Tuesday, May 01, 2007

Pacar Impian (II)

"Let’s dance together
Get on the dance floor
The party won’t start
If you stand still like that
Let’s dance together
Let’s party and turn off the lights"
"Telpon...telpon...tuh bunyi", sentak Yuri dan Wina latah. Keduanya kaget mendengar nyaringnya suara Melly Goeslaw dan BBB.

Rayu mengangkat telponnya.
"Ya, Mah..", sahutnya pelan
"Rayu, sekarang juga ke Rumah Sakit Borromeus. Papah tabrakan di Padalarang.". Mamah terdengar panik diujung sana.
"Hah??"
"Mamah jalan sekarang sama Mas Kiki".
"Kita ketemu disana. Nanti sajalah ceritanya".
Klik. Telepon terputus.

RS Borromeus. Ruang Maria Lt.4
Di kamar sudah ada Mamah, Mas Kiki, Eyang Kung, Enin dan Bi Tinceu. Walaupun Papah terlihat seperti tidur dengan tenang, semuanya memperlihatkan wajah yang cemas.
Papah masih belum sadar setelah keluar dari ruang operasi. Kata Mamah, Papah diselamatkan oleh patroli jalan tol dan rekan kerjanya yang rupanya mengenali mobil dinas Papah. Papah langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Padalarang sebelum akhirnya dirujuk ke Borromeus.
Air mata Rayu hampir tumpah. Tapi tidak, tidak boleh. Mamah akan jadi lebih sedih. Rayu mengambil HP dari dalam tasnya, ia ingin curhat. Sejenak ia ragu akan menelpon siapa. Adi. Tentu saja. Rayu tahu, Adi adalah tempatnya berbagi, berkeluh kesah. Adi selalu memberinya semangat, nasihat, dan siap meminjamkan pundaknya setiap Rayu merasa kesal dan kecewa sehingga ingin menangis. Adi bukan saja pacar baginya, tapi sahabat dan kakak. Ah..., emangnya aku kenyang apa dikasih makan pundak? Seorang pacar impian adalah lelaki berpendidikan dengan masa depan gemilang. Apalagi dengan dukungan keluarganya yang terhormat dan berada, aku pasti bahagia...

Gimana bokap? Qta2 ada di kampus. Tadi Dipati Ukur macet banget. Tian mengirimkan SMS.
Sudah mulai sadar. Kakinya patah di tulang betis dan jari telunjuk kaki. Si Papah memang sensitif terhadap obat bius, jadi siumannya lama, kata dokter.
OK Tian tidak berani untuk memulai mengungkit topik pembicaraan yang terputus di Cafe siang tadi. Dia tidak bisa menebak reaksi Rayu akan seperti apa.

***

Jakarta, 2 Mei 2007

Dear Rayu,

Maaf Adi ga sempat pamit. Adi takut Rayu merasa terganggu sebagaimana yang selalu Adi lakukan sebulan terakhir ini. Mulai saat ini Adi akan berhenti menelpon, mengirimi surat, sms, apa saja yang sifatnya menghubungi Rayu. Adi pikir, Adi memang tidak layak menjadi pacar Rayu. Adi memang bukan pacar impian cewek manapun, Yu... Adi hanya laki-laki biasa yang tinggal di rumah kontrakan tipe 40 bersama Pak De dan Bu De. Adi hanyalah anak lulusan D3 dari perguruan tinggi yang tidak terkenal...

Yu, Adi pindah ke Jakarta. Alhamdulillah, Adi diterima di Male Radio, Jakarta minggu lalu. Doakan Adi sukses ya...

Hati-hati.

Big hug,
Adi


Surat ini dikirimkan Adi melalui email. Rayu hanya termenung. Rayu yang tejebak dalam ambivalensi impiannya sendiri.

Bersambung...ke Pacar Impian (Tamat)

1 comment:

Afin Yulia said...

aduuh mbak....emang sih nggak kenyang dikasih pundah tapi kalo trus cinta pergi begini sama saja kelaparan (kasih sayang)
hiks...jadi ngebayangin kapan ya kenshin himura nongol kedunia nyata...apa dia enggak tahu ya ada yang nunggu disini