Wednesday, March 29, 2006

KL (2)



China Town
Sebelum kami berangkat ke KL, saya sempat menemukan info mengenai China Town di KL dimana terdapat Petaling Street yang terkenal. Terus terang, saya dan Feming agak kecewa juga pada saat akhirnya menemukan Jalan Petaling ini. Ga sesuai rekomendasi gitu...

Di sekitar China Town ini keadaannya crowded banget, ga siang dan ga malam. Letaknya dekat sekali dengan Hentian Puduraya (salah satu terminal bis utama di KL) dan Central Market (tempat belanja suvenir murahan). Kondisi Jalan Petaling sangat mirip dengan China Town di Sydney. Atau lebih gampang lagi Pasar Baru di Jakarta. Bedanya, kalo di Pasar Baru banyak India kalo di sini ya jelas banyak orang Cina dan tulisan Mandarin dimana2. Di sepanjang Jalan Petaling, banyak sekali toko-toko yang berjualan beraneka jenis barang-barang palsu....(i believe it's kinda fake PRADA bags, fake ADIDAS jackets and many more fake goods). Terus terang barang2 gini ga menarik buat saya yang biasa tinggal di Indonesia. Bukan artinya saya mampu dan biasa beli yang asli. Tapi di JKT barang2 ginian ga kalah serunya. Guess that I feel enough with all those ITCs in JKT, Tanah Abang, or Pasar Ular. Untuk Feming sendiri, hehe dia memang ga terlalu silau ama merek kecuali dia ngeceng berat ama modelnya.
Kalau malam, Jalan Petaling ini benar2 tertutup dengan kios2 bertenda biru. Dagangannya sih sama ama yang siang tadi, cuma sekarang karena pedagangnya lebih banyak ya jadi jauh lebih penuh aja. Sehingga kalo kita mau lewat...kita benar2 harus berjalan di antara pedagang, barang dagangan, dan calon pembeli. Ripuh!
Satu hal yang saya suka dari barang dagangan di sini cuma suvenir hehehe. Walaupun Central Market dikatakan sebagai pusat suvenir (dari jumlah ragam dan harganya yang bersaing), tapi pengalaman saya menunjukkan bahwa belanja suvenir di sini harganya bisa jauh lebih murah. Resepnya, teken aja terus penjualnya hehehe (read: bargain hard).


Kebetulan saat pertama kali mengunjungi China Town adalah saat jam makan siang. Jadi kami sekalian aja mencoba salah satu food court yang ada dan mencoba menu terkenal Malaysia, yaitu Nasi Lemak. Wuiiihh....Feming ga tahan dengan aroma kari yang sangat kental pada ayamnya. Nasi lemak ini lebih kurang mirip dengan nasi uduk. Tapi nasi lemak ini biasanya berpasangan dengan kari. Saya sendiri ga keberatan dengan kari asal ga terlalu sering aja. Saat malamnya, kami kembali ke Jalan Petaling mencoba memilih dari sekian banyak kios yang ada (sebagaimana digembar-gemborkan banyak pihak katanya enak2 dan murah). Damn the review! Kita makan sate kambing dan ketupat dengan harga 10RM. Puihhhhhh...rasanya manis...ketupatnya keras kayak batu (kayaknya kebanyakan kapur). Feming marah berat....karena perutnya udah laper banget. Akhirnya kita berjalan ke Puduraya dan Feming makan nasi kampong dengan pilihan sardin :( *cari aman, jek!*

Di sekitar China Town-Hentian Puduraya-Central Market tergambarlah apa yang dikatakan Malaysia sebagai truly Asia. Di sini kita akan menemukan etnis Melayu, India, dan Cina berbauran. Bahasa yang digunakan pun beragam. Jadi terkadang kalau kami tanya arah jalan pakai Bahasa Inggris...eh di jawab pakai Bahasa Melayu. Atau kadang saat kami tanya pakai Bahasa Melayu...eh yang ditanya ge ngerti...dan saat kami ganti lagi ke Bahasa Inggris ternyata ga ngerti juga...Rupanya ngertinya Bahasa Mandarin doang! *maappppp....les bahasa mandarinnya berhenti,Ci!*

Thursday, March 23, 2006

KL (1)

Sudah lama, saya dan Feming "termakan" campaign Turisme Malaysia, Truly Asia. Jadi pada kesempatan liburan tahunan kali ini kami memutuskan untuk mengunjungi KL dan Malaka.


Perjalanan kami pada awal Maret lalu, dimulai dengan KLIA, Bandara yang memiliki desain modern dan hi-tech. Sebelumnya saya sendiri sudah pernah transit di sini. Makanya saya cukup heran saat tiba di bandara ini dan tidak menemukan toko2 duty free yang beragam dan menarik :p. Setelah saya lebih teliti lagi, ternyata terminal saya sekarang ini berbeda dengan terminal transit saya dulu (berbeda gedung). Untuk berpindah ke gedung lain tersebut, saya dapat menggunakan aerotrain, free of charge.
KLIA sendiri, setahu saya, dibangun oleh seorang arsitek asal Jepang dan mulai beroperasi di tahun 1998. Dengan arsitektur dan fasilitas modern, airport ini pantas bersaing dengan Changi.

Dari airport, kami menuju hotel di area bukit bintang dengan menggunakan bus. Banyak sekali moda transportasi yang sebenarnya dapat dipilih, seperti express rail link, shuttle bus menuju Hentian Duta, dan lain sebagainya. Sebagai budget traveller, kami memilih naik bus menuju Stasium KTM (Kereta Api Tanah Melayu) terdekat, yaitu stasiun NILAI. Dengan sekitar 5 ringgit berdua, kami sampai di sana dan melanjutkan perjalanan menuju stasiun KL Sentral. Total lama perjalanan yang kami tempuh dari KLIA yang terletak di Sepang menuju KL adalah hampir 2 jam.

Dalam perjalanan menuju stasiun NILAI, kami melihat Malaysia "buhun". Maksudnya, saat nanti kami sampai di kota KL, kami akan menemukan kota yang modern, maju, hi-tech, di mana Malaysia seakan telah berubah menjadi negara yang maju dengan demokrasi ekonomi yang tidak semata2 mengandalkan perkebunan dan pertambangan. Tapi dalam perjalanan ini, kami menemukan hamparan tanah putih yang mengandung timah, perkebunan kelapa sawit yang luas dan perkampungan-perkampungan sub urban yang teratur. Kalau diperhatikan sekilas, alam, bentuk rumah, dan cuaca persis sekali dengan Sumatra.
Sepanjang perjalanan ini, kami bersama2 dengan 2 turis asal Prancis. Ga tau juga siapa yang ngikutin siapa, yang jelas lumayan aja, ada sedikit teman seperjuangan, apalagi dia bawa buku travelling yang bisa dijadikan guide (wuihh...isinya seluruh dunia looo.....pasti mahal :p). O, ya di Malaysia ini kami sering juga menemukan orang berbahasa Indonesia dan Jawa. Jadi saat saya dan Feming ingin ngerumpi, kami memutuskan menggunakan Bahasa Sunda hehehe Insya Allah lebih aman...

Dari KL Sentral kami masih harus menggunakan LRT dan monorail menuju Bukit Bintang. Menemukan hotel juga bukan perkara yang sulit, karena di depan stasiun monorail bukit bintang ada kios informasi yang menerangkan lokasi sekaligus memberikan peta dan brosur cuma-cuma (bayangin kalo harus beli buku travelling guide kayak londo dari prancis tadi :p).

Daerah Bukit Bintang ini sendiri dikenal dengan banyaknya pertokoan, cafe, dan restauran. Bayangin, baru turun dari stasiun monorail aja udah disambut ama Lot 10 di sebelah kiri :p kemudian ada juga mall lain2 seperti Sungai Wang, BB, Plaza Low Yat, Debenhams, dan masih banyak lagi. Di sini juga terletak Planet Hollywood dan beberapa diskotek, bagi mereka yang pengen keluar malem. Sayangnya, malam ini kami ada janji untuk kopi darat dengan teman India kami, Ramesh.
Di seputar hotel, di jalan Tengkat Tong Shin, juga banyak cafe2 kecil dan hawker stalls. Yang ditawarkan beragam, dari mulai masakan kampong (masakan Melayu yang mirip dengan masakan Sumatra), masakan cina, masakan vietnam, masakan Baba dan Nyonya, duren, baso tulang, dan masih banyak lagi. Jadi 24 jam sehari kami tidak perlu takut kelaparan. Apalagi toko 7-11, yang kalo di Oz cepet banget tutup...,di sini buka 24 jam.
Di sekitar hotel kami juga banyak hostel yang bisa menjadi alternatif bagi para backpakers. Kebanyakan, cafe2 dan hostel2 ini menggunakan bangunan 2 tingkat yang sangat kental arsitektur cinanya (2 bad, i did not take a picture). Di depan bangunan ini (di trotoarnya) juga ada semacam kotak (seperti kotak pos di Indonesia tapi terbuka di salah satu sisinya) dimana dipasang peralatan sembahyang (hio). Hal serupa ini juga saya temukan di Bangka, daerah yang kental dengan keturunan Cina. Bedanya kalau di Bangka, biasanya rata2 rumah warga keturunan memiliki kuil kecil sendiri.

Friday, March 10, 2006

Pengalaman Pertama Sha Berenang


Setiap Feming pulang ke Jakarta, saya biasanya udah usul, kemana aja keluarga kecil kita mau jalan. Bukannya apa2, kesempatan Feming untuk berinteraksi dan berkegiatan dengan kami (saya dan Sha) boleh dibilang once in a blue moon. Jadi kami selalu menyepakati aktivitas apa aja yang dilakukan selama satu minggu Feming di Jakarta. Kali ini, kami sepakat untuk ngajak Sha berenang. Sha memang baru 7 bulan siyyy. Tapi kami pikir ga ada salahnya untuk mengenalkan Sha pada aktivitas outdoor lebih dini, terutama karena berenang sangat baik bagi tulangnya. Lagian selama ini, Sha seringnya cuma dibawa ke mall doang. Maklum, si indung tea hiburannana ke mal huehehehe


Sabtu pagi, Saya-Feming-Sha ke Hotel Kartika Chandra. Paling dekat dan paling ekonomis. Memang ga ada seluncuran...tapi toh Sha memang belum bisa juga kan. Paling hanya early introduction to water besides bathroom/bath tube hehe. O, iya Sha udah beli baju renang dan ban lumba2 loh....(eughhh ieu mah si indung deui nu boga hajat....). Mama dan Papa saya juga ikut jadi penonton.... Maklum pengalaman pertama Sha, jadi Papa dan Mama Eyangnya juga ga mau ketinggalan...
Sha kelihatan sempet bingung waktu dinaikin ke ban renang. Terus dia mulai senyum2 sama Mama Eyangnya. Kemudian Feming mengangkat Sha dari ban...wuih dia seneng..karena kakinya bisa maen aer....cipluk....cipluk....
Nahhhh....berenangnya kudu selesai waktu Sha kemudian nangis. Kenapa? Sha ditengkurapin (digendong Feming). Terus Sha ga mau berhenti bergerak termasuk mengexplore untuk memasukkan kepalanya sendiri ke air.... Hwaaaaaa.....air kolam keminum dan masuk hidung.....


Ok deh, Sha....
Next time kita coba lagi yakkk....

Tuesday, February 28, 2006

Value for money...value for your health?


Pernah tergoda beli barang karena ada promosi atau sale? Hati-hati, jangan sampai akhirnya kecewa seperti saya....

Baru-baru ini, saat sedang di Bandung, saya mampir ke supermarket Y. Di sini saya membeli beberapa keperluan Sha yang udah habis. Salah satu yang perlu dibeli adalah wet tissue. Biasanya Sha pake merek Pigeon atau Mitu. Saat itu ada promosi buy one get one free untuk wet tisue dengan merek W. Waduh! Value for money tuh pikir saya. Langsung aja saya beli. Karena dengan demikian, dengan nominal yang sama saya mendapatkan jumlah yang ganda.

Gak lama, ternyata saya menemukan Sha seperti menunjukkan reaksi alergi. Muncul bintik2 merah seperti ruam di kulit kemaluan dan bokongnya. Aduh....selama ini dia ga punya masalah dengan diapersnya. Lagi pula kita selalu rajin menggantinya setiap 4-5 jam. Jadi saya lalu berasumsi bahwa Sha kemungkinan alergi pada wet tissue ini atau mungkin kualitas wet tissue ini sudah kurang baik. Entahlah....probably yes...

Sedih sekali, hanya gara2 10.000 rupiah, Sha harus menjerit setiap pup atau pipis. Rasanya saya mau marah ama diri sendiri. It's just not worthed!!!! Begitulah godaan promosi pada ibu2 tukang belanja seperti saya...yang beda seribu aja dikejar....eh ternyata malahan biaya dokter dan obat2an jadi lebih mahal. BETE!

Maafin Bunda ya, Sha....

