Wednesday, March 29, 2006

KL (2)



China Town
Sebelum kami berangkat ke KL, saya sempat menemukan info mengenai China Town di KL dimana terdapat Petaling Street yang terkenal. Terus terang, saya dan Feming agak kecewa juga pada saat akhirnya menemukan Jalan Petaling ini. Ga sesuai rekomendasi gitu...

Di sekitar China Town ini keadaannya crowded banget, ga siang dan ga malam. Letaknya dekat sekali dengan Hentian Puduraya (salah satu terminal bis utama di KL) dan Central Market (tempat belanja suvenir murahan). Kondisi Jalan Petaling sangat mirip dengan China Town di Sydney. Atau lebih gampang lagi Pasar Baru di Jakarta. Bedanya, kalo di Pasar Baru banyak India kalo di sini ya jelas banyak orang Cina dan tulisan Mandarin dimana2. Di sepanjang Jalan Petaling, banyak sekali toko-toko yang berjualan beraneka jenis barang-barang palsu....(i believe it's kinda fake PRADA bags, fake ADIDAS jackets and many more fake goods). Terus terang barang2 gini ga menarik buat saya yang biasa tinggal di Indonesia. Bukan artinya saya mampu dan biasa beli yang asli. Tapi di JKT barang2 ginian ga kalah serunya. Guess that I feel enough with all those ITCs in JKT, Tanah Abang, or Pasar Ular. Untuk Feming sendiri, hehe dia memang ga terlalu silau ama merek kecuali dia ngeceng berat ama modelnya.
Kalau malam, Jalan Petaling ini benar2 tertutup dengan kios2 bertenda biru. Dagangannya sih sama ama yang siang tadi, cuma sekarang karena pedagangnya lebih banyak ya jadi jauh lebih penuh aja. Sehingga kalo kita mau lewat...kita benar2 harus berjalan di antara pedagang, barang dagangan, dan calon pembeli. Ripuh!
Satu hal yang saya suka dari barang dagangan di sini cuma suvenir hehehe. Walaupun Central Market dikatakan sebagai pusat suvenir (dari jumlah ragam dan harganya yang bersaing), tapi pengalaman saya menunjukkan bahwa belanja suvenir di sini harganya bisa jauh lebih murah. Resepnya, teken aja terus penjualnya hehehe (read: bargain hard).


Kebetulan saat pertama kali mengunjungi China Town adalah saat jam makan siang. Jadi kami sekalian aja mencoba salah satu food court yang ada dan mencoba menu terkenal Malaysia, yaitu Nasi Lemak. Wuiiihh....Feming ga tahan dengan aroma kari yang sangat kental pada ayamnya. Nasi lemak ini lebih kurang mirip dengan nasi uduk. Tapi nasi lemak ini biasanya berpasangan dengan kari. Saya sendiri ga keberatan dengan kari asal ga terlalu sering aja. Saat malamnya, kami kembali ke Jalan Petaling mencoba memilih dari sekian banyak kios yang ada (sebagaimana digembar-gemborkan banyak pihak katanya enak2 dan murah). Damn the review! Kita makan sate kambing dan ketupat dengan harga 10RM. Puihhhhhh...rasanya manis...ketupatnya keras kayak batu (kayaknya kebanyakan kapur). Feming marah berat....karena perutnya udah laper banget. Akhirnya kita berjalan ke Puduraya dan Feming makan nasi kampong dengan pilihan sardin :( *cari aman, jek!*

Di sekitar China Town-Hentian Puduraya-Central Market tergambarlah apa yang dikatakan Malaysia sebagai truly Asia. Di sini kita akan menemukan etnis Melayu, India, dan Cina berbauran. Bahasa yang digunakan pun beragam. Jadi terkadang kalau kami tanya arah jalan pakai Bahasa Inggris...eh di jawab pakai Bahasa Melayu. Atau kadang saat kami tanya pakai Bahasa Melayu...eh yang ditanya ge ngerti...dan saat kami ganti lagi ke Bahasa Inggris ternyata ga ngerti juga...Rupanya ngertinya Bahasa Mandarin doang! *maappppp....les bahasa mandarinnya berhenti,Ci!*

Thursday, March 23, 2006

KL (1)

Sudah lama, saya dan Feming "termakan" campaign Turisme Malaysia, Truly Asia. Jadi pada kesempatan liburan tahunan kali ini kami memutuskan untuk mengunjungi KL dan Malaka.


Perjalanan kami pada awal Maret lalu, dimulai dengan KLIA, Bandara yang memiliki desain modern dan hi-tech. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah transit di sini. Makanya saya cukup heran saat tiba di bandara ini dan tidak menemukan toko2 duty free yang beragam dan menarik :p. Setelah saya lebih teliti lagi, ternyata terminal saya sekarang ini berbeda dengan terminal transit saya dulu (berbeda gedung). Untuk berpindah ke gedung lain tersebut, saya dapat menggunakan aerotrain, free of charge.
KLIA sendiri, setahu saya, dibangun oleh seorang arsitek asal Jepang dan mulai beroperasi di tahun 1998. Dengan arsitektur dan fasilitas modern, airport ini pantas bersaing dengan Changi.

Dari airport, kami menuju hotel di area bukit bintang dengan menggunakan bus. Banyak sekali moda transportasi yang sebenarnya dapat dipilih, seperti express rail link, shuttle bus menuju Hentian Duta, dan lain sebagainya. Sebagai budget traveller, kami memilih naik bus menuju Stasium KTM (Kereta Api Tanah Melayu) terdekat, yaitu stasiun NILAI. Dengan sekitar 5 ringgit berdua, kami sampai di sana dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun KL Sentral. Total lama perjalanan yang kami tempuh dari KLIA yang terletak di Sepang menuju KL adalah hampir 2 jam.

