Adalah eyang putri saya yang usia-nya menginjak 87 tahun dan sekitar dua minggu lalu menjadi bagian dari pengungsi banjir Jakarta. Bersama keluarga Om saya, yang rumahnya terendam 1.5 m, eyang mengungsi di lantai dua selama 4 hari (ruangan sebesar 6 x 4 meter-an karena sisanya digunakan untuk mengungsikan perabot) dan kemudian ke mal terdekat selama semalam. Ini merupakan kisah ulangan tahun 2002. Tapi 5 tahun lalu, Eyang terlihat jauh lebih segar, masih bisa berjalan gagah dan naik perahu karet.
Hubungan saya dengan Eyang tidak selalu berjalan mulus. Tapi saat itu, semuanya terpinggirkan. Apalagi melihat sosok rentanya tidur di veld bed dengan daster batik yang membalut kulit keriput dan tulang-tulangnya yang menonjol. Seakan tidak ada daya, Eyang perlahan duduk, melipat kain (jarik/sinjang) dan jaket wol-nya, setelah dibisiki akan diajak ke rumah saya. Eyang dan tante saya akhirnya memilih tidur di kios2 trade center yang belum terjual di ground floor KTC Kelapa Gading. Di gedung ini terdapat 1300 pengungsi yang memanfaatkan kios-kios, jalan (path/isle), panggung, dan space penjual (yang berdagang dalam format island). Dalam foto tampak para pengungsi memanfaatkan troli dan gantungan/display baju untuk menjemur pakaiannya yang basah.
Tidak banyak foto yang dapat saya ambil. Mungkin, dengan minimnya jiwa petualang saya, saya sudah sibuk sendiri menjaga ransel,HP, roti ransum agar tidak tercelup ke air keruh yang menggenangi hingga ke pangkal paha saya (heemmm sebenernya saya juga menggondol dua sapu karet pesanan om saya ;p). Namun ingatan saya merekam wajah-wajah sendu ibu-ibu yang menunggu nasi liwetnya mengepul dari kompor di loteng rumahnya. Ingatan saya juga merekam wajah ceria anak-anak yang berenang di air keruh di pinggir kali sunter yang bau. Padahal kala banjir seperti ini, orang buang air kecil dan besar di mana saja *halah*. Tapi ada yang (maaf) membuat saya sedikit tersenyum. Banjir tidak pandang bulu. Rumah-rumah mewah, rumah-rumah Jenderal yang megah...semuanya ikut merasakan dinginnya banjir Jakarta. Kompleks perumahan itu tidak berbeda jauh dengan Danau.
Kembali ke...laptoppppp (seperti kata Tukul di acara 4 mata...;p). Setelah ngalor ngidul di Yos Sudarso, bawa travelling bag Eyang yang berat, celana panjanga basah kuyup, rambut kucluk kayak tikus got, ada juga taksi yang lewat. Eyang akhirnya sampai di Mampang. Rumah liliput bahagia yang menampung makin banyak orang ;)
P.S: Thanks to Nizom for such a big help