Friday, February 17, 2006

Feming---who's who,from my prespective

Setelah ulang tahun pernikahan kami dan menjelang ulang tahun Feming,suami saya, saya jadi ingin berbagi sedikit tentang Feming yang saya kenal.

Kesan Pertama
All of my life, saya mungkin ga pernah kebayang akan menikah dengan Feming. Jangan lantas ini diartikan Feming sebagai sosok yang buruk, melainkan karena perbedaan di antara kami. Kalau saya kilas balik ke masa saat saya dan Feming pertama kali bertemu, jelas sekali bahwa saya dan Feming berada di dua kutub yang berlawanan. Feming dengan kehidupan PUNKnya dan saya dengan hedonisme anak gaul (yang ceritanya penyiar radio tealah ;p). Bukannya anak punk engga gaya, tapi mereka punya "gaya dan pola hidup" sendiri yang saya ga pahami.

Saat pertama kali ketemu sama Feming....ihhh syereeemmm. Serius! Dia botak, gede, diem, dan hmmmmm jauh dari rapi hihihi. Well, I guess the words " don't judge the book by its cover" is really true. Ternyata, Feming mahluk (berperasaan) halus hihiihi. Ga tau maksudnya JP atau emang tulus, saat kita nginep rame2 di rumah temen dan tengah malem saya kelaparan, dia dengan manisnya ngedadarin telor buat saya ;D Sampai sekarang siyy sebenernya saya masih curiga telornya itu ada peletnya huahahaha *justajokedarling*.

Masa Pacaran
Jarak Bandung-Jakarta ga pernah jadi penghalang buat Feming ngunjungin saya. Pernah suatu saat, (katanya) dia lagi ga punya uang banget, tapi mau ke Jakarta. Hiksss akhirnya dia merelakan jam swatch kesayangannya di lego buat ongkos. Itulah Feming. Kadang terlihat cuek dan bener2 ga peduli, tapi di saat yang lain dia bisa menunjukkan pengorbanan yang berlebih.

Saat awal pacaran, seperti sebagian anak punk (saya ga tau alasannya apa)Feming adalah vegetarian. Ini ngebuat saya risih dan kesal. Karena kalo kita makan bareng, entah di resto ataupun di warteg jadi buat susah. Lama kelamaan, Feming mulai kembali mengkonsumsi daging. Malah dia ketularan keluarga saya menjadi penggemar coto Makassar. Duh! (Saya ga berani nanya alasan apa sebenernya yang bikin dia kembali mengonsumsi daging. Apa karena memang rindu makan daging atau karena saya suka ngomel2....)Tapi hal di atas hanya hal2 ringan yang menunjukkan adaptasi Feming kepada hidup saya. Banyak hal lain, yang menggagetkan saya, bagaimana dia bisa berubah menyesuaikan diri tanpa saya harus meminta apalagi memaksa. Feming dengan cepat menyelesaikan kuliahnya.... Feming kembali shalat dan mengaji.... So, Amazing... Feming juga ternyata dalam diamnya memahami perasaan dan harapan saya. Terus terang, dari banyak cowok yang saya kenal, saya belum pernah ketemu dengan cowok sesensitif ini.

Let's get married!
Saya tidak pernah tahu, hingga saya menikah, betapa sedihnya Feming saat harus bekerja di Bangka. Saya yang sangat tidak sensitif menganggap ini sebagai suatu keputusan politis saja, karena dia memutuskan memulai karirnya. I thought it was only the probs of now or never. But, it's beyond that.

Feming dengan posisinya di Bangka, sempat membuat saya kehilangan banyak hal. Teman bicara, teman berbagi, pacar yang melindungi, dan banyak hal baik lainnya. Dia sendiri, menurut saya, agak sedikit mudah tersinggung saat itu. Sering kali hanya karena misscommunication, seperti saat baca sms yang tidak tuntas atau salah memahami isi SMS. This time was so hard. It took my Feming away.

Saat kita ketemu lagi (kopi darat hehehe), banyak yang Feming sampaikan, begitu juga dengan niatnya untuk lebih serius dengan hubungan kami. Dia juga (dengan gayanya yang suka petentengan ;p) datang ke rumah malam itu, bicara dengan papa dan mama saya. Feming yang suka cengos dalam lingkungan pertemanannya, sebenarnya orang yang sangat serius dengan perasaannya....

Our New Life

Feming dan saya punya opini yang sama. Bahwa kemesraan saat pacaran harus terus dibawa dalam pernikahan. Maka disinilah kami, membuka lembaran hidup, membangun masa depan. Bekerja, bermain, nongkrong, nonton bioskop, pulang malem, ngedugem, travelling, olah raga, menjadi agenda kami dalam hidup sehar-hari dalam lokasi yang berbeda.

Resume
Setiap manusia ga ada yang sempurna. Begitu juga Feming. Sedikit tentang kebaikannya sudah saya bagi untuk mendeskripsikan siapa Feming. Banyak hal lain yang tidak bisa diceritakan, hanya bisa disikapi.

Love you much, miss you more...,hubby!

Wednesday, February 01, 2006

Happy 2nd Anniversary

31 Januari 2006
06:43:42
SMS
"Pagi Bunda + Sha...
Udah sarapan?
Hari ini ulang tahun pernikahan kita.
Ceritain dong ke Sha...
Love you... mwh..mwh..."


Ya ampun!!!
Saya lupa.
Baca SMSnya pun udah agak siang.

Dua tahun menikah dengan Feming Elvind.
Bukan pernikahan yang mulus seperti Cinderella.
Tapi bukan juga pernikahan jungkir balik seperti sinetron2 Indonesia.
Ga ada adegan balas dendam dengan melibatkan polisi seperti di film India.
Apalagi peliknya berebut harta warisan kayak di telenovela.
Pernikahan kami pernikahan biasa yang naik turun.
Ada rasa sayang, kesal, bete, kangen, sebel, males telpon, pengen ketemu, dan ina inu lainnya.

Saya sempat juga kaget setelah menikah karena banyak adaptasi yang harus saya lakukan.
Juga tuntutan untuk menjadi mandiri dengan pola rumah tangga kami yang berjauhan.
Alhamdulillah banyak perubahan baik dari Feming yang sering bikin saya malu hati karena keukeuh dengan sifat saya yang "hanny banget".
Feming yang kaku ternyata sangat sensitif dan memahami saya dan posisi saya di tengah keluarga.
Feming, yang keras hati, ternyata lebih banyak mengalah kepada cita-cita dan harapan saya *yang kemudian lebih cenderung jadi cita-cita dan harapan kami*.
Feming yang pendiam, bisa sangat cerewet dan menghentikan dominasi saya tapi tidak untuk kembali mendominasi.


Semoga Allah senantiasa menjaga kami dalam kebaikan.
Memberi kami rizki yang cukup.
Mengkaruniai kami putra-putri yang shaleh.
Amien.


Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku
Warna - warna indahmu

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlukis jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sifatmu nan s'lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu

Sheila on 7
Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki

Thursday, January 26, 2006

My new job has won over my part time job

05.30 : wake up
05.45 : poop, then playing
06.30 : milk time
07.00 : sleep
08.00 : wake up
08.30 : breakfast
Now that I have much time, I try to prepare fresh food for Sha.
Canned juice and processes food are being left behind.
Thanks to my blender as the most important thing on my kitchen.
And the recipe book given from Oz by my aunty.* some are not applicable,though*
I gave Sha a training cup to drink water and juice.
I guess her first tooth will show up soon that she'd better take more water to clean her mouth. Later on, I need to put a spout on the training cup as the fruit is getting more solid as puree' or raw juice.
09.00 : Take a bath
09.30 : Milk time
10.00 : Sleep
12.00 : Wake up and lunch (rice smoothie with chcken/liver and veggie)
13.00 : Play
14.00 : Juice
14.30 : sleep
15.30 : wake up and play
17.00 : take a bath and play
20.00 : sleep

Not included in the schedule:
I also work on her letter of birth changing process, as we wish to change her middle name. Sure it's not a short process. Besides, I already raised my enquiries to our bank and insurance regarding this matter. Another long birocracy I have to settled.
Yesterday, I took her to have baby massage.
Next week,it's her schedule for immunisation.

I just found out that a baby could consume my time more than 8 to 5 job.

Could you advise when I can do my part time job?

Monday, January 16, 2006

Sydney (The End)

Pada suatu pagi, satu hari menjelang kepulangan saya ke Indonesia, saya menyempatkan diri browsing ke beberapa bangunan tua di Sydney. Kalau ditanya apa sebenernya yang saya cari, ini semata2 karena kecintaan saya pada bangunan2 tua dan mungkin kebosanan pada tempat2 yang dikujungi turis pada umumnya...shopping centers, souvenir shops, cruises, dan tipikal lainnyalah…
Maka pagi2 sekitar jam 8, setelah breakfast, saya berjalan menuju Hydepark. Tentunya ini bukan Hydepark seperti di London dimana terdapat legenda atau mitos (?) Jack the Ripper. Beberapa tempat, lokasi, dan nama jalan di sini memang banyak mengkopi dari Inggris, i.e Liverpool street, Covent garden, Hydepark, Lecester, dan masih banyak lagi. Hyde Park terletak di pusat kota dan di salah satu sisinya terletak St. Marry’s Cathedral.




St. Marry’s Cathedral adalah salah satu katedral terbesar di dunia dan pernah pula dikunjungi oleh Paus pada tahun 1970an. Sebagaimana katedral Katolik pada umumnya, katedral ini sangat indah dan dipenuhi dengan kaca2 patri yang indah pula. Belum lagi lukisan-lukisan besar yang sepertinya punya model yang sama dengan kaca patri (kehidupan Yesus?). Di dekat salah satu pintu masuk juga ada patung Bunda Maria dan lilin-lilin yang cantik. Saya ingin sekali ikut free guided tour di sini, sayangnya sebagaimana tur gratis lainnya, tur ini hanya ada di weekend...;(.




Dari sini (college street), saya berjalan ke arah Macquaries Street (atau lebih jelasnya berjalan ke arah marina Circluar Quay). Di sepanjang jalan ini banyak sekali gedung2 tua peninggalan masa kolonial. Di sebelah kanan ada Hyde Park Barracks museum. Gedung ini berdiri pada awal 1800-an dan didesain oleh arsitektur kenamaan Australia saat itu, Francis Greenway (masih inget Oom yang satu ini khan?). Sebagaimana sejarah Australia yang kita tahu sebagai daerah orang2 buangan pada masa awal benua ini ditemukan, di sinilah tempat tinggal para kriminal yang dibuang ke Oz. Mereka pulalah yang saat itu menjadi buruh bangunannya. Hyde Park Barracks pun pernah menjadi tempat penampungan para imigran perempuan lajang yang bekerja sebagai pembantu saat itu. Yang jijik tapi penting secara arkeologis adalah liang dan jalur tikus di bawah tanah yang ternyata sangat berguna bagi para arkeolog. Liang ini membuka sejarah pada masa ini dan di sini ditemukan pula beragam alat yang digunakan oleh ”penghuni” barak pada zaman itu. Dari mulai sendok logam yang sangat sederhana sampai alat jahit menjahit. Yang lebih jijik lagi juga dilihatkan bangkai tikusnya erggggh....
Selain itu, pada kurun waktu lainnya, gedung ini juga digunakan untuk gedung pengadilan dan kantor pemerintahan. Jadi boleh dibilang gedung ini ”jam terbangnya” udah tinggi banget...dari masa ke masa..dari satu fungsi ke fungsi lainnya. Sekarang walaupun di depan museum ini ada cafe yang cantik, teuteup keangkeran gedung ini masih sangat terasa...



The Mint, adalah gedung tua lainnya, yang terletak pas di sebelah kanan Hyde Park Barracks. Saat saya memasuki gedung ini, saya sempat bingung, kok sepertinya ga ada penjelasan tertentu atau penjelasan dari apa yang saya lihat. Yang terlihat jelas hanyalah beberapa foto dan captionnya di beranda belakang serta section yang telah dirubah menjadi The Mint Cafe. Saya kan jadi penasaran dan bertanya,”Excuse me, I read bout this building on the guide book and could u tell me what I can see in the building”. Huhh, jawabannya mengecewakan,”Well, actually nothing you can do or see in particular in the building. This is just one of the preserved buildings and currently this building houses the historic houses trust’s head office, library, meeting room, café, and you can find small display about this bulding at the back.” Whoaaa….sialan! Memang siyy Australia pinter banget jualan ini itu, ternyata tourist attarctionnya siy menurut saya biasa2 saja.
Anyhow a glance bout this building: The Mint awalnya merupakan sayap sebelah selatan dari Sydney Hospital (saat itu namanya adalah Rum Hospital) dan dibangun lebih kurang pada masa yang sama dengan dibangunnya Hyde Park Barracks. Hingga kemudian, tahun 1854 ditemukan emas di New South Wales. Sejak saat itu di belakang gedung ini dibuatlah pabrik koin. Pabrik ini berhenti berjalan saat kemudian di Canberra didirikan pabrik yang lebih besar pada tahun 1920-an.