Dalam perjalanan menuju stasiun NILAI, kami melihat Malaysia "buhun". Maksudnya, saat nanti kami sampai di kota KL, kami akan menemukan kota yang modern, maju, hi-tech, di mana Malaysia seakan telah berubah menjadi negara yang maju dengan demokrasi ekonomi yang tidak semata2 mengandalkan perkebunan dan pertambangan. Tapi dalam perjalanan ini, kami menemukan hamparan tanah putih yang mengandung timah, perkebunan kelapa sawit yang luas dan perkampungan-perkampungan sub urban yang teratur. Kalau diperhatikan sekilas, alam, bentuk rumah, dan cuaca persis sekali dengan Sumatra.
Sepanjang perjalanan ini, kami bersama2 dengan 2 turis asal Prancis. Ga tau juga siapa yang ngikutin siapa, yang jelas lumayan aja, ada sedikit teman seperjuangan, apalagi dia bawa buku travelling yang bisa dijadikan guide (wuihh...isinya seluruh dunia looo.....pasti mahal :p). O, ya di Malaysia ini kami sering juga menemukan orang berbahasa Indonesia dan Jawa. Jadi saat saya dan Feming ingin ngerumpi, kami memutuskan menggunakan Bahasa Sunda hehehe Insya Allah lebih aman...

Dari KL Sentral kami masih harus menggunakan LRT dan monorail menuju Bukit Bintang. Menemukan hotel juga bukan perkara yang sulit, karena di depan stasiun monorail bukit bintang ada kios informasi yang menerangkan lokasi sekaligus memberikan peta dan brosur cuma-cuma (bayangin kalo harus beli buku travelling guide kayak londo dari prancis tadi :p).

Daerah Bukit Bintang ini sendiri dikenal dengan banyaknya pertokoan, cafe, dan restauran. Bayangin, baru turun dari stasiun monorail aja udah disambut ama Lot 10 di sebelah kiri :p kemudian ada juga mall lain2 seperti Sungai Wang, BB, Plaza Low Yat, Debenhams, dan masih banyak lagi. Di sini juga terletak Planet Hollywood dan beberapa diskotek, bagi mereka yang pengen keluar malem. Sayangnya, malam ini kami ada janji untuk kopi darat dengan teman India kami, Ramesh.
Di seputar hotel, di jalan Tengkat Tong Shin, juga banyak cafe2 kecil dan hawker stalls. Yang ditawarkan beragam, dari mulai masakan kampong (masakan Melayu yang mirip dengan masakan Sumatra), masakan cina, masakan vietnam, masakan Baba dan Nyonya, duren, baso tulang, dan masih banyak lagi. Jadi 24 jam sehari kami tidak perlu takut kelaparan. Apalagi toko 7-11, yang kalo di Oz cepet banget tutup...,di sini buka 24 jam.
Di sekitar hotel kami juga banyak hostel yang bisa menjadi alternatif bagi para backpakers. Kebanyakan, cafe2 dan hostel2 ini menggunakan bangunan 2 tingkat yang sangat kental arsitektur cinanya (2 bad, i did not take a picture). Di depan bangunan ini (di trotoarnya) juga ada semacam kotak (seperti kotak pos di Indonesia tapi terbuka di salah satu sisinya) dimana dipasang peralatan sembahyang (hio). Hal serupa ini juga saya temukan di Bangka, daerah yang kental dengan keturunan Cina. Bedanya kalau di Bangka, biasanya rata2 rumah warga keturunan memiliki kuil kecil sendiri.

Friday, March 10, 2006

Pengalaman Pertama Sha Berenang


Setiap Feming pulang ke Jakarta, saya biasanya udah usul, kemana aja keluarga kecil kita mau jalan. Bukannya apa2, kesempatan Feming untuk berinteraksi dan berkegiatan dengan kami (saya dan Sha) boleh dibilang once in a blue moon. Jadi kami selalu menyepakati aktivitas apa aja yang dilakukan selama satu minggu Feming di Jakarta. Kali ini, kami sepakat untuk ngajak Sha berenang. Sha memang baru 7 bulan siyyy. Tapi kami pikir ga ada salahnya untuk mengenalkan Sha pada aktivitas outdoor lebih dini, terutama karena berenang sangat baik bagi tulangnya. Lagian selama ini, Sha seringnya cuma dibawa ke mall doang. Maklum, si indung tea hiburannana ke mal huehehehe


Sabtu pagi, Saya-Feming-Sha ke Hotel Kartika Chandra. Paling dekat dan paling ekonomis. Memang ga ada seluncuran...tapi toh Sha memang belum bisa juga kan. Paling hanya early introduction to water besides bathroom/bath tube hehe. O, iya Sha udah beli baju renang dan ban lumba2 loh....(eughhh ieu mah si indung deui nu boga hajat....). Mama dan Papa saya juga ikut jadi penonton.... Maklum pengalaman pertama Sha, jadi Papa dan Mama Eyangnya juga ga mau ketinggalan...
Sha kelihatan sempet bingung waktu dinaikin ke ban renang. Terus dia mulai senyum2 sama Mama Eyangnya. Kemudian Feming mengangkat Sha dari ban...wuih dia seneng..karena kakinya bisa maen aer....cipluk....cipluk....
Nahhhh....berenangnya kudu selesai waktu Sha kemudian nangis. Kenapa? Sha ditengkurapin (digendong Feming). Terus Sha ga mau berhenti bergerak termasuk mengexplore untuk memasukkan kepalanya sendiri ke air.... Hwaaaaaa.....air kolam keminum dan masuk hidung.....


Ok deh, Sha....
Next time kita coba lagi yakkk....