Monday, April 30, 2007

Pacar Impian

Gw punya pacar baru. Pesan Rayu dalam SMS untuk Tian.
Kok tiba2? Adi dikemanain? Apa gara2 nyokap ga suka? Tian memborong pertanyaan.
Rebound, Jeng. Hari genee, mana mungkin putus tanpa ada cowok baru. Gw cape backstreet.
Pacar baru Rayu memang tipe ideal para orang tua. Walaupun tidak memiliki wajah yang terlalu menarik, ia mahasiswa tingkat akhir perguruan tinggi paling top di negara ini. Keluarganya ningrat dan terpandang. Cocok benar dengan Rayu, yang ngakunya cewek gaul berprestasi. Dan keberhasilan menggaet Roni menjadi suatu "prestasi" yang Rayu banggakan.

Sore itu di depan laptop di sebuah cafe di Bandung Supermall, Rayu memperbaharui shoutbox di friendster. I love u but what's the heck. He's more perfect! . Huuufhhhh..Rayu mendesah. Hati kecilnya tidak yakin bahwa kesempurnaan dapat dengan mudah menghapus cinta dan rindunya pada Adi.

Dua minggu kemudian...
"Ayo cabut,Ron". Rayu mengambil tas dan jaket jeans.
Roni berdiri di depan kaca jendela, mempermainkan rambut gondrongnya...setengah menyibak...menyentuh jambang dan jenggot tipisnya...
"Heh, narsis lu ye?"
"Buruan. Gw aja belum nyisir. Kok lu lama amat ngacanya".
Roni melirik dan tersenyum, "Nyantai aja, Yu..."
Roni memperbaiki letak kemejanya.
Duh...lama....

Sebulan Kemudian...
Ron, kemana aja sih? Kok udah tiga hari gak ada kabarnya? Gue telpon ke rumah juga gak ada mulu. Bosen nih nongkrong ama Si Tian mulu. Telpon gue balik ya..., gw on the way ke Ciwalk. Rayu meninggalkan pesan di mailbox.
Mobil Avanza yang dikendarainya menyusuri Jalan Cihampelas dan menikung ke Ciwalk. Di Cafe Pizza, Tian, Mela, Yuri, dan Wina sudah duluan menikmati es krim. Yuri dan Wina mempertontonkan tatapan mesra dan belaian di rambut. Mereka tidak lagi menutupi hubungan mereka. Toh kedua orang tua masing-masing akhirnya pasrah melihat anaknya mencintai sesama jenis. Lesbiola, itu sebutan untuk mereka.

"Deuuu....meni mesra..." Rayu menggoda Yuri dan Wina.
"Mau join??" Yuri menjawab setengah tertawa.
"Halah....Roni aja belum habis. Adi aja masih ngejer-ngejer...", jawab Rayu sambil mengerdipkan mata.
"Eh, Yu..." Mela tiba-tiba angkat bicara.
"Ntar-ntar....gue dulu deh yang cerita. Penting banget niiih." Rayu memotong.
Rayu lantas berbicara panjang lebar mengenai Adi. Adi yang masih terus mengejarnya, menghujaninya dengan bunga dan setumpuk surat cinta.
"Tau ga lu? Surat-surat itu kalo ditumpuk bisa nyaingin kumpulan koran bekas langganan si Papah?"
"Mana kadang-kadang dianter ke radio lagi. Untungnya pas gue udah selesai siaran. Jadi ga dibaca anak-anak". Rayu melanjutkan ceritanya. Semangat '45nya terus berkobar-kobar.
"Helloooo..." Tian memotong.
"Kita bukannya ga seneng kalau Adi memang masih ngejer-ngejer lu, Jeng."
"Tapi denger dulu... Ada yang Yuri dan Wina mau ceritain ke lu."
"Ini tentang Roni."
"Roni yang lu sanjung-sanjung memukau dengan suaranya yang indah saat menyanyi sambil bermain gitar...Roni yang suaranya gak kalah ama Bebi Romeo....Roni yang rambut gondrongnya wangi, hitam, dan lebat...." Tian nyinyir.
"Roni???" Rayu terdiam. Buku menu di hadapannya ia tutup. Kenapa dengan Roni? Apakah ada hubungannya dengan "hilangnya" Roni selama tiga hari ini? Dan bukankah minggu sebelumnya Roni juga sempat tidak bisa dihubungi selama dua hari tanpa ada alasan yang jelas."
"C..c..cewek lain??" Rayu bertanya. Pelan, sedikit tergagap, dan hati-hati.

Bersambung...

1 comment:

Labibah said...

yuhu! Sambungannya mana? good job, han!!!

-maknyak-
http://serambirumahkita.blogspot.com