Thursday, March 23, 2006

KL (1)

Sudah lama, saya dan Feming "termakan" campaign Turisme Malaysia, Truly Asia. Jadi pada kesempatan liburan tahunan kali ini kami memutuskan untuk mengunjungi KL dan Malaka.


Perjalanan kami pada awal Maret lalu, dimulai dengan KLIA, Bandara yang memiliki desain modern dan hi-tech. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah transit di sini. Makanya saya cukup heran saat tiba di bandara ini dan tidak menemukan toko2 duty free yang beragam dan menarik :p. Setelah saya lebih teliti lagi, ternyata terminal saya sekarang ini berbeda dengan terminal transit saya dulu (berbeda gedung). Untuk berpindah ke gedung lain tersebut, saya dapat menggunakan aerotrain, free of charge.
KLIA sendiri, setahu saya, dibangun oleh seorang arsitek asal Jepang dan mulai beroperasi di tahun 1998. Dengan arsitektur dan fasilitas modern, airport ini pantas bersaing dengan Changi.

Dari airport, kami menuju hotel di area bukit bintang dengan menggunakan bus. Banyak sekali moda transportasi yang sebenarnya dapat dipilih, seperti express rail link, shuttle bus menuju Hentian Duta, dan lain sebagainya. Sebagai budget traveller, kami memilih naik bus menuju Stasium KTM (Kereta Api Tanah Melayu) terdekat, yaitu stasiun NILAI. Dengan sekitar 5 ringgit berdua, kami sampai di sana dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun KL Sentral. Total lama perjalanan yang kami tempuh dari KLIA yang terletak di Sepang menuju KL adalah hampir 2 jam.

Dalam perjalanan menuju stasiun NILAI, kami melihat Malaysia "buhun". Maksudnya, saat nanti kami sampai di kota KL, kami akan menemukan kota yang modern, maju, hi-tech, di mana Malaysia seakan telah berubah menjadi negara yang maju dengan demokrasi ekonomi yang tidak semata2 mengandalkan perkebunan dan pertambangan. Tapi dalam perjalanan ini, kami menemukan hamparan tanah putih yang mengandung timah, perkebunan kelapa sawit yang luas dan perkampungan-perkampungan sub urban yang teratur. Kalau diperhatikan sekilas, alam, bentuk rumah, dan cuaca persis sekali dengan Sumatra.
Sepanjang perjalanan ini, kami bersama2 dengan 2 turis asal Prancis. Ga tau juga siapa yang ngikutin siapa, yang jelas lumayan aja, ada sedikit teman seperjuangan, apalagi dia bawa buku travelling yang bisa dijadikan guide (wuihh...isinya seluruh dunia looo.....pasti mahal :p). O, ya di Malaysia ini kami sering juga menemukan orang berbahasa Indonesia dan Jawa. Jadi saat saya dan Feming ingin ngerumpi, kami memutuskan menggunakan Bahasa Sunda hehehe Insya Allah lebih aman...

Dari KL Sentral kami masih harus menggunakan LRT dan monorail menuju Bukit Bintang. Menemukan hotel juga bukan perkara yang sulit, karena di depan stasiun monorail bukit bintang ada kios informasi yang menerangkan lokasi sekaligus memberikan peta dan brosur cuma-cuma (bayangin kalo harus beli buku travelling guide kayak londo dari prancis tadi :p).

Daerah Bukit Bintang ini sendiri dikenal dengan banyaknya pertokoan, cafe, dan restauran. Bayangin, baru turun dari stasiun monorail aja udah disambut ama Lot 10 di sebelah kiri :p kemudian ada juga mall lain2 seperti Sungai Wang, BB, Plaza Low Yat, Debenhams, dan masih banyak lagi. Di sini juga terletak Planet Hollywood dan beberapa diskotek, bagi mereka yang pengen keluar malem. Sayangnya, malam ini kami ada janji untuk kopi darat dengan teman India kami, Ramesh.
Di seputar hotel, di jalan Tengkat Tong Shin, juga banyak cafe2 kecil dan hawker stalls. Yang ditawarkan beragam, dari mulai masakan kampong (masakan Melayu yang mirip dengan masakan Sumatra), masakan cina, masakan vietnam, masakan Baba dan Nyonya, duren, baso tulang, dan masih banyak lagi. Jadi 24 jam sehari kami tidak perlu takut kelaparan. Apalagi toko 7-11, yang kalo di Oz cepet banget tutup...,di sini buka 24 jam.
Di sekitar hotel kami juga banyak hostel yang bisa menjadi alternatif bagi para backpakers. Kebanyakan, cafe2 dan hostel2 ini menggunakan bangunan 2 tingkat yang sangat kental arsitektur cinanya (2 bad, i did not take a picture). Di depan bangunan ini (di trotoarnya) juga ada semacam kotak (seperti kotak pos di Indonesia tapi terbuka di salah satu sisinya) dimana dipasang peralatan sembahyang (hio). Hal serupa ini juga saya temukan di Bangka, daerah yang kental dengan keturunan Cina. Bedanya kalau di Bangka, biasanya rata2 rumah warga keturunan memiliki kuil kecil sendiri.

1 comment:

Bundanya Tiara said...

kamana wae sih bu kabarna, kangan ngagosip nih. Btw, gaye ih jalan2, belom kesampean ka KL:-)