Wednesday, March 21, 2007

Catatan Perjalanan Mataram



Dari dulu saya pengen banget menginjakkan kaki di pulau Lombok, yang terkenal indah panoramanya. Sewaktu jadwal pelatihan jurnalis saya dirubah dari Samarinda menjadi Mataram....oaaalllaaaah...senangnya tidak terkira. Yang lebih menyenangkannya lagi, saya pergi bersama sahabat saya, Ita.

Kalau ada yang tanya, seberapa penting sih menyeimbangkan kerja dengan hiburan... Whoahahahaha, buat saya penting banget. Kerja kalau gak happy, tanpa greget, tanpa perasaan menikmati, tanpa perasaan bahwa pekerjaan ini tidak memberikan "added value" pasti seperti berjalan di padang pasir. Intinya...work hard..play harder. Sedangkan untuk yang bertanya tentang pelatihan jurnalisnya sendiri...hmmmm itu bisa panjang lebar!*japri aja ya, jeng!* Sedikit mengenai pelatihan jurnalis ini, pelatihan ini diselenggarakan di 15 kab/kota sejalan dengan program akselerasi penanggulangan HIV/AIDS secara singkat dengan mengundang nara sumber nasional maupun lokal. Kenapa jurnalis? Jurnalis adalah mitra strategis penanggulangan HIV/AIDS. Jurnalis adalah corong bagi informasi yang SEHARUSNYA akurat sehingga masyarakat dapat memahami benar bagaimana pencegahan dan penularan HIV/AIDS terjadi. Jika sudah demikian, diharapkan masyarakat tidak melakukan stigmatisasi dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), sehingga kualitas hidup ODHA dapat meningkat. Selain itu, diharapkan nantinya masyarakat yang mengakses berita tersebut dapat menghindari prilaku2 beresiko terinfeksi HIV/AIDS.

Nah, bagaimana dengan kesan saya mengenai Mataram? Mataram merupakan kota yang memiliki banyak sumber daya indah yang belum tergali. Mataram terlihat lebih tenang daripada Denpasar. Nikmat sekali...so peaceful. Sayangnya kerusuhan beberapa waktu lalu dan peristiwa bom bali berpengaruh besar pada pariwisata di sini. Daerah Senggigi pun tidak lagi dipenuhi turis-turis, terutama turis asing. Hal lain yang saya catat adalah bahwa untuk budaya dan kerajinan, saya berpendapat bahwa Bali masih jauh di atas Lombok. Sehingga waktu saya mengunjungi desa Sayang-Sayang (Rungkak Jangkuk) tidak banyak kerajinan yang "meluruhkan" dompet saya ;) Satu hal saja yang bikin saya selalu ga tahan untuk buka dompet : MUTIARA. Di sini, mutiara, baik air tawar maupun air laut, sangat cantik-cantik dan murah sekali. Tentunya semuanya ada kelasnya..kelas grosiran dan kelas galeri. Tapi di kelas grosiran pun, kalo kita pandai memilih pasti jauh lebih cantik daripada mutiara di Jakarta (not to mention the artificial ones you can find in ITC...).
Mataram sebenarnya saling bersisian dengan Ampenan dan Cakranegara. Sepertinya ini merupakan 3 kota yang berbeda namun tidak terlalu jelas bagi saya bagaimana mereka saling berbatasan. Di Ampenan inilah terdapat airport SELAPARANG dan banyak bangunan2 tua yang indah2. Sepertinya Ampenan dalah kota tua yang dulunya merupakan daerah pelabuhan.
Masih banyak dari Mataram yang sebenarnya WORTH untuk dikunjungi. Desa pengrajin tenun ikat, misalnya. Lalu, bagian dari pulau Lombok lainnya juga sangat menarik, seperti Pantai Kuta-Lombok yang terkenal dengan pasir putihnya. Hmmm....ternyata saya belum puas juga ya... Ngga kok, apapun itu, saya berterimakasih pada Allah..sudah diberi kesempatan melihat dan menginjak tanah Lombok, seperti yang saya inginkan selama ini. Thanks, God.

No comments: