Akhirnya....ketemu blog lagi..... ;)
Udah kangen beraatsss neh.
Yep! Udah dua mingguan lebih saya teler abis. Keseret2, kebanting2, kejedug2. Judulnya sih saya bener2 keriting! Pasalnya di pekerjaan baru ini, pace-nya cepat edun dan hampir tiap hari ada event. Dan tentu aja, ga ada istilah menunggu saya bisa, so I have to learn while I am running. Hiksss.... Tiap hari saya dateng jam 7.30 dan pulang jam 8.000. Kalau sampe rumah jam 9.00 dan Sha udah tidur, sediiiihhh bangeed. Kayak abis membuat dosa besar.
Sedikit demi sedikit, saya mulai bisa "berdiri" (jangan jorok ah mikirnya.. ;p). Kalau tadinya terseok2. Sekarang mulai berdiri, walaupun sebelah kaki masih suka tijalipeuh ;). Mulai beradaptasi dengan budaya, pola kerja, dan prosedur. Walaupun, saya akui, dengan berubahnya issue (dari HIV ke politik) yang saya geluti seringkali menyebabkan otak saya harus "berjuang lebih keras" daripada sebelumnya. Bayangin, dalam suatu meeting...
Boss 1 to Boss 2: "Eh, ada sisa uang tuh. Gimana kalo buat PSK aja?"
Honey (dalam hati): "Anjiiir. Meni terus terang geneee. Ga malu apa ada gw kok ngomong2 soal PSK (Pelaku Seks Komersial). Busyet!"
Boss 2: "O iya... Hanny aja dimintain tolong."
Honey (dalam hati): "Haaaah?????"
Boss 1: "Han, tolong ya, TOR PSK...Perlindungan Saksi dan Korban ditindaklanjuti..."
DUNGPLANG!!!!!!
Thursday, June 28, 2007
Friday, June 08, 2007
Alkisah saat ke Semarang...
Alkisah saat beberapa waktu lalu long wiken-an ke Semarang bersama keluarga hubby, kami berdua mengalami "pembelajaran baru".
Ceritanya sepanjang perjalanan yang hampir setengah hari itu (di mobil) dan selama 3 hari Semarang, Sha mingle bersama sepupu-sepupunya. Di sinilah kesabaran saya dan hubby di tes. Ya namanya juga anak, kita ga bisa mencegah dia untuk bersosialisasi…Masalahnya saat dia berteman disitulah kami baru sadar betapa hebatnya pengaruh lingkungan dalam mempengaruhi prilaku si anak. Di sini apa yang kami ajarkan dan setengah mati dikomitkan untuk konsisten seperti buyar. Sha yang selalu makan rapi di meja dan makan sendiri tiba2 harus makan sambil dikejar2 di halaman, Sha juga “belajar” memuntahkan makanannya setelah diemut, makan susu dengan added flavour dan sukrosa, menikmati makanan kecil ber MSG…., belum lagi “pemandangan” merengek minta jajan,“adegan” menangis untuk mendapatkan keinginannya, serta biting, hitting, and swearing. Oooh, no!!! Yeaaah…that’s sooo real….
Setiap ortu memang punya pola asuh yang berbeda. Saya menolak kalo dikatakan terlalu keras, sok disiplin, atau sok kebarat2an. Seperti Mamanya Nikki, saya percaya bahwa di menjadi ortu di Indo berarti harus aktif mencari resource2 secara independen. Nah, dari sinilah saya dan hubby menyetujui pola minum susu segar cair UHT plain, mengurangi garam (terutama saat sebelum umur setahun), mengurangi jajan, dan 1001 pola asuh yg ga usah disebut satu persatu (pokoknya bukan seperti yang ada di paragraf sebelumnya). Memang saya pikir kita ini di Indo, banyak maaf sama anak, sehingga sering banget a.l anak sampai usia balita masih makan disuap, bahkan sambil digendong dengan kain atau sambil bermain di jalan. Kalau mau mandi pun kejar2an dulu….apa2 masih dibuatin mamah atau mbak. Life skill dan disiplin sepertinya hanya untuk orang dewasa…. ;( Maaf, saya gak mengeneralisasi….ini hanya sedikit laporan pandangan mata yang banyak disetujui oleh rekan2 sejawat para IRT. Cuma, saat kita menggunakan berbagai resource yang tidak populer di mata orang kebanyakan, mungkin kita akan terlihat aneh dan mengalami godaan saat berusaha konsisten menerapkannya.
