Saturday, October 27, 2007
After one and a half months
I also still have not found the "feel" yet. The chemistry with colleagues, peers, and the company. I hope I find it soon. I do not expect any big trouble at the moment.
Emails from some old friends cheer me up though. In the middle of hectic days at the office or the gloomy feeling of not "expressing my true self", it is really a big deal. Matter a lot.
I try not to look back and compare. As a wise man said, "Look at what you have left, do not look at what you have lost".
I miss the loud silly chat with marcom friends, I miss chatting with Ferry, I miss laughing with Ale, I miss teasing Dul.
No, no...no tears.
Monday, September 10, 2007
Hailing Ramadhan
I am an Indonesian moslem who does not understand Arabic. Like most of Indonesian, I learned Islam automatically, without any awareness or questioning why or what every single of my devotion act means.
Every Ramadhan went by with a joy of a once a year experience where I can break fasting together with some friends, colleagues, family as well as having special treat on the Ied.
I do not want to end up blaming my culture or my odd nation. I am here as I have a chance to give meaning to this year's Ramadhan. A Ramadhan that gives me a chance to grow as a person, not only on Ramadhan, but afterwards. To forgive others, to be more patient, to share with others, to be grateful for His bless, and to be closer to Him.
I wish for a truly Happy Ied with a cleaner soul. More than a ritual of new clothes all over my body and cookies on tray.
Please forgive me for all my faults.
Marhaban Ya Ramadhan
Wednesday, August 29, 2007
A Beggar and a Baby
The other day, I saw that baby again. But that time on someone else's lap. Yes, you can name me useless beggar watch or anything but I just keep them in my meomory easily that I can recognize their faces. Later I recognized that some beggars are always on their "places" after office hour. It's simply a mode.
I am writing not to critize or bark at them. I am writing to ask you do thing--anything you can, as our obligation to the society. I believe every single thing, even a small attempt counts, like praying for the baby's health.
Wednesday, August 22, 2007
Thanks for Your Present

Yesterday was my birthday. I was so sad thinking that nothing big happened. My hubby and daughter are also away.
After office hour, still on my desk, I was thinking how sorry I am when my colleague entered my cubicle and started a conversation. Apparently it became a sharing session. We shared our past stories. We were friends during elementary school period and were parted until three months ago I joined this institution.
Listening to her story, knowing how my past was and what I've got today I feel how much I am blessed. I am blessed to have a dear husband and daughter as well as a full-supported family. Sometimes we just look to other's window and see how comfort their sofa is without knowing how it is really like to sit on that sofa.
Thanks God for this life, this health, this wealth, and most of all the family. It's the loveliest present.
image: taken from eyehook.com
Monday, August 13, 2007
Perjalanan kali ini (Dirgahayu Indonesia)

Sebuah perjalanan seringkali memiliki banyak arti. Perjalananan saya kali ini menuju Pati. Kota kecil yang kira-kira memakan tiga jam perjalanan (dalam kondisi lalu lintas lancar) dari Semarang. Sepanjang jalan menyusuri Demak, Kudus, hingga hampir sampai perbatasan Pati-Jepara, mata saya tidak berhenti menatap pemandangan kota yang sederhana.
Saya pikir, betapa tidak adilnya jika saya bandingkan kota-kota ini dengan Jakarta. Tidak ada Starbukcs, MC Donald, Carrefour, ataupun Mango. Disini tanah adalah segalanya: warisan nenek moyang dan sumber penghidupan. Disini sepertinya hidup berjalan lambat. Hidup adalah untuk hari ini. Tidak bekerja satu hari bisa berarti tidak makan di hari yang sama.
Berbicara dekat dengan kaum marjinal, memandang kesederhanaan lingkungan tempat tinggal mereka, membuat saya tersadar. Saya adalah city girl. Saya seharusnya bersyukur bisa merasakan pembangunan infrastruktur yang begitu cepat di Jakarta, menikmati perputaran uang yang melesat dari gedung tinggi hingga warung tegal di ibukota, mengenyam pendidikan universitas ternama di kota besar, sementara di sini mereka bersyukur masih bisa makan hari ini, berlega hati masih bisa menggarap tanah nenek moyang yang sertifikatnya bahkan tak lagi mereka pegang.
Perjalanan kali ini tidak membawa saya kepada kemegahan duniawi yang saya elu-elukan: diskon di megastore, kuliner terkemuka yang mak nyuuus rasanya, ataupun hotel bintang lima. Kali ini saya duduk ngedeprok di rumah warga beralaskan karpet tipis berwarna hijau yang menutupi lantai semen. Saya tidak makan dengan piring kuningan tapi dengan piring sederhana yang menyajikan sayur bening dan ikan lele goreng. Tapi lihat bagaimana mereka bersyukur atas kenikmatan hidupnya.
Hari ini saya belajar untuk tidak mudah mengeluh dan bersyukur atas nikmat Allah.
Dirgahayu Indonesia ke 62 tahun. Entah kapan seluruh rakyat Indonesia akan secara merata menikmati hidup yang layak.
Catatan:
Menjelang 17 Agustus, saya mencoba menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai ajaran Paman Yus Badudu. Semoga tidak terlalu buruk, mengingat nilai Bahasa Indonesia saya C (setelah mengulang, sebelumnya hanya D saja).
Thursday, August 02, 2007
After lunch time
When we had finished our lunch, I noticed some people were already in line, queing. On my way back, I saw the same scene of queing in front of those posh bistros.
Out of the blue, the picture of pregnant beggar with a baby on her lap (yes she's having a baby and pregnant already!) on the crossing bridge of Sarinah popped out. Oooh..... I suddenly felt guilty or I was just too sensitive? Or perhaps it was just PMS?
I hope I am one of the grateful persons who starts doing "something" except throwing my money out.
Tuesday, July 17, 2007
Love what you do, enjoy what you have, praise the lord

Photo diambil dari www.idle.org
Thursday, June 28, 2007
Lain padang lain belalang (Kangen)
Udah kangen beraatsss neh.
Yep! Udah dua mingguan lebih saya teler abis. Keseret2, kebanting2, kejedug2. Judulnya sih saya bener2 keriting! Pasalnya di pekerjaan baru ini, pace-nya cepat edun dan hampir tiap hari ada event. Dan tentu aja, ga ada istilah menunggu saya bisa, so I have to learn while I am running. Hiksss.... Tiap hari saya dateng jam 7.30 dan pulang jam 8.000. Kalau sampe rumah jam 9.00 dan Sha udah tidur, sediiiihhh bangeed. Kayak abis membuat dosa besar.
Sedikit demi sedikit, saya mulai bisa "berdiri" (jangan jorok ah mikirnya.. ;p). Kalau tadinya terseok2. Sekarang mulai berdiri, walaupun sebelah kaki masih suka tijalipeuh ;). Mulai beradaptasi dengan budaya, pola kerja, dan prosedur. Walaupun, saya akui, dengan berubahnya issue (dari HIV ke politik) yang saya geluti seringkali menyebabkan otak saya harus "berjuang lebih keras" daripada sebelumnya. Bayangin, dalam suatu meeting...
Boss 1 to Boss 2: "Eh, ada sisa uang tuh. Gimana kalo buat PSK aja?"
Honey (dalam hati): "Anjiiir. Meni terus terang geneee. Ga malu apa ada gw kok ngomong2 soal PSK (Pelaku Seks Komersial). Busyet!"
Boss 2: "O iya... Hanny aja dimintain tolong."
Honey (dalam hati): "Haaaah?????"
Boss 1: "Han, tolong ya, TOR PSK...Perlindungan Saksi dan Korban ditindaklanjuti..."
DUNGPLANG!!!!!!
Friday, May 25, 2007
belajar menjadi istri dan bunda...
Pengakuan dosa
Jarak antara saya dan suami seringkali bikin saya terlena. Iya, pada awal pernikahan, saya tinggal di Jakarta sementara suami ada di Pangkal Pinang. Biasanya ketemu sebulan sekali. Bisa kebayang khan... saya teh teuteup aja jarambah. Ulin ka ditu ka dieu abis jam kantor. Nongkrong-nangkring...pulang malem. Kalau saya pikir2, apa suami saya memang memang orang yang berlapang dada atau....mungkin...karena kita berdoa memang doyan maen sehingga hampir ga ada larangan dan impas gitchuuu (hehe...). Pada saat kita berdua ketemu pun rasanya semuanya mengalir begitu saja. Ga ada repot2 untuk masak anu, bikin inu. Paling ya jalan-jalan...persis kayak yang pacaran.
Selepas saya melahirkan, ada sedikit perubahan...ya sekitar 20 persen lah ;(. Saya mulai berusaha pulang cepat, mengurangi nongkrong, mengurangi window shopping....tapi muncul penyakit baru...nongkrongin outlet2 pakaian anak dan gatel kalo pulang ga bawa kresek. Anak saya? Hehe sama si mbak dan si mamah di rumah. Halah....
Mencoba untuk berubah
Setelah suami saya pindah ke Bandung dan kita bertiga berkumpul setiap weekend di Jakarta, muncul malu hati saya. Ya, alhamdulillah masih punya malu. Saya mulai berpikir untuk menjadi 'satu'. Mungkin karena sekarang saya lebih banyak punya waktu berdiskusi dengan suami lebih dari sekedar update gosip di kantor masing2 ;p. Saya juga semakin cinta sama si pantat buled "Sha'. Saya pun berusaha meluangkan waktu belajar memasak kesukaan suami dan anak setiap weekend. Tiap Jumat saya pasti cari iklan hipermarket di kompas, item apa yang diskon lalu browsing resep di internet, dan besoknya masak deh.... Hari minggunya biasanya kami udah punya schedule untuk acara keluarga, baik sekedar berkunjung ke rumah kakak atau jalan2. Saya juga jadi sibuk tatanem di depan rumah. Sumpeh lo, saya bukan orang yang tipe menyukai tanaman, sangat berbeda dari suami saya. Ceritanya sih biar suami makin betah di rumah, dan saya juga Sha punya coco'oan (bener gini gak spellingnya?) di waktu kami sedang berdua. Hmmm...kalo masak-memasak so far so good, proyek ambisius gardening ini ternyata banyak memakan korban. Antara lain,4 pot tanaman yang diborong suami saat pameran tanaman mati total. Tanaman itu mula2 mengering setelah saya memindahkannya ke pot baru. Maksud hati mah biar cantik dan seragam tea geuning....weleh nu aya mah is dead!!! Padahal yang dipindahin ama suami saya mah seger buger tuuuh. Jadi siapa yang salah dong? Ya tanamannya dong. Mosok dikasih rumah yang lebih cantik ga mau.... ;p Well, itu belum semuanya. Saat saya menyiram bunga setiap pagi ataw sore, si pantat buled itu selalu pengen ikut (dia kan terserang wabah 'pengen segala2 kayak bunda'). Nah, si pantat buled ini pengen ikut nyiram juga...tapi yang ada bukan nyiram malah ngeremes2 daun dan batangnya....hiksss.....*stress*.
Saya tau saya tidak akan pernah jadi istri dan bunda yang sempurna karena mimpi itu cuma akan menyalahi konsep diri saya. Tapi saya janji untuk memberikan usaha terbaik saya buat suami saya yang ganteng dan si pantat buled. Perjalanan insya Allah akan panjang. Dan selama itulah proses itu akan berjalan. Menjadi istri dan bunda yang terbaik bagi mereka akan lebih dari sekedar memasak dan berkebun. Terima kasih sudah menjadi suami yang sabar dan anak yang lucu. My love for you grows every day...