Selanjutnya adalah, Charming and ellegant Sydney Hospital. Rumah sakit ini menghadap ke Martin Place. Dan di depannya ada patung babi hihihi Saya siyy bingung aja kok babi gitu loh. Babi kan jorok padahal rumah sakit kan kudunya tempat yang bersih dan higienis.... Hmmm mungkin saya ga punya sense of art???


Parliament house di Sydney jauh dari mentereng. Saya sempet keki waktu polisi yang jaga melihat saya dengan mata memicing penuh kecurigaan. Idiihhh, memangnya saya teroris. Di sini bener2 ga ada apa2..selain penjagaan yang ketat. Bagian gedung sebelah dalam juga sudah modern. Sangat berlainan dengan bentuk luar gedung yang mencerminkan masa pembangunannya (abad ke-19).



Dari sini saya melanjutkan perjalanan ke pinggir kota. Saya penasaran untuk melihat ELizabeth Bay House yang dikatakan sebagai "the finest house in the colony". Walaupun sempet tersesat, akhirnya saya sampai juga. Disini, saya memanfaatkan lagi voucher diskon yang saya punya dan ikut dalam free tour ;p. Rumah ini tadinya merupakan rumah dari sekretaris koloni, Alexander Macleay, yang dibangun pada 1830an. Rumah ini bergaya villa Yunani, terletak di bay dan memiliki view yang sangat indah ke Sydney Harbour. Bayangkan, tadinya rumah ini memiliki kebun yang besar dan luas tanahnya 54 acre. Sayangnya, dalam masa pembangunan rumah ini, Macleay mengalami kesulitan finansial sehingga pembangunannya tidaklah tuntas. Rumah ini kemudian menjadi asrama bagi sejumlah artis sebelum akhirnya dilestarikan di bawah naungan historic house of trust. Di rumah ini ada tangga yang berputar (cantilevered staircase), domed ceiling, library, kamar2 yang besar, drawing room, dan bagian basement yang tadinya merupakan tempat tinggal para pembantu dan wine cellar. Disini diputar film mengenai putri Macleay yang menuturkan mengenai ayahnya dan rumah ini. Saya sempat turun ke basement sendirian--ke bagian wine cellar, (masuknya melalui belakang gedung dan tangganya merupakan batu2 yang tidak rata). Tapi...brrrr...dingin dan keueung (sepi) ...apalagi filmnya bersifat naratif dengan tokohnya yang mengenakan pakaian ala abad 19. Hi....saya langsung lari terbirit2 (berasa lagi uji nyali soalnya!).
Selain kebunnya yang sudah tidak ada lagi, bagian belakang rumah (dapur) juga sudah tidak ada karena kebakaran. Furniture yang ada di dalam rumah ini pun sebagian besar bukan merupakan furniture aslinya...melainkan hanya rekonstruksi/refleksi dari perabotan di zaman tersebut.

Ini adalah hari terakhir saya di Sydney.
Thanks God for such a journey.

Friday, January 13, 2006

An ode to my Dear Sha and my hubby...


aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu...
aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu....
karena langkah merapuh tanpa dirimu...
ooohh..karena hati tlah letih....

aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh...
aku ingin kau tau bahwaku selalu memujamu....
tanpamu sepinya waktu merantai hati...
oh bayangmu seakan akan....

reff
kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu..ooohh
kau seperti udara yang kuhela kau selalu ada....
**
hanya dirimu yang bisa membuatku tenang...
tanpa dirimu aku merasa hilang..........
dan sepi......
(Dealova, by Once)

"ga tau udah berapa kali lagu ini saya puter hari ini..."
for more music:elvinds.multiply.com

Wednesday, January 11, 2006

At my wits end

The facts are:
-There is no new status on Feming transfer process. Means he has to go back and forth : Jakarta-Pangkal Pinang. So exhausting and quite money-consuming.
-Sha is like baby on the go. I think she's one of a kind baby-career who states that she's willing to travel intensively.
-And now apparently this job doesn't take me anywhere! The task is absolutely for The Flash and those who can read people's mind. No priorities till the boss says so. Plus, it may changes anytime, even at 12 am.
What else can be worse?

Monday, January 09, 2006

Sydney (Part 7)

Tarongga Zoo zoo with a view


Terus terang, saya ga termasuk dalam penyayang binatang. Binatang yang saya suka cuman anjing dan ikan. Nah, kalo di Sydney tiba2 saya menclok di Tarongga Zoo, itu sebenernya hanya karena saya pengen liat Koala ama Kangguru. Ga appdoooll dong udah nyampe OZ eh ga liat koala ama kangguru hihihi
Dari buku yang saya ambil cuma-cuma di airport, saya tahu ada beberapa pilihan untuk dapat menemukan kedua binatang ini:ke zoo atau wildlife park. Melalui buku ini juga, saya mendapatkan banyak voucher diskon. Salah satunya adalah diskon masuk ke Taronga Zoo;p Mengingat ada peluang penghematan dan pengennya naik ferry, maka saya memutuskan untuk lihat kedua binatang ini di Tarongga Zoo saja. *Sebenernya dari halteu deket hotel ada bis menuju sana, tapi saya memutuskan untuk naik ferry ke sana karena kebiasaan saya untuk melihat kota dari sungai atau laut di setiap tempat yang saya singgahi, jika memang memungkinkan*. Selain itu saya juga bisa ambil harga paket : ferry ke Tarongga wharf + bus/cable car ride ke pintu Tarongga Zoo + admission fee. Lumayan kan?
Anyhow, Tarongga Zoo sendiri terletak di utara Sydney, jadi dari sini kita bisa melihat view hi-rise building, opera house, and the bridge...


Dan disinilah cerita mengenai terbakarnya kulit saya bermulai. Saya yang pergi ke sana sendirian...asyik aja duduk di deck menikmati view Sydney menuju kebun binatang. (Sambil asyik ngobrolin Bae Yong Jun (pemain film Winter Sonata) ama orang Korea di sebelah saya....saya ga sadar bahwa hidung saya mulai merah.....*kalo foto saya diperbesar maka akan kelihatan bahwa hidung saya persis seperti Rudolph the reindeer;p*).
Seperti yang saya sudah rencanakan, saat sampe ke bonbin pas banget sama photo oppotunity with koala. Langsung deh saya ada di antrian nomer 3 (hebat ga?). Brengseknya, setelah bayar 3 dolar, saya mesti pake kamera saya sendiri !&^%#^*. Selaen ogi, saya juga panik, saya kan sendirian. Sapa yang mau motoin. Orang2 mah ke bonbin sekeluarga, lah saya???? Untung bakat SKSD (sok akrab sok deket) saya teuteup melekat. Setelah ngobrol2 ama orang Amerika yang dibelakang saya tentang cuaca di Sydney, cuaca di Amerika, suasana di Chicago, akhirnya saya minta tolong dia motoin saya hihihihi..... ”No probs, we can help you if the lady inside (the officer) can not help you taking photo”, gitu katanya.


