Monday, January 16, 2006

Sydney (The End)

Pada suatu pagi, satu hari menjelang kepulangan saya ke Indonesia, saya menyempatkan diri browsing ke beberapa bangunan tua di Sydney. Kalau ditanya apa sebenernya yang saya cari, ini semata2 karena kecintaan saya pada bangunan2 tua dan mungkin kebosanan pada tempat2 yang dikujungi turis pada umumnya...shopping centers, souvenir shops, cruises, dan tipikal lainnyalah…
Maka pagi2 sekitar jam 8, setelah breakfast, saya berjalan menuju Hydepark. Tentunya ini bukan Hydepark seperti di London dimana terdapat legenda atau mitos (?) Jack the Ripper. Beberapa tempat, lokasi, dan nama jalan di sini memang banyak mengkopi dari Inggris, i.e Liverpool street, Covent garden, Hydepark, Lecester, dan masih banyak lagi. Hyde Park terletak di pusat kota dan di salah satu sisinya terletak St. Marry’s Cathedral.




St. Marry’s Cathedral adalah salah satu katedral terbesar di dunia dan pernah pula dikunjungi oleh Paus pada tahun 1970an. Sebagaimana katedral Katolik pada umumnya, katedral ini sangat indah dan dipenuhi dengan kaca2 patri yang indah pula. Belum lagi lukisan-lukisan besar yang sepertinya punya model yang sama dengan kaca patri (kehidupan Yesus?). Di dekat salah satu pintu masuk juga ada patung Bunda Maria dan lilin-lilin yang cantik. Saya ingin sekali ikut free guided tour di sini, sayangnya sebagaimana tur gratis lainnya, tur ini hanya ada di weekend...;(.




Dari sini (college street), saya berjalan ke arah Macquaries Street (atau lebih jelasnya berjalan ke arah marina Circluar Quay). Di sepanjang jalan ini banyak sekali gedung2 tua peninggalan masa kolonial. Di sebelah kanan ada Hyde Park Barracks museum. Gedung ini berdiri pada awal 1800-an dan didesain oleh arsitektur kenamaan Australia saat itu, Francis Greenway (masih inget Oom yang satu ini khan?). Sebagaimana sejarah Australia yang kita tahu sebagai daerah orang2 buangan pada masa awal benua ini ditemukan, di sinilah tempat tinggal para kriminal yang dibuang ke Oz. Mereka pulalah yang saat itu menjadi buruh bangunannya. Hyde Park Barracks pun pernah menjadi tempat penampungan para imigran perempuan lajang yang bekerja sebagai pembantu saat itu. Yang jijik tapi penting secara arkeologis adalah liang dan jalur tikus di bawah tanah yang ternyata sangat berguna bagi para arkeolog. Liang ini membuka sejarah pada masa ini dan di sini ditemukan pula beragam alat yang digunakan oleh ”penghuni” barak pada zaman itu. Dari mulai sendok logam yang sangat sederhana sampai alat jahit menjahit. Yang lebih jijik lagi juga dilihatkan bangkai tikusnya erggggh....
Selain itu, pada kurun waktu lainnya, gedung ini juga digunakan untuk gedung pengadilan dan kantor pemerintahan. Jadi boleh dibilang gedung ini ”jam terbangnya” udah tinggi banget...dari masa ke masa..dari satu fungsi ke fungsi lainnya. Sekarang walaupun di depan museum ini ada cafe yang cantik, teuteup keangkeran gedung ini masih sangat terasa...



