
Pada suatu pagi di Bandung, kakak ipar saya telpon.
"Han, Sha mau ikut casting ga?"
Duh. Sha susah diatur. Gimana mau diajak casting.
"Gak punya foto, euy. Lagian Sha susah kalau diajak sesuatu diantara orang yang belum kenal. Pasti dia semaunya sendiri"
"Iseng-iseng deh. Hitung-hitung nemenin Rafly"
Rafly adalah anak kakak saya, sekaligus cucu orang tua saya yang tertua. Umurnya 6 tahun.
"Ok deh."
Singkat cerita, kami berangkat ke rumah teman kakak ipar saya. Dia ini yang kabarnya berelasi dekat dengan penyelenggara casting. Castingnya sendiri baru secara official diselenggarakan keesokan harinya di sebuah hotel berbintang.
"Ibu-ibu, jadi saya adalah talent management. Saya ke Bandung untuk mencari talent-ta;ent baru yang nantinya akan saya tawarkan ke berbagai production house. "
Saya, kakak ipar saya (yang bawa 2 anaknya) plus kakak dari kakak ipar saya (yang datang lengkap dengan 2 anak jauh-jauh dari Cimohai) manggut-manggut.
Mungkin dalam kepala masing-masing...sedang berkhayal anaknya jadi bintang sinetron :)
"Biaya administrasinya 100 ribu", tambah si mbak dengan senyum manis.
Tidak ada yang berkomentar. Dalam hati, saya bergumam, gak apalah uang segitu...toh akan dibayarkan setelah lulus casting. Talent management toh butuh dana untuk membuat profil talent kelihatan manis dipandang PH.
Casting dimulai.
"Nama Rafly. Umur enam tahun. Kelas 1 SD." Jari telunjuknya ada di dalam mulut saat ia berbicara. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Grogi.
"Kalau adiknya....namanya siapa? Lucu banget yaaa". Tangan salah satu penyelenggara mencolek pipi Syalwa (adik Rafly yang sedang tertidur di pangkuan kakak ipar saya.
"Ya udah yang lain aja deh. Sasha sini dooongg...Tante ama Oom mau ngajak main.."
"Ga maaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuu..." Sha berteriak sambil berlarian di atas dek di halaman yang luas. Muter-muter persis kayak obat nyamuk. Saya cuma bisa nyengir.
"Coba Zahra aja deh"
Anak kakak dari kakak ipar saya ini sangat pede. Tapi entah kenapa siang itu dia mati gaya.
"Nama...Zahra..." Suaranya yang serak seperti Atiek CB tiba-tiba hilang. Keberaniannya lenyap.
"Makasih ya...Zahra, sekarang coba Daffa..."
Daffa adalah adik bungsu Zahra.
Daffa lantas menyanyikan lagu "Munajat cinta" dengan lancar walaupun artikulasinya belum jelas.
Semua bertepuk tangan.
Alhamdulillah akhirnya ada yang bentes juga di casting.
"Ibu-ibu, terima kasih ya."
"Formulirnya udah diisi khaaan?"
"Udaaaah" Serempak menjawab seperti di Cerdas Cermat."
"Biaya wawancaranya per anak seratus ribu rupiah yaaaa"
Mendadak saya, kakak ipar saya dan kakaknya terdiam.
Kakak Ipar saya menerima kwitansi dua ratus ribu rupiah..padahal Syalwa boro-boro diwawancara...dia kan lagi tidur. Kakaknya juga sama.
Sedangkan saya harus bayar seratus ribu untuk satu pertanyaan yang dijawab Sha dengan ketus, "Ga mauuuuuuuuuuuuuuuu..." Glek!!! Jadi biayanya bukan setelah lulus cating..., tapi sekedar untuk wawancara hungkul.
Di dalam mobil menuju rumah. Kakak ipar saya tersenyum menatap Syalwa, "Dek, kamu bobo mahal amat siihhh. Bobo aja bayar seratus ribu".
Kakak dari kakak ipar saya reaksinya lain lagi.
"Zahra, awas yaaa....kalau kamu gak lulus casting! Udah bayar mahal, pake ga bisa gaya lagi. Malu-maluin aja". Matanya melotot menatap Zahra yang acuh tak acuh menatap layar TV di mobil.
Hihihihi




No comments:
Post a Comment