Dari situ saya langsung mencari kangguru. Ya abisan apalagi. Yang laen kan banyak di bonbin Bandung ;p Eh, ternyata dari situ saya sempat muter2 dulu. Pertama, karena saya menemukan ING sebagai sponsor pemeliharaan singa di sini. Duh, jadi sedih inget ING. Kemaren di Darling Harbour lihat logo di gedungnya aja perasaan tercabik2...eh sekarang lihat spanduk berdirinya...(persis seperti desain kalendar yang kita buat dulu). Kedua, gara2 ga beli peta bonbin saya jadi tersesat (ini bikin tangan saya hitam dan belang)....bengong...lihat kanan..lihat kiri...lihat tanda petunjuk arah....
Sampai ada petugas dg pakaian sipil,” You are lost, aren’t you?”. Tau aja niyy bule ada orang kampung ke Sydney….


Alhamdulillah akhirnya bisul pecah juga...kesampean lihat kangguru gitu maksudnya....tapi perasaan kanggurunya kurus2. Mungkin laen kali harusnya liat ke Wildlife Park ya.....
Kangguru yang saya lihat saat itu kebanyakan pada bobo. Pas ada satu aja yang berdiri, semua langsung pada heboh dan siap2 moto. Eh kanggurunya kayak yang becandain kita...kita udah siap mau foto..eh dia malah nunduk lagi.... Sebel. Saya juga kecewa ga nemuin kangguru yang lagi "nyakuin" anaknya... ;(


Otw pulang, saya sempet beli suvenir terus kembali dengan cable car ke dock/wharf. Nunggu ferrynya datang lagi. Di dalam perjalanan pulang ini, saya ngulangin kesalahan saya lagi, duduk di deck sambil ngobrol ama ibu2 Amerika yang bawa anak dan ponakannya. Bener2 deh saya lupa diri… Ya kalo bule mah kena panas matahari paling merah terus putih lagi. Kalau saya kena panas matahri setelah merah ya iteeeem..tau deh kapan kembali normal lagi...*hiks..berdoa mulai....*

Wednesday, January 04, 2006

Sydney (Part 6)--updated

Phiuh…ternyata udah part 6 *plsbearwithme*

Royal Botanical Garden more than just a garden
Royal Botanical Garden mulai dirintis pada tahun 1788 oleh Gubernur Phillips. Awalnya diset sebagai daerah pertanian, tapi gagal karena tanahnya yang berpasir. Memang letak royal botanical garden ini adalah di teluk (mulai dari sisi opera house terus memanjang hingga ke bagian kota yang lama).

Saya ga tau berapa luas taman ini, tapi yang jelas gede buanget dan saya kemudian sadar bahwa banyak bagian Sydney city yang dapat tembus melalui berbagai gate di taman ini.



Tadinya saya males ke taman ini *it’s a garden aft all* tapi ternyata saya merasa waktu saya kurang. Saya pengen kembali lagi ke sini kalo suatu saat kembali ke Sydney.
Kenapa? Ya, karena di sini ga cuman ada tanaman seperti taman pada umumnya, tapi juga banyak patung2 cantik, fountain, gedung tua, dan dikelilingi oleh gedung2 tinggi dan situs bangunan-bangunan kolonial yang berjejer rapi.
Salah satu yang terkenal adalah Mrs. Macquaries chair, kursi istri salah satu gubernur yang terkenal di zamannya (yang menginisiasikan QVB, a.l). First lady ini memprakarsai dibuatnya jalan di sepanjang cove saat itu dan dia juga senang duduk disitu untuk memperhatikan setiap kapal yang datang..



Selain itu terletak pula Conservatorium of Music dan Government House.Conservatorium of music ini tadinya merupakan kandang kuda (yang megah dan bergaya Victoria) dari Government House.



Government housenya sendiri bergaya Gothic. Letaknya agak tersembunyi di balik rerimbunan taman. So comfy and elegan. Sayangnya, saya gak sempat masuk karena hari bukanya hanya Jumat sampai Minggu...;(

Sydney Opera House one of the bussiest opera house in the world


Keluar dari Royal Botanical Garden menuju Sydney Opera House, kita akan melewati gate Queen Elizabeth II. Kalo saya ga salah Queen Elizabeth II ini yang meresmikan Sydney Opera House di tahun 1973 setelah bertahun-tahun dibangun dan ga beres2. Dananya sendiri diambil dari lotto *porkas kalo di indonesia* yang sengaja dibuat untuk membangun opera house ini.

Kebetulan saya sempet ikutan tur bersama dengan sekitar dua puluh orang dari berbagai bangsa, dan ada di antaranya yang berprofesi sebagai arsitek. Sydney Opera House didesain oleh arsitek muda (di era tersebut), Utzon, yang memenangkan kontes desain opera house. Utzon, yang berasal dari Denmark, memulai membangun opera house pada tahun 1957. Menurut guide dan arsitek yang ikutan tur, untuk zaman tersebut, desain sydney opera house termasuk revolusioner. *Makanya menjadi salah satu ikon terkuat di dunia....* Namun demikian, Utzon resign pada tahun 1967 dan dilanjutkan oleh arsitek lainnya *menurut ceritanya,ternyata Utzon ini cukup keras kepala, mirip gw hehe*.