The Mint, adalah gedung tua lainnya, yang terletak pas di sebelah kanan Hyde Park Barracks. Saat saya memasuki gedung ini, saya sempat bingung, kok sepertinya ga ada penjelasan tertentu atau penjelasan dari apa yang saya lihat. Yang terlihat jelas hanyalah beberapa foto dan captionnya di beranda belakang serta section yang telah dirubah menjadi The Mint Cafe. Saya kan jadi penasaran dan bertanya,”Excuse me, I read bout this building on the guide book and could u tell me what I can see in the building”. Huhh, jawabannya mengecewakan,”Well, actually nothing you can do or see in particular in the building. This is just one of the preserved buildings and currently this building houses the historic houses trust’s head office, library, meeting room, cafĂ©, and you can find small display about this bulding at the back.” Whoaaa….sialan! Memang siyy Australia pinter banget jualan ini itu, ternyata tourist attarctionnya siy menurut saya biasa2 saja.
Anyhow a glance bout this building: The Mint awalnya merupakan sayap sebelah selatan dari Sydney Hospital (saat itu namanya adalah Rum Hospital) dan dibangun lebih kurang pada masa yang sama dengan dibangunnya Hyde Park Barracks. Hingga kemudian, tahun 1854 ditemukan emas di New South Wales. Sejak saat itu di belakang gedung ini dibuatlah pabrik koin. Pabrik ini berhenti berjalan saat kemudian di Canberra didirikan pabrik yang lebih besar pada tahun 1920-an.




Selanjutnya adalah, Charming and ellegant Sydney Hospital. Rumah sakit ini menghadap ke Martin Place. Dan di depannya ada patung babi hihihi Saya siyy bingung aja kok babi gitu loh. Babi kan jorok padahal rumah sakit kan kudunya tempat yang bersih dan higienis.... Hmmm mungkin saya ga punya sense of art???


Parliament house di Sydney jauh dari mentereng. Saya sempet keki waktu polisi yang jaga melihat saya dengan mata memicing penuh kecurigaan. Idiihhh, memangnya saya teroris. Di sini bener2 ga ada apa2..selain penjagaan yang ketat. Bagian gedung sebelah dalam juga sudah modern. Sangat berlainan dengan bentuk luar gedung yang mencerminkan masa pembangunannya (abad ke-19).



Dari sini saya melanjutkan perjalanan ke pinggir kota. Saya penasaran untuk melihat ELizabeth Bay House yang dikatakan sebagai "the finest house in the colony". Walaupun sempet tersesat, akhirnya saya sampai juga. Disini, saya memanfaatkan lagi voucher diskon yang saya punya dan ikut dalam free tour ;p. Rumah ini tadinya merupakan rumah dari sekretaris koloni, Alexander Macleay, yang dibangun pada 1830an. Rumah ini bergaya villa Yunani, terletak di bay dan memiliki view yang sangat indah ke Sydney Harbour. Bayangkan, tadinya rumah ini memiliki kebun yang besar dan luas tanahnya 54 acre. Sayangnya, dalam masa pembangunan rumah ini, Macleay mengalami kesulitan finansial sehingga pembangunannya tidaklah tuntas. Rumah ini kemudian menjadi asrama bagi sejumlah artis sebelum akhirnya dilestarikan di bawah naungan historic house of trust. Di rumah ini ada tangga yang berputar (cantilevered staircase), domed ceiling, library, kamar2 yang besar, drawing room, dan bagian basement yang tadinya merupakan tempat tinggal para pembantu dan wine cellar. Disini diputar film mengenai putri Macleay yang menuturkan mengenai ayahnya dan rumah ini. Saya sempat turun ke basement sendirian--ke bagian wine cellar, (masuknya melalui belakang gedung dan tangganya merupakan batu2 yang tidak rata). Tapi...brrrr...dingin dan keueung (sepi) ...apalagi filmnya bersifat naratif dengan tokohnya yang mengenakan pakaian ala abad 19. Hi....saya langsung lari terbirit2 (berasa lagi uji nyali soalnya!).
Selain kebunnya yang sudah tidak ada lagi, bagian belakang rumah (dapur) juga sudah tidak ada karena kebakaran. Furniture yang ada di dalam rumah ini pun sebagian besar bukan merupakan furniture aslinya...melainkan hanya rekonstruksi/refleksi dari perabotan di zaman tersebut.

Ini adalah hari terakhir saya di Sydney.
Thanks God for such a journey.

No comments: