Tuesday, April 11, 2006

Melaka (1)

Dari awal perjalanan, kami berdua sudah mempertimbangkan untuk melongok Melaka. Saat tiba di hotel dan melihat paket tur ke Melaka...wuiiihhh kami langsung terjengkang hehehe.... Tadinya kami berpikir untuk ikut tur supaya menghemat waktu, tapi kalo hitung punya hitung biaya tur = 4 x biaya kalo kami berangkat sendiri... ya akhirnya tentu saja kami pilih berangkat sendiri.

Perjalanan ke Melaka hanya 2 jam dengan bis dari Hentian Puduraya di KL. Banyak pilihan bis di sini. Walaupun gedung stasiun bis ini jauh lebih tuwir dari terminal Kampung Rambutan (JKT) atau Leuwi Panjang (BDG) tapi Hentian Puduraya jauh lebih bersih (banget) dan teratur. Jadi, kami sama sekali ga kesulitan untuk memilih bis dan membeli tiket yang kurang dari 10 RM per orang. Bisnya juga sangat nyaman....dan tenang....Ga ada yang ngamen,ga ada yang jualan jeruk, ga ada pengemis,ga ada yang nawarin tabloid infotaiment....(bayangin suasana saat kita masuk bus di terminal di Indonesia hehehe). Karcis pun sudah dibeli di loket dan diberi nomor duduk.







Begitu sampai di terminal bus di Melaka, kami langsung menuju information centre untuk mendapatkan peta Melaka. Dari sini kami naik town bus (seharga sekitar 80 sen saja) dan langsung turun di red square yang terkenal. Red square ini dikenal juga dengan sebutan dutch square. Kenapa disebut red square? Karena gedung2 di central point ini dicat merah semua. Di sini terdapat 2 gedung tua, yaitu Christ Church dan Stadhuys. Selain itu, juga terdapat clock tower dan Victorian Fountain (fountain ini merupakan persembahan rakyat Melaka kepada Queen Victoria di tahun 1904).
Christ Church sendiri merupakan gereja protestan yang dibangun saat Belanda menjajah Melaka. Ada sedikit perubahan yang dibuat oleh Inggris setelah mereka merebut kembali Melaka dari Belanda. Melaka, karena letaknya yang strategis dan memiliki nilai eknomik yang tinggi mengalami 4 penjajah yang berbeda: Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang. No wonder jika saat ini terlihat banyak sekali peninggalan sejarah dengan gaya arsitektur yang berlainan.
Stadhuys adalah town hall, umurnya sudah 340 tahun. Kini gedung ini digunakan sebagai muzium sejarah dan etnografi. Menurut saya sih, lebih grande stadhuys di oude Batavia (kini dikenal dengan museum Fatahillah).





Di belakang stadthuys ini ada Galeri Laksamana Cheng Ho. Tepatnya di antara muzium sastra, muzium pemerintahan demokrasi, dan muzium sejarah dan etnografi (nagunan stadthuys.) Cheng Ho adalah Tionghoa Muslim yang hidup sekitar 6 abad lalu. Cheng Ho sudah menjelajah antar benua selama 7 kali berturut2 selama 28 tahun jauh sebelum Columbus dan Vasco Da Gama menjelajah dunia. Cheng ho juga dikabarkan turut menyebarkan Islam. Cheng Ho juga sempat mampir di Nusantara, seperti di Bangka, Tuban, dan Semarang. Salah satu anak buah armadanya juga merupakan cikal bakal keturunan Tiong Hoa di Semarang dan membangun kuil Sam Po Kong.
Sebenernya siy saya agak kecewa dengan galeri ini. Karena ternyata ga banyak peninggalan Cheng Ho di sini. Paling hanya replika kapal, peta perjalanan Cheng Ho, sedikit mengenai silsilah keluarga, dan beberapa dokumentasi dalam peringatan 100tahun Cheng Ho.
Di Indonesia sendiri, kini Cheng Ho sudah semakin harum namanya (ga ngalagin Ibu Kartini siyyyy). Sudah mulai banyak peringatan dan tulisan mengenai Cheng Ho. National Geographic juga sempat mengeluarkan tulisan mengenai Cheng Ho di salah satu edisinya belum lama ini.

Tuesday, April 04, 2006

KL (4)




Menara KL
Dari kamar kami di hotel, kami mendapatkan view Menara KL. Saya dan Feming senang sekali memandanginya di saat malam. Karena kalau malam, menara komunikasi tertinggi ke-4 di dunia ini terlihat lebih cantik. Terutama lampu2 dari bagian bundar yang terletak di puncaknya.

Menara KL merupakan salah satu landmark Malaysia. Menara ini tingginya 421 meter dan selesai dibangun pada tahun 1995-1996. Dari observation deck, kita dapat menikmati view KL. Saat itu, saya dan Feming, sengaja memilih waktu malam hari untuk ke menara ini karena ingin menikmati city light. Walaupun badan cape banget karena baru saja kembali dari Malaka (lengkap dengan minyak2 di wajah :p) kami datang dengan penuh semangat. Cayoooooo.....

Dari pintu gerbang, kami menggunakan shuttle bus menuju menara. Kalo ga, pasti gempor, karena jalan ke atas ini cukup menanjak tajam dan berkelok2.
Memasuki lobby level, makin jelas bagi kami bahwa menara ini merefleksikan arsitektural Islam yang cukup kental. Saat masuk (setelah menunjukkan tiket dan sebelum naik ke lift) di langit2 kami menemukan muqarnas (ini merupakan kerajinan dari kaca. kalo saya ga salah ini merupakan kerajinan khas dari timur tengah), yang merefleksikan berlian besar yang menggambarkan 7 lapisan (layer) langit.

Di observation deck ini kami dapat menggunakan teropong dan audio tour secara cuma2 *asa diulangtaunkeun nemu nu haratis mah hehe* Dari sini kami berdua menemukan hotel tempat kami menginap, Hentian Puduraya, Menara Petronas dan banyak tempat lainnya.
Di puncak Menara KL ada Seri Angkasa Revolving Restaurant. Sayang sekali kami berdua tidak bisa makan malam di sana. Karena untuk masuk, kami harus mengenakan sepatu dan berpakain sopan (hehehe aye mah turis...pake sendal jepit dan kaos oblong ;p)





Menara Petronas dan KLCC
Malaysia kayaknya gemar banget bikin rekor. Saya ga tau pasti kenapa. Dugaan saya siy mungkin untuk memberi "jalan" kepada promosi negara ini ke publik. Coba aja lihat setelah Menara Petronas tidak lagi menjadi menara tertinggi di dunia (kalah oleh Taipei 101), mereka sekarang mengklaim dari sudut yang lain yaitu bahwa menara ini menara kembar tertinggi dunia. Kalau di kemudian hari ada menara lain yang lebih tinggi, mungkinkah mereka akan mengklaim menara ini sebagai menara berarsitektur islam tertinggi di dunia? :p... hmmm retoris ajah!

Menara Petronas tingginya 452m. Menara satu merupakan kantor pusat Petronas, sedangkan menara dua disewakan kepada banyak perusahaan seperti Microsoft, IBM, dan Bloomberg. Lantai gedungnya merupakan segi delapan yang merefleksikan seni Islam. Saya lupa pastinya berapa lantai yang ada di menara ini, yang pasti jembatan langit /skybridge (menghubungkan kedua menara) ada di lantai 41 dan 42. Pengunjung dapat naik ke jembatan ini secara cuma2 asalkan rela mengantri. Selama antri, kita dapat menikmati berbagai alat peraga yang berhubungan dengan teknis menara ini. Misalnya ada kurungan faraday (ini menjelaskan bagaimana metode kumparan faraday di atas menara ini dapat mencegah menara dari sambaran listrik). Huh...asa kembali ke kelas fisika zaman sma (ehemmmm inget Pak BE, guru fisika yang cute :p).

Di bagian bawah menara, terdapat KLCC, pusat perbelanjaan yang cukup bergengsi di KL. Dalamnya sih, menurut saya, gak jauh beda ama Plaza Indonesia. Begitu juga dengan brand2 yang ada (kecuali ISETAN--departmen store asal jepang ini merupakan major tenant KLCC). Yang paling menarik cuma sale Vincci yang memang sedang berjalan di KLCC dan berbagai mall di KL saat itu. Haussss....haus...... :)
Di luar KLCC, terdapat taman, trek jogging, kolam air mancur dengan lansekap yang menarik saat dilihat dari skybridge.

Selain KLCC, di bagian bawah menara terdapat Dewan Filharmonik Orkestra Petronas dan Science Centre.

Note: Kami berdua tidak terlalu puas dengan hasil kunjungan kami ke Menara Petronas. Menurut kami, view dari Menara KL lebih indah..apalagi kalo sempat trekking di taman sekitar menara.

Sunday, April 02, 2006

KL (3)




Indian Cuisine at NAGAS
Walaupun Malaysia merupakan negara dengan etnis Cina terbanyak di Asia Tenggara, etnis India juga merupakan salah satu etnis yang cukup banyak terlihat di sini. Saya tidak tahu pasti kenapa, dan apakah ini ada kaitannya dengan Malaysia sebagai salah satu negara bekas jajahan Inggris.

Well, saya dan Feming akhirnya bertemu dengan Ramesh. Teman kami yang berdarah India ini bermaksud mengenalkan masakan khas India kepada kami. Di Indonesia masakan India memang tidak terlalu populer. Malam itu, kami menuju NAGAS, salah satu restoran India, tidak jauh dari little india.

Malam itu Feming memilih daging kambing muda (hmmm....pantesan malemnya hot ;p) dan diberi bumbu seperti rendang dan nasi (Feming sangat susah lepas dari nasi ;p) yang rupanya mirip dengan nasi kuning. *Seingat saya, Ramesh menyebut daging kambing muda sebagai acen atau ancen*
Pilihan saya adalah roti nan dengan keju (roti nan ini bisa plain, bisa diberi bawang dan banyak variasi lainnya) dipadukan dengan bumbu kuning dan ayam tandoori.
Mau tanya apa rasanya? Hmmmm untuk saya (yang selalu nrimo dengan berbagai jenis makanan apapun) not badlah for a beginner. Untuk Feming? hihihihi komentarnya siy haru biru...karena rupanya si daging kambing tadi berbumbu kari (lagi!) We have to try anyway, hubby! :D

Ramesh sendiri orangnya sangat sopan dan educated. Agak berbeda dengan kami yang cewawakan dan cuek. Sayang sekali istri dan anaknya berhalangan hadir. Moga2 ada kesempatan berikutnya dimana kami (laen kali bersama Sha) bisa bertemu lagi dengan Ramesh dan keluarga.

Di sekitar Little India, sebenarnya tidak ada sesuatu yang khusus untuk dilihat. paling2 (lagi2) market yang berisi berbagai macam barang semisal rolex seharga 10 RM :p Dari mobil Ramesh yang melewati beberapa toko India malam itu, rasanya saya masih bisa mencium aroma spices India dan bunga2 yang digunakan untuk mereka bersembahyang.




Saat mengantar kami kembali ke hotel, Ramesh menunjukkan Dataran Merdeka kepada kami. Di sekitar sini, kami melihat banyak gedung tua yang menarik. Antara lain Sultan Abdul Samad Building dan Mesjid Jamek. Gedung ini merupakan kombinasi arsitektur victorian dan moorish. Cantik sekali.....