Di gedung yang akhirnya resmi dibuka tahun 1973 ini, saya juga sempat masuk ke opera theatre dan concert hallnya yang megah. Lumayan, paling ga, walaupun saya ga kebagian tiket nonton pagelaran ballet sleeping beauty, saya sempet lihat rehearsalnya. O,iya..Sydney Opera House punya jadwal pagelaran yang padat loo...hebatnya pas saya cek banyak yang udah fully booked... Dari salah satu atriumnya, kita dapat melihat ke arah teluk dan memperhatikan kapal2 yang lewat. Atrium ini disewakan sebagai venue untuk acara2 seperti pernikahan (tapi yang nikah ga boleh orang Indonesia, krn kapasitasnya ga cukup untuk 1000 orang ;p). O, iya di teluk yang bersebrangan adalah rumah megah dengan "posisi" yang cantik..nah itu adalah rumah PM Howard *keren banget tuh*

Saat ini, Sydney Opera House sedang mulai bebenah lagi. Pemerintahnya juga sudah memanggil Utzon kembali ke Oz. Kayaknya pemerintah di sana udah jaga2 kalo ga dibenahin sekarang, gedungnya udah keburu outdated. Hebat ya antisipasinya…


Sydney Harbour Bridge I promise to be back and climb

Jembatan yang terkenal ke seluruh dunia dan juga dikenal sebagai salah satu ikon Oz ini bukanlah jembatan besi terpanjang di dunia. Tapi merupakan jembatan besi dengan lengkungan terbesar. Penggagas jembatan ini lagi2 adalah arsitek terkenal Oz yaitu Francis Greenway (kalau saya ga salah, dia juga yang ngedesain entah conservatorium of music entah government house..pokoknya salah satulah…).




Di pinggir jembatan itu ada lane yang memungkinkan pedestrian untuk jalan kaki. Lane ini sangat panjang...dan jika kita terus berjalan melalui lane dan sampai di pinggir jalan tol, kita akan mendapati pemandangan circular quay lengkap dengan opera house dan harbour bridge. Kebetulan saat saya menaiki bridge stairs dan kemudian sampai di titik itu saat sunset...wah jadi stunning lah...
Tapi ya teuteup… ada yang saya missed dari bagian ini, yaitu observatory hill dan pylon lookout ;(

Tuesday, January 03, 2006

Sydney (Part 5)

Queen Victoria Building, a posh shopping arcade
Pertama kali saya melewati gedung ini adalah saat saya menuju Paddy’s Haymarket. Sekilas, dari warna gedungnya (tampak dari sisi George Street) mengingatkan saya pada Harrod’s. Kebetulan saat itu saya duduk di belakang supir bis (bukan di samping Pak Kusir) yang asyik ngobrol sama saya dan langsung nunjukin QVB (begitu gedung ini biasa dipanggil) sebagai salah satu tempat yang harus saya kunjungi.

**

Jadi, pada hari kedua, saya langsung bergegas menuju QVB yang terletak di George Street atau persis di sebelah utaranya Town Hall.
Setelah masuk, saya baru ngeh kalo QVB ini formatnya bukan mall (display), melainkan shopping arcade. Dari pintu masuk yang menghadap ke Town Hall, saya mendapati dua buah lift yang sangat kuno tapi sangat cantik. Lift ini berhadap-hadapan dan diapit oleh tangga berputar seperti di Gereja Imannuel,Jakarta atau di Mint Cafe, Sydney. Di dinding2 seputar tangga terpasang foto-foto hitam putih yang lagi-lagi sangat indah. Yang saya lihat saat itu siyy, foto2 itu menggambarkan keadaan gedung di zaman baheula.
O,iya di muka pintu masuk dari arah Town Hall ini ada patung the Royal Wishing Well & Queen Victoria.




Di lantai satu ada area berjalan di dalam mall yang disebut the grand walk. Emang siyy grande banget dengan gedung kuno ala Roman yang sangat mewah, elegan, dan berbobot. Udah pasti toko2 di sini juga branded, mulai dari Adidas, Osh Kosh, Salvatore Ferragamo, Fossil, Tie Rack, Gianni Versace, L’occitane, Bijoux, Jigsaw, Bally, Cellini’s Bar & Resto sampe.....kristal Swarovski *hiksss ga mampu*. Di lantai satu (di tengah/atriumnya) ada pohon natal gede buanget...tingginya 24 meter dan sampai tembus ke lantai paling atas.. Bukan cuma gede dan tingginya pohon natal yang bikin heboh, tapi asosoris pohon natal yang terdiri dari 15.000 kristal swarovski itu yang bikin pohon ini semakin ”bernilai” dan berkilauan... Pantesan QVB bangga banget ama pohon natal ini dan digembor2in di flyer2nya sebagai the most dazzling christmas tree.... *minta kristalnya duuunng atuuuu aja..bener deh..atu ajah cukup kok..*


Di lantai berikutnya juga ada display2 menarik lainnya, misalnya batu pualam cina yang berbentuk (apa ya....) kapal (kayaknya ;p) dan perhiasan serta asesoris kerajaan. Juga ada jam menggantung, yang membuat gedung ini semakin klasik.
Di atrium lantai paling atas juga ada concierge desk,sofa, dan piano. Megah ya.... Rasanya ga bisa ngebayangin kalo gedung ini dulunya adalah pasar biasa yang merupakan tempat florist, penjahit, gudang, show room dll. Tapi zaman itu, gedungnya belum seperti ini loh. Karena gedung ini ”baru” selesai dibangun tahun 1898.

Sebagai kesimpulan, QVB ini adalah tempat belanja terindah yang pernah saya lihat. Walaupun keluar dari sini saya cuman nenteng suvenir ;p suatu saat saya pengen kembali lagi ke sini, belanja ina inu, duduk di cafe sambil chit chat ama suami dan anak saya serta ikut tur tentang sejarah gedung ini...

Sunday, January 01, 2006

HAPPY NEW YEAR
TO ALL DEAR FRIENDS AND FAMILY...

Wish you lots of happiness, health and wealth.


From:
Hanny, Feming, Asha Elvind

Friday, December 30, 2005

Sydney (Part 4)--updated

The Rocks, the old town quarter

Kalau kita mengikuti jalan di Circular Quay ke arah terminal kapal pemberangkatan internasional (ke arah barat) kita akan menuju The Rocks. Circular Quay sebelah barat ini terbentuk belakangan, dan awalnya merupakan gudang-gudang penyimpanan barang dari kapal-kapal yang berlabuh. Ga heran, kalau di Circular Quay sebelah barat ini banyak sekali bangunan2 tua yang sekarang berfungsi sebagai café dan galeri.

Kalau kita berjalan terus ke atas, maka kita akan menemukan The Rocks Market, lagi-lagi hanya buka saat weekend. Bedanya sama Paddy’s, The Rocks Market ini hanya seperti bazaar. Jadi market ini tidak punya gedung sendiri, melainkan hanya memanfaatkan jalan2 dengan tenda-tenda yang meneduhkan. Di pinggir-pinggir jalannya sendiri banyak bistro, cafe, gallery (seperti Saatchi & Saatchi), home decor shop, dan independent retail outlet.



