Thursday, August 30, 2007

Cinta sudah tidak di sini

Ia marah besar. Wajah lembutnya hilang, rahangnya mengeras. Ia tidak kehilangan keindahan wajahnya. Karena wajahnya memang biasa saja. Hanya matanya yang biasa menyinarkan kecerdasan yang kini hilang dalam kemarahan.

Aku takut. Sangat takut. Cumbu mesra sesaat lalu seperti menguap begitu saja, tak tersisa. Aku mundur perlahan...menjauhinya..seraya mengancingkan kemejaku yang kusut.

Tiba-tiba, entah darimana kepalaku terasa pusing. Beban berat menghantam kepala dan lengan kananku sebelah atas. "Ya...Rabbi...", aku berbisik. Kepalaku terasa berat. Semuanya gelap.

"Cinta, bangun...."
"Cinta, kamu baik-baik saja kaan?".
Suara itu sudah kembali lembut. Dia membungkuk, mendekati sosok tubuh yang terbaring lemas di depan pintu. Tapi Cinta sudah tidak di sini.


*stop violence in the home*
Sekilas tentang UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dapat dibaca di sini

Wednesday, August 29, 2007

A Beggar and a Baby

Remember the pregnant beggar I saw on the cross bridge of Sarinah? I saw her---with flat tummy--- about a week ago with a baby on her lap. It was a small sleeping baby. Not sure whether it was the one she delivered or not.

The other day, I saw that baby again. But that time on someone else's lap. Yes, you can name me useless beggar watch or anything but I just keep them in my meomory easily that I can recognize their faces. Later I recognized that some beggars are always on their "places" after office hour. It's simply a mode.

I am writing not to critize or bark at them. I am writing to ask you do thing--anything you can, as our obligation to the society. I believe every single thing, even a small attempt counts, like praying for the baby's health.

Monday, August 27, 2007

Beberapa hari ini hujan turun tanpa henti
Udara dingin menyekap.
Aku bersembunyi di balik selimut
Mencari kehangatan semu yang bukan milikku

Air curahan atap membingkai di muka rumah
Aku seakan terpenjara
Aku yang sendiri sepi.
Dan kian sepi.

Pernahkah kau bertanya
Sepinya hati ini menari-nari
Pernahkah kau ragukan
Ada apa di balik hari-hari indahku?

Apakah cinta begitu agung?
Jawablah…
Apakah cinta mencukupi?
Jawablah….

Hujan turus semakin deras
Rinduku untukmu turut bersama air yang mengalir
Bisikan halus itu datang lagi, menempelkan kehangatan bibirnya di telingaku
"I love you…."


*hanya sebuah puisi tanpa arti, untuk membangkitkan rindu setelah sekian lama tidak menulis puisi*

Wednesday, August 22, 2007

Thanks for Your Present



Yesterday was my birthday. I was so sad thinking that nothing big happened. My hubby and daughter are also away.





After office hour, still on my desk, I was thinking how sorry I am when my colleague entered my cubicle and started a conversation. Apparently it became a sharing session. We shared our past stories. We were friends during elementary school period and were parted until three months ago I joined this institution.





Listening to her story, knowing how my past was and what I've got today I feel how much I am blessed. I am blessed to have a dear husband and daughter as well as a full-supported family. Sometimes we just look to other's window and see how comfort their sofa is without knowing how it is really like to sit on that sofa.





Thanks God for this life, this health, this wealth, and most of all the family. It's the loveliest present.

image: taken from eyehook.com

Monday, August 20, 2007

Nda....Dentyyyysss..




