Wednesday, November 08, 2006

Urbanisasi, "Kue", dan impian

Sebuah artikel di KOMPAS pasca lebaran mengungkapkan fakta klasik: urbanisasi ke Jakarta pasca lebaran. Cerita lama yang selalu menarik. Bayangkan saja, begitu magnetisnya kota Jakarta, sehingga kaum pendatang ini berani mengadu nasib ke Jakarta dengan bermodalkan uang Rp.20.000 dan menginap di terminal. Ada yang berniat menjadi PRT, kuli bangunan, atau apa saja asalkan tidak di kampung. Alasannya, di kampung pendapatannya sangat minim atau bisa hanya berkisar seribu-an rupiah perhari.

PRT
Sebagai IRT (derajatnya tidak berbeda di mata Allah dengan PRT, namun perbedaan P dan I seringkali menunjukkan siapa yang disuruh dan menyuruh) di Indonesia, apalagi dengan peran ganda saya sebagai Ibu bekerja, bantuan PRT adalah sebuah kewajiban.

PRT: "Saya gak mau digaji 300 ribu,Bu. Tahun lalu saja saya sudah digaji 450 ribu sama majikan saya yang dulu."
IRT: *Glek*

PRT: "Ibu kok beli telur cuma 5? Maksud
Ibu 5 kg?"
IRT: "Memangnya saya buka warung!"

Tingkah laku PRT masa kini memang "aneh2". Dipicu oleh ekspektasi urbanisasi dan persamaan hak asasi manusia, membuat saya kadang rindu sama si-mbok yang dulu bisa mengabdi hingga tahunan bahkan belasan tahun di keluarga papah-mamah atau bahkan eyang saya. Yang tidak membantah maupun memberi pandangan meremehkan dnegan polah hidup sederhana kami.

Jadi, begitulah, sekarang saya semakin mirip mamah saya. Ngerumpiin pembantu dengan temen kerja, mulai dari hobby rata2 para PRT untuk "nangga" hinggga temen2 yang mengalami PRTnya berulah (hamil,dll.)


Saya dan Papah
Sebenernya, saya juga ga berbeda dengan pembantu, atau kuli bangunan yang mengadu nasib ke Jakarta. Hampir 6 tahun yang lalu, saya berurbanisasi dari Bandung. Kesempatan sebenarnya sudah mulai ada sejak 1999. Tapi, sebagai jagoan kandang, saya masih berat meninggalkan Bandung saat itu. Saat akhirnya pindah ke Jakarta, saya mengalami "cultural shock" serbagai urban-er. Perbedaan gaya bahasa yang lebih "opposing", gaya hidup "hedonis" dengan penawaran segala ada dan serba luxurious, dan lain sebagainya. Tp, tolong dicatat, bahwa memang secara keilmuan, pengalaman, dan tingkat penghasilan, semuanya akhirnya lebih berkembang.

Akhir tahun ini, Papah saya juga turut berurbanisasi ke Jakarta. Papah aktif di sebuah LSM lokal yang berpusat di Jakarta. Duh...lansia ini memang pengennya terus aktif. Sementara di Bandung kesempatan untuk ini, katanya lebih sedikit.

Rasanya dari waktu ke waktu Jakarta memang tambah penuh. Banyak orang bilang...mereka ke Jakarta untuk berebut "potongan kue". Hmmm..."Apa kuenya cuma ada di jakarta,Jek?". Entahlah, tapi sebenernya, di dalam hati saya masih memendam sebuah keinginan...tinggal di Bandung tapi kerja di Jakarta. Siapa tahu di masa depan ada kereta cepat sehingga perjalanan hanya dapat ditempuh dalam satu jam saja.

Ah sudahlah....

No comments: