Wednesday, January 31, 2007

Bukan kata-kata indah...


Saya menghadapi lembar kertas kosong, tidak tahu harus menulis apa dan darimana harus memulai. Saya hanya membayangkan wajah kamu, lagi cengegesan….dengan baju hitam, celana jeans, dan sepatu all star. Bayangan itu berkelebat menjadi bayangan laki-laki dewasa yang mengejar-ngejar anak kecil, memakaikan pampers dan menggendongnya di punggung. Anak kecil itu tertawa senang, merasa diajak bermain.

Hidup memang menuntut kita terus berubah. Semoga dalam perubahan itu tidak mengurangi rasa sayang kita satu sama lain.

Saya menoleh ke cermin yang tergeletak di sebelah monitor komputer. Bukan untuk berkaca. Tapi untuk melihat wajah perempuan yang kini kerap dipanggil Bunda. Perempuan yang tiga tahun lalu berseri-seri duduk di pelaminan bersama kamu. Pelaminan yang dihiasi mawar merah muda dan lili putih. Segar dan anggun layaknya pengantin yang bersanding.

Waktu akan terus berjalan. Mungkin juga terbang. Semoga kamu tetap mencintai perempuan itu sejalan detik waktu mengikis usia dan tampilannya.

Jika saya kemudian berdiri dan ingin menonton TV di sofa, begitulah gambaran hidup. Seringkali kita bosan melakukan satu kegiatan yang sama, bertemu dengan orang yang sama, terbentur masalah yang sama, kelelahan yang menumpuk. Lebih asyik curhat dan merokok bersama teman baru, lebih fun pergi olahraga dengan geng di kantor, lebih enjoy baca tabloid bola di kursi malas.

Pagi akan berganti siang, siang akan berganti malam. Semoga kita tidak terjebak dalam rutinitas dan tetap mesra sepanjang masa.

Di TV, Sophan Sophian dan Widyawati menjadi bintang tamu sebuah talkshow. Saya tergelitik berpikir, seperti apa saya dan kamu di masa tua nanti. Tubuh yang melebar, rambut yang memutih, jalan yang melambat. Mungkin tidak seganteng Sophan Sophian hari ini, tapi masih Sophar Sogood (So far So good, maksud saya). Ah, ini hanya guyon.

Widyawati, Marissa Haque, Titik Sandora….bukan cuma bikin saya iri hati karena mereka awet muda tapi karena memiliki usia panjang untuk menikmati kasih sayang suami dan menyayangi suami. Semoga saya memiliki keberuntungan yang sama.

To my dearest hubby, Feming Elvind.
Happy Anniversary.
I love u,
Hanny

Monday, January 29, 2007

Catatan Perjalanan Lampung (3)




3 Januari 2007
Hari ini siap meninggalkan Lampung...
Lain kali ada waktu mengunjungi Lampung, saya harus menyediakan waktu ke Kalianda (Pantai yang kabarnya masih cukup bagus dibandingkan pantai pasir putih yang sudah tidak terawat lagi) dan Way Kambas.

Di harian lokal, berita pelatihan kami diliput. Nama saya di-quote. Sebenernya ga terlalu pengen "tampil" apalagi "jadi banci tampil". Tadi malam saya malah menolak untuk dijadikan nara sumber di radio lokal. Mungkin saya masih terbiasa dengan pola private co yang sangat menjunjung tinggi bahwa hanya spoke person yang boleh bicara... Mungkin juga karena Ga Pede...;p

Sebelum boarding, saya beli asuransi dulu ;(. Sebenarnya saya cukup sering juga beli asuransi penerbangan sebelumnya. Tapi kejadian Adam Air membuat saya benar2 kuatir tidak bisa kembali ke rumah dengan selamat.
Penerbangan delay sekitar 1 jam, sebelum akhirnya terbang dan sampai ke Jakarta. Alhmadulillah, saya bisa bertemu Sha lagi...Sha malah seneng banget dan doyan makan lempok duren...
Thanks God for another day in my life...

Sunday, January 28, 2007

Catatan Perjalanan lampung (2)

2 Januari 2007

Pagi ini saya membawakan materi pelatihan "Mengapa Media Massa Memiliki Peranan Penting dalam Komunikasi dan Advokasi Isu HIV/AIDS". *Duh...rasanya ga PEDE. Maklum, sudah lama ga bicara di depan orang banyak.*

Dalam Q & A banyak yang berbagi masalah dilematis di lapangan: kesulitan mengambil gambar ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), petugas medis yang menutup informasi, dll.
Memang banyak pihak yang belum memahami asas kerahasiaan dalam medis terutama HIV/AIDS. Bahwa disclosure atas status HIV/AIDS seseorang sepenuhnya menjadi hak dari orang ybs. Petugas medis tidak berhak untuk memberitahukan status HIV seseorang. Hak ini hanya boleh dilanggar bila berkaitan dengan pengadilan dan bila mengancam jiwa orang tsb. Selain itu, harapan terhadap jurnalis adalah pemberitaan yang edukatif dan tidak melulu mengandalkan sensionalitas (with respect to newsworthiness). Dalam arti, tak perlulah menunggu ada berita si A, B atau C terinfeksi dan menampilkan visualisasi bersangkutan (hal ini sempat dipermasalahkan rekan dari media TV), tapi bagaimana kita merubah angle pemberitaan dengan jurnalisme empati. Selain itu, jurnalis dapat juga mengangkat data-data dan isu yang ada dalam kaitannya dengan advokasi terhadap policy maker dan isu komitmen politis dan kepemimpinan lokal.

Dalam sesi ini juga muncul pembicaraan mengenai isu kondom. Bicara mengenai kondom memang selalu kontroversial. Memahami HIV/AIDS sebagai BUKAN penyakit moral ada disisi lainnya. Berbicara terus terang, saya YAKIN BENAR hubungan sah/halal TETAP memiliki resiko terinfeksi selama salah satu pasangan berhubungan dengan orang ke-3 tanpa kondom dan memiliki riwayat menggunakan narkotika suntik. Susahnya, hal ini disepakati oleh beberapa rekan jurnalis yang hadir, setelah menikah mereka OGAH pake kondom, padahal kemungkinan "jajan" itu besar. Apalagi saat "jajan" tersebut sangat mungkin merek OGI untuk pake kondom, lha wong udah bayar kok... ;)
Dari sini bisa terlihat bahwa mereka yang rawan terinfeksi HIV/AIDS bukan cuma PSK, Penasun (Pengguna Narkotika Suntik), Kaum Homoseksual, tapi juga mereka yang memiliki uang dan sering melakukan perjalanan jauh dari pasangannya. Kontan, semuanya jadi tertawa (miris), maklum ini artinya jurnalis dan kami (karena suka travel juga ;p dan kebagian uang per diem dari donor) masuk dalam kategori ini.

Pelatihan hari ini mempercepat hari ini menjadi sore. Dalam perjalanan pulang, kami singgah ke Suseno untuk beli sambal goreng udang kering dan lempok duren. Besok pagi, kami sudah harus pulang ke Jakarta dengan Adam Air (lagi!)

Friday, January 05, 2007

Catatan Perjalanan-Lampung (1)

2006 sudah berlalu. Saya berharap di tahun 2007, saya bisa lebih dalam menekuni social communication and advocacy. Semoga lebih banyak opportunity untuk berkembang dan memberi benefit bagi mereka yang "kurang beruntung". Amin.

1 Januari 2007
Saya baru tidur 3 jam pagi itu. Tapi saya sudah harus menuju Cengkareng. Beberapa hari antara Idul Adha dan tahun baru memang saya lewatkan di Bandung. Saya berangkat dengan primajasa, layanan bis eksekuitf yang melayani rute Bandung-Bandara Soekarno Hatta, dari BSM jam 4 pagi.

Alhamdulillah, jalan lancar dan saya tertidur pulas zzzzz....sampai tiba di terminal 1 C jam 06.30. Saya sarapan di A & W sebelum akhirnya kedua rekan saya (keduanya laki2) datang dan check-in di counter Adam Air bersama-sama.

Ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Lampung. Perjalanan melalui udara sangat singkat, 25 menit saja. Lebih lama menunggu boarding time ;p. Rencana awal adalah melalui darat. Tapi mengingat dua hari terakhir ombak sedang "gak kompromi" sehingga pelabuhan Merak ditutup, tentu saja kami tidak ingin mengambil resiko.

Melihat Lampung, seperti melihat Pangkal Pinang dalam skala yang lebih besar dan ramai. Khas alam Sumatera memang sangat menonjol. Bedanya, walaupun sama-sama dekat ke laut, jalan-jalan di kota ini naik turun (berbukit-bukit) seperti di Bandung. Alhamdulillah cuaca saat itu juga tidak terlalu panas, malah gerimis turun beberapa kali selama beberapa hari saya di sana.

Begitu datang saya langsung check-in. *Xixixixi...jangan ngebayangin saya nginep di hotel berbintang. Masa-masa "kejayaan" di private company sudah lewat, my friends.... forget about staying on the 4 or 5 star hotel lah...* dan langsung menuju kantor perwakilan di daerah. Chit chat here and there about all the preps for tommorow workshop dan blesssss......menuju Sukadanaham.

Sukadanaham adalah daerah dimana banyak sekali perkebunan duren berada, dari mulai lokal hingga monthong. Di sepanjang jalan, banyak sekali pedagang2 yang menjajakan duren. Kabarnya, duren yang dijajakan di tengah kota Bandar Lampung pun bersumber dari sini. Melihat banyaknya duren, saya udah ga tahan "ngacai" xixixixixi... Ga sabar rasanya mendengar teman, yang asli Lampung, menawar duren. Sepuluh ribu aja ditawar! Di Jakarta mah mana dapet yang harga segini. Setelah makan (walaupun belum puas benar), kami menggondol duren ke hotel. Padahal di hotel tertera jelas peraturan dilarang membawa buah yang berbau menusuk ;). Siang itu saya menghabiskan waktu membuka email dan mempersiapkan presentasi besok.

Menjelang sore, kedua lelaki itu ;p rupanya tertidur pulas. Jadi saya berinisiatif jalan sendiri ke pusat oleh-oleh. Dengan diantar taxi, saya memborong lempo duren, kripik pisang rasa manis-coklat-keju *hmmm yummy*, dan sambal goreng udang suseno. Diperjalanan, saya langsung akrab dengan supir taksi, Cik Man namanya. Rupanya, setelah mengetahui saya berdarah Bangka (padahal suami saya yang orang Bangka ;p), kita jadi langsung akrab...(gara-garanya sederhana saja, salah seorang kerabatnya juga masih berdarah Bangka....). Cik Man sempat mengajak saya putar2 Bandar Lampung, kota yang merupakan gabungan Teluk Betung dan Tanjung Karang (dengan tarif flat loh!).

Dari perjalanan kali ini, saya sama sekali ga mengharapkan kesempatan untuk "jalan2". Maklum, saya sama sekali belum siap untuk journalist class besok. Belum bikin presentasi dan susun makalah. Malam menjelang tidur, si boss telpon dari Jakarta, " Han, kamu denger gak kalau pesawat Adam air yang pagi ini dari jakarta menuju Manado hilang?" Glek!!!!