ini ulang tahun pernikahan kita.
Ceritain dong ke Sha...
Love you... mwh..mwh..."


Ya ampun!!!
Saya lupa.
Baca SMSnya pun udah agak siang.

Dua tahun menikah dengan Feming Elvind.
Bukan pernikahan yang mulus seperti Cinderella.
Tapi bukan juga pernikahan jungkir balik seperti sinetron2 Indonesia.
Ga ada adegan balas dendam dengan melibatkan polisi seperti di film India.
Apalagi peliknya berebut harta warisan kayak di telenovela.
Pernikahan kami pernikahan biasa yang naik turun.
Ada rasa sayang, kesal, bete, kangen, sebel, males telpon, pengen ketemu, dan ina inu lainnya.

Saya sempat juga kaget setelah menikah karena banyak adaptasi yang harus saya lakukan.
Juga tuntutan untuk menjadi mandiri dengan pola rumah tangga kami yang berjauhan.
Alhamdulillah banyak perubahan baik dari Feming yang sering bikin saya malu hati karena keukeuh dengan sifat saya yang "hanny banget".
Feming yang kaku ternyata sangat sensitif dan memahami saya dan posisi saya di tengah keluarga.
Feming, yang keras hati, ternyata lebih banyak mengalah kepada cita-cita dan harapan saya *yang kemudian lebih cenderung jadi cita-cita dan harapan kami*.
Feming yang pendiam, bisa sangat cerewet dan menghentikan dominasi saya tapi tidak untuk kembali mendominasi.


Semoga Allah senantiasa menjaga kami dalam kebaikan.
Memberi kami rizki yang cukup.
Mengkaruniai kami putra-putri yang shaleh.
Amien.


Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku
Warna - warna indahmu

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlukis jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sifatmu nan s'lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu

Sheila on 7
Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki