
China Town
Sebelum kami berangkat ke KL, saya sempat menemukan info mengenai China Town di KL dimana terdapat Petaling Street yang terkenal. Terus terang, saya dan Feming agak kecewa juga pada saat akhirnya menemukan Jalan Petaling ini. Ga sesuai rekomendasi gitu...
Di sekitar China Town ini keadaannya crowded banget, ga siang dan ga malam. Letaknya dekat sekali dengan Hentian Puduraya (salah satu terminal bis utama di KL) dan Central Market (tempat belanja suvenir murahan). Kondisi Jalan Petaling sangat mirip dengan China Town di Sydney. Atau lebih gampang lagi Pasar Baru di Jakarta. Bedanya, kalo di Pasar Baru banyak India kalo di sini ya jelas banyak orang Cina dan tulisan Mandarin dimana2. Di sepanjang Jalan Petaling, banyak sekali toko-toko yang berjualan beraneka jenis barang-barang palsu....(i believe it's kinda fake PRADA bags, fake ADIDAS jackets and many more fake goods). Terus terang barang2 gini ga menarik buat saya yang biasa tinggal di Indonesia. Bukan artinya saya mampu dan biasa beli yang asli. Tapi di JKT barang2 ginian ga kalah serunya. Guess that I feel enough with all those ITCs in JKT, Tanah Abang, or Pasar Ular. Untuk Feming sendiri, hehe dia memang ga terlalu silau ama merek kecuali dia ngeceng berat ama modelnya.
Kalau malam, Jalan Petaling ini benar2 tertutup dengan kios2 bertenda biru. Dagangannya sih sama ama yang siang tadi, cuma sekarang karena pedagangnya lebih banyak ya jadi jauh lebih penuh aja. Sehingga kalo kita mau lewat...kita benar2 harus berjalan di antara pedagang, barang dagangan, dan calon pembeli. Ripuh!
Satu hal yang saya suka dari barang dagangan di sini cuma suvenir hehehe. Walaupun Central Market dikatakan sebagai pusat suvenir (dari jumlah ragam dan harganya yang bersaing), tapi pengalaman saya menunjukkan bahwa belanja suvenir di sini harganya bisa jauh lebih murah. Resepnya, teken aja terus penjualnya hehehe (read: bargain hard).

Kebetulan saat pertama kali mengunjungi China Town adalah saat jam makan siang. Jadi kami sekalian aja mencoba salah satu food court yang ada dan mencoba menu terkenal Malaysia, yaitu Nasi Lemak. Wuiiihh....Feming ga tahan dengan aroma kari yang sangat kental pada ayamnya. Nasi lemak ini lebih kurang mirip dengan nasi uduk. Tapi nasi lemak ini biasanya berpasangan dengan kari. Saya sendiri ga keberatan dengan kari asal ga terlalu sering aja. Saat malamnya, kami kembali ke Jalan Petaling mencoba memilih dari sekian banyak kios yang ada (sebagaimana digembar-gemborkan banyak pihak katanya enak2 dan murah). Damn the review! Kita makan sate kambing dan ketupat dengan harga 10RM. Puihhhhhh...rasanya manis...ketupatnya keras kayak batu (kayaknya kebanyakan kapur). Feming marah berat....karena perutnya udah laper banget. Akhirnya kita berjalan ke Puduraya dan Feming makan nasi kampong dengan pilihan sardin :( *cari aman, jek!*
Di sekitar China Town-Hentian Puduraya-Central Market tergambarlah apa yang dikatakan Malaysia sebagai truly Asia. Di sini kita akan menemukan etnis Melayu, India, dan Cina berbauran. Bahasa yang digunakan pun beragam. Jadi terkadang kalau kami tanya arah jalan pakai Bahasa Inggris...eh di jawab pakai Bahasa Melayu. Atau kadang saat kami tanya pakai Bahasa Melayu...eh yang ditanya ge ngerti...dan saat kami ganti lagi ke Bahasa Inggris ternyata ga ngerti juga...Rupanya ngertinya Bahasa Mandarin doang! *maappppp....les bahasa mandarinnya berhenti,Ci!*