The Rocks dalam sejarahnya merupakan kawasan pemukiman Aborigin dan merupakan tempat berlabuh pertama para marinir dari Inggris. Karena itulah, di sini pertamakalinya pemerintahan Australia di bawah Kerajaan Inggris didirikan. Kini, The Rocks merupakan area kota tua yang jalan2nya masih terbuat dari batu cobble. Berjalan di sekitar The Rocks sangat berbeda dengan bagian lain di Sydney. Dengan bangunan2 tuanya, saya merasa seperti di Eropa. Yang membuat saya sadar bahwa saya sedang berada di Sydney adalah Sydney Harbour Bridge dan Opera House yang ”memagari” The Rocks.

Bagian favorit saya di The Rocks ini adalah Campbell’s Cove, dimana jalan mobil (Circular Quay West) mentok dan harus memutar balik. Jalan mobil ini mentok ke arah Cove dengan pemandangan Sydney Harbour Bridge. Di sebelah kirinya terdapat bangunan2 tua Italian Village yang terdiri dari (lagi2) barisan cafe dan pub. Saya demen banget duduk di sini sementara burung2 beterbangan di sekitar saya. Saya memang lebih memilih The Rocks daripada Circular Quay, karena di The Rocks banyak sekali bangunan tuanya (u know me,lah...). Kalo punya duit pengennya siyy nginep di old Sydney holiday inn yang letaknya agak tersembunyi di antara gedung2 tua berbatu bata merah di area ini…. *what a joke*.

Darling Harbour perfect place to laze away

Darling Harbour ga jauh berbeda dengan Circular Quay. Di sini banyak sekali yang jualan di sepanjang jalan menuju harbour, dari mulai souvenir sampai makanan. Tapi, menurut saya, kalau kita dalam format berkeluarga, akan lebih nyaman untuk relax di sini ketimbang di seputar circular quay. Di area Darling Harbour terdapat banyak tourist attraction : IMAX Theatre, Sydney’s Aquarium, beberapa museum (maritime dan powerhouse), dan Chinese garden of friendship.

Letak Darling Harbour ini ga jauh dari Paddy’s. Tinggal jalan sedikit melalui toko-toko dan resto di China Town, dalam 5 menit udah kelihatan atapnya Chinese Garden. Chinese Garden merupakan satu-satunya tempat yang ”memicu” saya untuk mengunjungi Darling Harbour.



Dari brosurnya, saya mendapat informasi bahwa Chinese Garden dibangun untuk memperingati ulang tahun Australia pada tahun 1988. Kebetulan Quangzhao (atau dikenal dengan Canton) adalah sister citynya Sydney. Maka sepakatlah, oleh kedua negara, pada tahun 1986 pembangunan taman sebesar 1 hektar ini dimulai. Lebih lanjut saya juga mengetahui bahwa pembangunan dalam segala sesuatunya di taman ini mengikuti prinsip yin dan yang. Dan saat saya masuk (lepas dari saya harus bayar 6 dolar untuk masuk argggghh....compare to botanical garden yg gratisan...), saya merasa tenang, adem, dan damai.


Memasuki Chinese Garden of Friendship ini, saya merasa jadi pendekar di film silat Sin Tiaw Hiap Lu (itu tuh si Yoko ama Bibinya....pendekar rajawali tea..;p). Ada paviliun yang menjorok ke danau, ada dinding bergambar dua naga mengenggam mutiara, ada patung naga dan air terjun, ada tea house, ada hutan kecil yang tumbuh liar, ada bambu dan lotus, ada pagoda dan malah ada juga dinding yang bolong berbentuk bundar yang berfungsi sebagai pintu antar section...*favorit gw niyy*.

Duh duh..saya semakin pengen ke Cina niyy. Ya kalo ga kesampean ke Shanghai, nyambangin Andi Lau ke HK atau Jerry Yan di Taiwan juga boleh....*amin*

Thursday, December 29, 2005

Sydney (Part 3)



Kings Cross, a sparkling nightlife in Sydney
Rasanya belum lengkap pergi ke Sydney kalau belum lihat Kings Cross. Kings Cross dikenal sebagai drug dan red district, daerah yang dipenuhi dengan adult show, sex toy shop, porn film and adult book shoop, topless waitress…etc…etc.. Agak mirip dengan red district di Amsterdam, tapi kayaknya di Amsterdam lebih seru dan lebih panas deh hehehe…. GENJRENG JAYA!!!!

Saya mengunjungi Kings Cross saat malam hari. Ya namanya juga daerah ”beginian”, kalo siang mah pada tidur atuh. Saya berangkat ke sana sendirian sekitar jam 21.30 dengan city rail. Kings Cross ternyata ga terlalu besar, hanya sekitar dua blok. Begitu keluar dari stasiun, musik udah rame. ”Style” orang yang lalu lalang pun ”mencolok”. Mulai dari binan yang berbaju ungu sampe cewek2 berstocking jala-jala. Dimana-mana ada neon light warna warni yang mengiklankan ”layanannya”. Di beberapa toko juga ada ”greeter”, yang dengan sopan menawarkan ”layanan” pada orang yang lalu lalang. Di bar-bar juga kelihatan penuh dan rame. Banyak motor2 besar parkir di luar bar-bar murahan ini…dengan cowok2 bertato dan bermuka gahar di atas joknya. Selain itu, kebanyakan toko2 juga menjorok ke dalam. Artinya, jika kita ingin melihat produknya, kita harus turun tangga atau naik tangga. No display. Hanya satu toko sex toy shop yang agak terang dan sempat saya masuki. Yang lain, karena menjorok ke dalam, saya gak mau masuk…takut ga kuat bayar stripteasenya huahahaha Well, the idea was just to wander around and saw how the other half live and play…

Seingat saya dulu di Amsterdam red districtnya lebih terbuka lagi. Lebih terbuka seperti itu malah membuat saya merasa bebas dan tidak menjadikan hal seperti ini sebagai sesuatu yang tabu. Cewek atau cowok, tua atau muda, syah2 aja mencari tahu dan membeli produk mereka hehe Ya saya pikir itu masalah pribadi masing2. Out of my scope...
Apart of it, of course I did not want to land myself in trouble I did not stare to people and shops (unless I wanted to come in) or made any nasty remark…. I left Kings Cross after seeing the nice fountain in front of the police station. On the fountain there are arrows pointed to some directions: Singapore, KL, London…etc..etc…*dunno wot they mean* but no Jakarta or Bali, I regret *goddamnit*

”Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
...
Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang
Dosakah yang dia kerjakan
Sucikah mereka yang datang”
...
(Kupu2 Malam by Peter Pan)