Sudah lama saya ingin memperkenalkan Sha dengan "konsep perawatan gigi". Saya gak mau keduluan giginya ada yang rusak, baru kemudian ke dokter gigi. Tapi saya bener2 gak tau harus kemana dan bagaimana.
Awal Juli lalu, doa saya terjawab. Tumble Tots Mall Ambassador mengadakan Visit to Dentist, bekerja sama dengan Family Dental. FREE!!!! Hehehe, ini point penting bagi Bunda ;p
Saat pertama datang, kami (Mommy and toddler), diberi penjelasan kilat mengenai cara menyikat gigi yang baik oleh asisten perawat. Kami duduk dengan manis di karpet ruang tunggu. Ruang tunggu klinik Family Dental sangat nyaman. Banyak tersedia beragam majalah, tontonan, dan juga mainan. Semuanya lengkap sesuai minat seluruh anggota keluarga. Ruang periksa pun penuh dengan aksesoris anak dan karakter2 kartun. Gak heranlah, namanya juga Family Dental.
Saat pemeriksaan gigi, Sha terkesiap melihat temannya menangis. Sha lalu gak mau diminta untuk membuka mulutnya. Akhirnya, setelah dokter ke-3 baru berhasil ;) Itu pun karena si dokter telaten mengajaknya bermain saat Sha sedang di ruang tunggu dan bermain2. Sehingga Sha gak merasa sedang diobservasi. Thanks, doc!
Insya Allah Sha akan kembali lagi untuk dilapisi topikal fluor saat giginya sudah lengkap. Sekarang Sha gak takut lagi ke dokter gigi. Dua minggu berturut2 saat ia menemani saya kontrol ke dokter gigi saya, Sha mau disikat dengan sikat gigi mesin milik dokter gigi. Kata Sha, "Nda...dentyyyyyyyyyyss (dengan posisi bibir offside 3 cm), mau...mau...."

Monday, August 13, 2007

Perjalanan kali ini (Dirgahayu Indonesia)



Sebuah perjalanan seringkali memiliki banyak arti. Perjalananan saya kali ini menuju Pati. Kota kecil yang kira-kira memakan tiga jam perjalanan (dalam kondisi lalu lintas lancar) dari Semarang. Sepanjang jalan menyusuri Demak, Kudus, hingga hampir sampai perbatasan Pati-Jepara, mata saya tidak berhenti menatap pemandangan kota yang sederhana.

Saya pikir, betapa tidak adilnya jika saya bandingkan kota-kota ini dengan Jakarta. Tidak ada Starbukcs, MC Donald, Carrefour, ataupun Mango. Disini tanah adalah segalanya: warisan nenek moyang dan sumber penghidupan. Disini sepertinya hidup berjalan lambat. Hidup adalah untuk hari ini. Tidak bekerja satu hari bisa berarti tidak makan di hari yang sama.

Berbicara dekat dengan kaum marjinal, memandang kesederhanaan lingkungan tempat tinggal mereka, membuat saya tersadar. Saya adalah city girl. Saya seharusnya bersyukur bisa merasakan pembangunan infrastruktur yang begitu cepat di Jakarta, menikmati perputaran uang yang melesat dari gedung tinggi hingga warung tegal di ibukota, mengenyam pendidikan universitas ternama di kota besar, sementara di sini mereka bersyukur masih bisa makan hari ini, berlega hati masih bisa menggarap tanah nenek moyang yang sertifikatnya bahkan tak lagi mereka pegang.

Perjalanan kali ini tidak membawa saya kepada kemegahan duniawi yang saya elu-elukan: diskon di megastore, kuliner terkemuka yang mak nyuuus rasanya, ataupun hotel bintang lima. Kali ini saya duduk ngedeprok di rumah warga beralaskan karpet tipis berwarna hijau yang menutupi lantai semen. Saya tidak makan dengan piring kuningan tapi dengan piring sederhana yang menyajikan sayur bening dan ikan lele goreng. Tapi lihat bagaimana mereka bersyukur atas kenikmatan hidupnya.

Hari ini saya belajar untuk tidak mudah mengeluh dan bersyukur atas nikmat Allah.

Dirgahayu Indonesia ke 62 tahun. Entah kapan seluruh rakyat Indonesia akan secara merata menikmati hidup yang layak.

Catatan:

Menjelang 17 Agustus, saya mencoba menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai ajaran Paman Yus Badudu. Semoga tidak terlalu buruk, mengingat nilai Bahasa Indonesia saya C (setelah mengulang, sebelumnya hanya D saja).

Thursday, August 02, 2007

After lunch time

I had lunch with friends in a luxurious plaza infront of Bundaran HI 2 days ago. It was in one of many posh bistros and fine dinings in that place.

When we had finished our lunch, I noticed some people were already in line, queing. On my way back, I saw the same scene of queing in front of those posh bistros.

Out of the blue, the picture of pregnant beggar with a baby on her lap (yes she's having a baby and pregnant already!) on the crossing bridge of Sarinah popped out. Oooh..... I suddenly felt guilty or I was just too sensitive? Or perhaps it was just PMS?

I hope I am one of the grateful persons who starts doing "something" except throwing my money out.