Monday, August 13, 2007

Perjalanan kali ini (Dirgahayu Indonesia)



Sebuah perjalanan seringkali memiliki banyak arti. Perjalananan saya kali ini menuju Pati. Kota kecil yang kira-kira memakan tiga jam perjalanan (dalam kondisi lalu lintas lancar) dari Semarang. Sepanjang jalan menyusuri Demak, Kudus, hingga hampir sampai perbatasan Pati-Jepara, mata saya tidak berhenti menatap pemandangan kota yang sederhana.

Saya pikir, betapa tidak adilnya jika saya bandingkan kota-kota ini dengan Jakarta. Tidak ada Starbukcs, MC Donald, Carrefour, ataupun Mango. Disini tanah adalah segalanya: warisan nenek moyang dan sumber penghidupan. Disini sepertinya hidup berjalan lambat. Hidup adalah untuk hari ini. Tidak bekerja satu hari bisa berarti tidak makan di hari yang sama.

Berbicara dekat dengan kaum marjinal, memandang kesederhanaan lingkungan tempat tinggal mereka, membuat saya tersadar. Saya adalah city girl. Saya seharusnya bersyukur bisa merasakan pembangunan infrastruktur yang begitu cepat di Jakarta, menikmati perputaran uang yang melesat dari gedung tinggi hingga warung tegal di ibukota, mengenyam pendidikan universitas ternama di kota besar, sementara di sini mereka bersyukur masih bisa makan hari ini, berlega hati masih bisa menggarap tanah nenek moyang yang sertifikatnya bahkan tak lagi mereka pegang.

Perjalanan kali ini tidak membawa saya kepada kemegahan duniawi yang saya elu-elukan: diskon di megastore, kuliner terkemuka yang mak nyuuus rasanya, ataupun hotel bintang lima. Kali ini saya duduk ngedeprok di rumah warga beralaskan karpet tipis berwarna hijau yang menutupi lantai semen. Saya tidak makan dengan piring kuningan tapi dengan piring sederhana yang menyajikan sayur bening dan ikan lele goreng. Tapi lihat bagaimana mereka bersyukur atas kenikmatan hidupnya.

Hari ini saya belajar untuk tidak mudah mengeluh dan bersyukur atas nikmat Allah.

Dirgahayu Indonesia ke 62 tahun. Entah kapan seluruh rakyat Indonesia akan secara merata menikmati hidup yang layak.

Catatan:

Menjelang 17 Agustus, saya mencoba menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai ajaran Paman Yus Badudu. Semoga tidak terlalu buruk, mengingat nilai Bahasa Indonesia saya C (setelah mengulang, sebelumnya hanya D saja).

No comments: