2 Januari 2007
Pagi ini saya membawakan materi pelatihan "Mengapa Media Massa Memiliki Peranan Penting dalam Komunikasi dan Advokasi Isu HIV/AIDS". *Duh...rasanya ga PEDE. Maklum, sudah lama ga bicara di depan orang banyak.*
Dalam Q & A banyak yang berbagi masalah dilematis di lapangan: kesulitan mengambil gambar ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), petugas medis yang menutup informasi, dll.
Memang banyak pihak yang belum memahami asas kerahasiaan dalam medis terutama HIV/AIDS. Bahwa disclosure atas status HIV/AIDS seseorang sepenuhnya menjadi hak dari orang ybs. Petugas medis tidak berhak untuk memberitahukan status HIV seseorang. Hak ini hanya boleh dilanggar bila berkaitan dengan pengadilan dan bila mengancam jiwa orang tsb. Selain itu, harapan terhadap jurnalis adalah pemberitaan yang edukatif dan tidak melulu mengandalkan sensionalitas (with respect to newsworthiness). Dalam arti, tak perlulah menunggu ada berita si A, B atau C terinfeksi dan menampilkan visualisasi bersangkutan (hal ini sempat dipermasalahkan rekan dari media TV), tapi bagaimana kita merubah angle pemberitaan dengan jurnalisme empati. Selain itu, jurnalis dapat juga mengangkat data-data dan isu yang ada dalam kaitannya dengan advokasi terhadap policy maker dan isu komitmen politis dan kepemimpinan lokal.
Dalam sesi ini juga muncul pembicaraan mengenai isu kondom. Bicara mengenai kondom memang selalu kontroversial. Memahami HIV/AIDS sebagai BUKAN penyakit moral ada disisi lainnya. Berbicara terus terang, saya YAKIN BENAR hubungan sah/halal TETAP memiliki resiko terinfeksi selama salah satu pasangan berhubungan dengan orang ke-3 tanpa kondom dan memiliki riwayat menggunakan narkotika suntik. Susahnya, hal ini disepakati oleh beberapa rekan jurnalis yang hadir, setelah menikah mereka OGAH pake kondom, padahal kemungkinan "jajan" itu besar. Apalagi saat "jajan" tersebut sangat mungkin merek OGI untuk pake kondom, lha wong udah bayar kok... ;)
Dari sini bisa terlihat bahwa mereka yang rawan terinfeksi HIV/AIDS bukan cuma PSK, Penasun (Pengguna Narkotika Suntik), Kaum Homoseksual, tapi juga mereka yang memiliki uang dan sering melakukan perjalanan jauh dari pasangannya. Kontan, semuanya jadi tertawa (miris), maklum ini artinya jurnalis dan kami (karena suka travel juga ;p dan kebagian uang per diem dari donor) masuk dalam kategori ini.
Pelatihan hari ini mempercepat hari ini menjadi sore. Dalam perjalanan pulang, kami singgah ke Suseno untuk beli sambal goreng udang kering dan lempok duren. Besok pagi, kami sudah harus pulang ke Jakarta dengan Adam Air (lagi!)
Sunday, January 28, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




No comments:
Post a Comment