Monday, March 12, 2007

Catatan Perjalanan Cirebon-Purwokerto-Yogya



Perjalanan panjang dengan kereta api secara berkelanjutan cukup melelahkan. Apalagi kota-kota yang dikunjungi bukan kota yang mashur sebagai kota wisata (selain Yogya loh..). Saya mengunjungi Cirebon dan Puwokerto masih dalam rangka pelatihan jurnalis. Tapi saya gak akan cerita mengenai pelatihan, melainkan bagaimana saya "meluangkan waktu" dalam perjalanan ini.

CIREBON
Saya memang tidak pernah lupa menyempatkan (baca:memaksakan) diri untuk cuci mata dalam setiap perjalanan dinas. Work and leisure should be balance ;p in my opinion. Kali ini saya sempat hujan-hujanan datang ke TRUSMI, pusat penjualan batik Cirebon. Saat saya datang petang itu, tinggal beberapa toko yang buka. Saya membeli sebuah kemeja santai buat nyokap dan bahan kemeja batik sutra untuk bokap (it will be matched with my mom's green shantung!). Yang saya gelo (bahasa jawa=kesel), kenapa ya motif cirebonan (yang dikenal dg nama "mega mendung") kok ga dibuat dalam versi pakaian or sprei atau apalah... Yang ada hanya dalam bentuk jarik/sinjang. Menurut penjaga tokonya, mega mendung memang hanya digunakan pada acara2 tertentu. Duh...saya jadi sebel kenapa saya dateng ga bertepatan dengan acara sekaten ya??? *aji mumpung banget*

PURWOKERTO
Ini pertama kalinya saya singgah di Purwokerto. Kota kecil dimana saya menginap di hotel yang oldies he3... Indikator ke-oldies-annya a.l. kursi besi di teras yang menggunakan jalinan tali plastik sebagai bantalan duduk dan sandarannya. Warnanya talinya ada yang merah, hijau, atau kuning. Saya ingat dulu di rumah saya pernah punya kursi serupa ini di teras....ya kira2 waktu itu saya masih SD kelas 1 hihihihi dungplang!!! Tuwir banget ya. Pesawat telponnya juga masih yang diputar dan segede2 batu kali. Para pegawainya kebanyakan sudah mulai lanjut dan terlihat santai serta sabar (dan saya juga harus sabar kalau mau minta sesuatu hahahaha. Sekedar clue saja, Purwokerto adalah kota asalnya tempe mendoan. Selain dijual dalam bentuk yang sudah jadi, ada juga yang setengah matang untuk digoreng di rumah. Nikmat...

YOGYAKARTA
Dari Purwokerto, seharusnya saya masih meneruskan pelatihan ke Semarang dan Malang. Tapi minggu depan ada event di Bandung. Akan terlalu dekat jadwal persiapannya. Saya memutuskan pulang ke Jakarta dengan pesawat. Pilihannya adalah naik pesawat dari Semarang/Yogya. Pikir2, ke Yogya lebih baik. Selain landasan pacunya lebih panjang ketimbang airport Semarang, perjalanan ke Yogya juga lebih singkat (2 jam dengan K.A eksekutif).
Sampai di Yogya, saya langsung pesan tiket Garuda untuk keesokan harinya dan mencari penginapan murah (120 ribu saja untuk kamar AC dengan KM ;p).

Saya menghabiskan malam keliling kota dengan becak. Ke Pasar Malam Sekaten, belanja di Mirota, menyusuri Malioboro, makan malam di si mbok yang mangkal di depan Pasar Beringhardjo. Paginya, saya menyambangi pabrik bakpia pathok 25. Hmmmm...masih hangat dan beli tas batik. Maklum backpack saya udah kelebihan beban hingga perlu traveling bag tambahan *halah*. Belum termasuk dua kardus lampu robyong pesenan Cici, sepupu saya *udah deh, ga usah guilty feeling gitu,jeng!*
Yogya memang salah satu kota favorit saya...harga2nya yg cheapo ituloh...selalu membuat saya betah dan tergelitik untuk belanja he3. Am gonna miss u, Yogya. Will be back with Sha pretty soon...

2 comments:

orangcurhat said...

penting banget tu emang menyeimbangkan antara having fun sama kerja.. hehehhe

Labibah said...

ah yogya memang the best city in the world! hihihi
monggo di link han

-maknyak-