Rasanya pada kasus saya saat itu, saya juga bersalah, karena merasa ada di dalam lingkaran keluarga hubby, saya merasa jengah untuk konsisten. Lebih lagi, saya masih berbau ketimuran sehingga sulit mengatakan tidak. Satu hal yang bisa kami lakukan adalah mengajaknya berbicara dan mengalihkan perhatiannya lalu teuteup konsisten pada pola asuhan kami (yang hanya bisa dilakukan 30% saja). Hmm is it the price of the family???
Ceritanya sepanjang perjalanan yang hampir setengah hari itu (di mobil) dan selama 3 hari Semarang, Sha mingle bersama sepupu-sepupunya. Di sinilah kesabaran saya dan hubby di tes. Ya namanya juga anak, kita ga bisa mencegah dia untuk bersosialisasi…Masalahnya saat dia berteman disitulah kami baru sadar betapa hebatnya pengaruh lingkungan dalam mempengaruhi prilaku si anak. Di sini apa yang kami ajarkan dan setengah mati dikomitkan untuk konsisten seperti buyar. Sha yang selalu makan rapi di meja dan makan sendiri tiba2 harus makan sambil dikejar2 di halaman, Sha juga “belajar” memuntahkan makanannya setelah diemut, makan susu dengan added flavour dan sukrosa, menikmati makanan kecil ber MSG…., belum lagi “pemandangan” merengek minta jajan,“adegan” menangis untuk mendapatkan keinginannya, serta biting, hitting, and swearing. Oooh, no!!! Yeaaah…that’s sooo real….
Setiap ortu memang punya pola asuh yang berbeda. Saya menolak kalo dikatakan terlalu keras, sok disiplin, atau sok kebarat2an. Seperti Mamanya Nikki, saya percaya bahwa di menjadi ortu di Indo berarti harus aktif mencari resource2 secara independen. Nah, dari sinilah saya dan hubby menyetujui pola minum susu segar cair UHT plain, mengurangi garam (terutama saat sebelum umur setahun), mengurangi jajan, dan 1001 pola asuh yg ga usah disebut satu persatu (pokoknya bukan seperti yang ada di paragraf sebelumnya). Memang saya pikir kita ini di Indo, banyak maaf sama anak, sehingga sering banget a.l anak sampai usia balita masih makan disuap, bahkan sambil digendong dengan kain atau sambil bermain di jalan. Kalau mau mandi pun kejar2an dulu….apa2 masih dibuatin mamah atau mbak. Life skill dan disiplin sepertinya hanya untuk orang dewasa…. ;( Maaf, saya gak mengeneralisasi….ini hanya sedikit laporan pandangan mata yang banyak disetujui oleh rekan2 sejawat para IRT. Cuma, saat kita menggunakan berbagai resource yang tidak populer di mata orang kebanyakan, mungkin kita akan terlihat aneh dan mengalami godaan saat berusaha konsisten menerapkannya.
Rasanya pada kasus saya saat itu, saya juga bersalah, karena merasa ada di dalam lingkaran keluarga hubby, saya merasa jengah untuk konsisten. Lebih lagi, saya masih berbau ketimuran sehingga sulit mengatakan tidak. Satu hal yang bisa kami lakukan adalah mengajaknya berbicara dan mengalihkan perhatiannya lalu teuteup konsisten pada pola asuhan kami (yang hanya bisa dilakukan 30% saja). Hmm is it the price of the family???
Subscribe to:
Posts (Atom)



