Wednesday, September 13, 2006

Percakapan populer

Percakapan paling populer akhir-akhir ini:
Teman lama:"Kerja di mana?"
Saya:"Di mana ya?"
Teman Lama:"Kok balik nanya? Suka gitu deh..."
Saya:"Di rumah aja kok."
Teman lama:"Bohong banget..."
Bingung deh. Katanya nanya. Kok ngotot...malah ujung2nya nuduh saya bohong. Katanya dia ga percaya saya ga kerja....@#&***%


Percakapan ini hampir mirip dengan percakapan ketika saya belum menikah dan sudah lulus kuliah. Hanya temanya saja ganti dan diawali dengan kalimat, " Kapan nyusul (nikah)?"...selanjutnya semua orang pasti tahu percakapan ini akan berakhir dimana.

Dua jenis percakapan populer di atas paling mudah membuat saya ingin melempar sandal (lebih mantap kalo kebetulan saya pake sandal dengan hak tebal atau hak lancip minimal 5cm!).
Maaf, bukannya kasar, tapi memang kasar....saya memang ga tahan dengan jenis percakapan populer ini. Seakan2 sudah ada stereotip jalan hidup yang harus dilalui seseorang untuk dikategorikan sukses atau mendapatkan pandangan kagum atau keplokan tangan.
Mungkin juga saya sensita..(untung saya perempuan..kalau saya laki pasti saya sentitit)..karena saat ini saya masih dalam cuti kerja super panjang bebas hambatan.

Ya, bebas hambatan untuk tetap di rumah. Kalau untuk sampai ke pekerjaan berikutnya...hmmm ibaratnya kendaraan....saya pakai mobil tua yang mulai terseok2. Mereknya sudah tidak jelas, yang penting masih bisa melaju ke depan, walau entah kapan sampai di tujuan. Spion kanannya pecah, disenggol teman yang naek motor otomatis keluaran terbaru menuju kantor barunya. Mobil tua ini catnya aus kena panas matahari, maklum lagi halodo (musim kemarau dalam bahasa sunda,red.)...nganter pemiliknya interpiu ke sana ke mari, mulai dari Jendral Sudirman sampai Kelapa Gading. Belakangan, rodanya juga mulai aus....mungkin ingin menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Hanya radio bututnya yang masih berbunyi...(itu pun gelombangnya tidak pas karena bukan digital)... Lagunya, "Kasih Bunda kepada beta tak terhingga sepanjang masa...dst."

Seperti seorang teman, yang baru saya kunjungi di friendster, saya seolah merasakan kemirisannya saat dia bercerita dapat bertahan dengan 20 ribu rupiah seminggu sementara temannya dihadiahi Fortuner dari suaminya. CASH!!!
Respons saya persis sekali dengan respons teman saya itu. Menghibur diri bahwa kami hanya sedang mengisi bahan bakar untuk kembali siap melaju kencang.Aaahhhhh.....

Saya masih di jalan buntu. Sekarang saya hanya menatap anak saya tumbuh. Bukan magis tapi memberikan saya kekuatan untuk terus melanjutkan hidup dan tidak pernah berhenti berusaha.

Ya Allah, janganlah Kau berpaling dariku...

No comments: