Tuesday, November 29, 2005

TfL



Dalam perjalanan saya di London, saya sudah mencoba beberapa jenis transportasi TfL (Transport for London) :tube, bus, railway. Terus terang, saya kagum banget dengan infrastruktur transportasi modern ini dan saya betah banget hehehe *Gimana ga betah, biasanya di mikrolet aja saya bisa tidur :p* Karena itu saya pengen banget cerita mengenai TFL. Have my say, please…

***

Dari beberapa jenis transportasi yang saya coba, saya menemukan satu kesamaan. Yaitu, kemudahan bagi disabled & elderly people. Seperti di bis misalnya, dua baris tempat duduk terdepan diutamakan bagi mereka yang memiliki kekurangan, orang jompo, dan ibu yang membawa anaknya. Ketinggian trotoar dengan bus pun sudah diatur rapih. Sehingga ergonomik bagi si ibu yang harus mendorong masuk baby buggies ke dalam bus. Ada pula kursi yang bisa dilipat dan dibuka jika dibutuhkan oleh mereka. Kalau yang muda terlanjur duduk, biasanya mereka mengalah kalo ada disabled, orang jompo, dan ibu2 dengan buggies masuk. Yang muda pun, biasanya mengalah dan naik ke bus bagian atas.

Masih untuk bis, tersedia banyak stanplat / halteu dengan box tiket otomatis untuk mereka yang hanya ingin beli tiket sekali jalan. Tiketnya hanya berbentuk print out kecil, seukuran setengah KTP. Untuk saya sendiri, tentunya lebih praktis dan hemat membeli satu tiket untuk beragam jenis TfL dalam bentuk card yang dapat disesuaikan dengan zona yang mau saya tempuh hari itu. Tiket-tiket ini dapat dibeli di setiap stasiun. Selain itu ada juga metode kartu mingguan dan pembayaran dengan Oyster.
Di setiap halteu tadi, ada info yang jelas mengenai rute bis mana saja yang melewati halteu ini dan akan datang setiap berapa menit. Dijelasin juga bis itu kira-kira bakal lewat mana aja.

Di tube juga sama. Di setiap stasiun banyak tersedia media informasi seperti brosur2 tube map dan peta besar. Selain itu di beberapa stasiun tersedia juga mesin informasi yang tinggal kita pencet tanpa perlu repot2 kembali ke loket informasi. Mesin ini sudah dikoneksikan ke loket informasi. Di dinding tube juga ada peta rute yang dilewati oleh tube tersebut. Dan seperti halnya yang diaplikasikan di busway Jakarta, disetiap stasiun pemberhentian akan ada mesin yang memberitahukan nama stasiun tersebut dan stasiun selanjutnya.

Berbicara soal kenyamanan dan prefensi Londoners untuk menggunakan transportasi umum, sangat terlihat dari kondisi sehari-hari. Beragam kalangan menggunakan transportasi umum, dari anak sekolah, punkers, business man, dan travellers. Banyak orang ga ragu untuk bawa trolley bag. Di trotoar2 banyak yang mendorong trolley bag dan heading to the airport. Saya ga bisa bayangin kalo di sini, saya harus dorong trolley bag dari Fatmawati ke blok M. Kayaknya kalo turun dari bis bandara dan bawa banyak barang maka bakal lebih nyaman dan aman kalo saya naek taxi.

Kalau di sini, kita hanya melihat di mall, di London Ibu-ibu yang bawa buggies adalah pemandangan umum di setiap sudut kota. Selain mahalnya biaya baby sitter, kondisi infrastruktur transportasi memang memadai. Jadi, ga ada tuh pemandangan ibu2 gotong buggies saat melewati tangga karena ga ada tanjakan untuk roda hihihi ini siyy pengalaman saya di plaza semanggi :p

Saat kita jadi pedestrian juga cukup menyenangkan. Secara teratur, mobil akan berhenti bila lampu merah dan memberikan kesempatan kita menyebrang. Ga ada yang melewati garis. Yang nyebrang pun tahu diri. Begitu bunyi alarm dan lampu hijau, mereka bur2 nyebrang. Ga ada yang jalannya santai.
Untuk tempat-tempat yang ga ada lampu merahnya tapi ada zebra crossnya, kendaraan akan memperlambat lajunya dan mempersilahkan pedestrian menyebrang. Wuiiih sopannya. Cocok deh..udah mobilnya keren, nyupirnya bertata krama pula...

***

Hmmm tapi ga semuanya serba sempurna kok,.Waktu naek kereta ke Bournemouth, saya mencium bau sedikit ga enak dan ada bekas2 tulisan di dinding (kayak Kopaja ghetow loh...:p). Trus, saya juga sempet nemuin petugas yang belagu waktu saya nanya info jalur mana yang harus saya ambil untuk ke Bournemouth. Dia bilang, ”Lihat tuh di layar..”. Hueeehh sebel banget, saya kan ga ngerti kode2nya. Mana tinggi banget lagi, jadi cangkeul. Untung aja akhirnya otak saya jalan juga. Kalo ga, saya bisa ketinggalan kereta dan mesti tunggu kereta berikutnya. Ada juga pengalaman lainnya, walaupun ini hanya hasil pengamatan aja. Ceritanya, bis di depan bis saya mengalami kerusakan. Jadi, penumpangnya di oper ke bis saya (kayak angkot aja yah oper-operan). Semua penumpang yang dioper menggunakan pass card atau tiket terusan, kecuali satu Ibu (kayaknya turunan middle east) yang pake tiket sekali jalan. Supir bis saya nolak tiket itu. Karena, menurut dia tiket itu cuma sekali pake dan sudah dipake waktu si Ibu naek bus yang rusak tadi. Jelas dong si Ibu marah2, dia bilang, ”Emang salah siapa kalau bisnya rusak. Gimana sih ga jelas amat..etc..etc..”.... Saya yakin kalau di Jakarta, supirnya pasti mengakhiri pertengkaran dengan kalimat ini,”Namanya juga naek angkot. Kalau mau yang jelas dan enak naek taxi aja...”. :-)


OOT:
Saya sempat juga kagum sama jalur sepeda di Amsterdam. Yang kayak gini, ga saya temuin di London (tau ada atau enggak). Dimana2 orang banyak pake sepeda, sekalipun cuaca lagi windy banget, dan sekalipun dia pake jas formil. Jenis sepedanya banyak yang masih merupakan sepeda kumbang. Jalur khusus sepeda ini membuat pengendara sepeda merasa nyaman dan diberi ruang sendiri. Tempat parkirnya pun banyak. Sampai suatu tempat pemberhentian canal cruise, saya melihat ratusan sepeda… wah jadi inget tempat jual sepeda bekas di Banceuy,Bandung hehehe

No comments: