
Banyak hal di dalam hidup ini yang diluar dari akal dan jangkauan kita sebagai manusia.
Sebagai manusia yang hidup di masa kini ditambah pembawaan saya yang arogan :p, saya ga terlalu percaya pada sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara fisik atau tidak dapat diterima oleh akal sehat (metafisik?). Saya juga tidak percaya dengan magic. Saya hanya percaya pada kekuatan besar yang mengatur alam semesta. Hal itu pun saya yakini karena dari kecil saya sudah didoktrin bahwa kita punya Tuhan. Tuhanlah yang Maha Kuasa.
Mengenai apa buktinya Tuhan itu ada, dan bagaimana Tuhan mengatur alam semesta tidak pernah saya pertanyakan. Sampai kemudian dalam perjalanan menuju kedewasaan (yang masih terus berlangsung, red.) saya mulai belajar dan menemukan hal-hal yang di luar kemampuan saya sebagai manusia Hal-hal yang tidak mampu diterima oleh otak saya yang terbatas dan membuat saya semakin yakin akan keberadaan Tuhan.
Selain itu, banyak juga hal-hal lainnya yang merupakan bagian dari adat yang tidak pernah saya ”anggap”. Hal-hal ini sering saya abaikan, terutama jika menurut saya cenderung ke musyrik atau ”ga guna”. Maksud saya ga guna itu adalah lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Tapi dalam aplikasinya, semuanya itu jelas hanya subyektif berdasarkan justifikasi saya melulu.
***
Waktu menikah, saya sama sekali ga pake adat. Padahal sebagai orang jawa 75% (mamah saya ga murni Jawa), saya sebagai anak perempuan satu-satunya seharusnya menjalani upacara tertentu. Apalagi mengingat kakak dan adik saya dua-duanya laki-laki. Tapi buat saya (dan juga Feming), yang saat itu berusaha membayar sendiri biaya pernikahan kami, semua adat itu cuma jadi beban aja. Jadi begitulah, pernikahan kami berjalan tanpa menjalani adat tertentu.
Hal yang sama terjadi waktu saya melahirkan anak pertama kami, Asha. Bali (plasenta dan lain-lain) kami tanam di depan rumah mamah di Bandung tanpa ada upacara apapun. Padahal kata orang jawa, seharusnya dikasih lampu petromaks (ga tau tujuannya apa???), ditanam barengan pensil (biar pinter katanya), dan lain sebagainya. (Maaf niyyy, pengetahuan saya seputar adat jawa memang sangat terbatas. Karena kami di rumah sudah dibesarkan di luar Jawa dan sangat moderat). Apalagi yang namanya paraji, wah ga pernah kebayang seperti apa bentuknya. Kalau orang bilang,” Han, kalo gak percaya paraji, paling gak pergilah ke sana untuk dipijat”. Hmmm, saya pikir untuk apa siyyy, toh saya juga sudah belajar dari rumah sakit untuk pijat bayi saya sendiri. Saya juga yakin dengan demikian akan makin mempererat hubungan saya dengan bayi saya.
***
Sampai kemudian, setelah lewat satu bulan, kami (saya,Feming, Mamah,Papah) mulai kewalahan menangani Sha (nick name Asha). Setelah diskusi dengan Mamah, saya setuju untuk memijatkan Sha ke dukun bayi. Saya takut Sha rewel karena memang sakit badan. Maklumlah, Sha kan anak pertama dan saya sendiri juga bukan ibu yang pintar menggendong, jadi saya pikir kemungkinan besar Sha sakit-sakit badan.
Ujung-ujungnya, Sha di”diagnosis” sawan. Whoaaaa, saya bingung, ga percaya, dan ga tau musti ngapain. Feming lebih panik lagi. Masih dalam keadaan gak percaya, ada seorang ustadz kenalan oom saya kebetulan berkunjung ke rumah mamah (saat itu saya dan Sha belum kembali ke Jakarta pasca melahirkan Sha, red.). Saat ngobrol-ngobrol, Bapak ini teryata menceritakan ”hal” yang sama, ”hal” yang dia lihat.
Naturally, saya dan Feming sebagai orang tua sangat ketakutan dan bingung. Kami berdua menyanggupi semua persyaratan yang harus kami lakukan. Dari mulai doa sampai ganti nama (tetek bengek lainnya, maaf hanya untuk konsumsi sendiri,red.). Katanya siyy, selain saudara seari-arinya masih ngikutin Sha, nama tengah Sha (Maylaff) juga keberatan. Semua yang saya dan Feming pasrah dan manut saja pada akhirnya. Semuanya kita lakuin semata-mata karena rasa sayang sama Sha. Kalau misalnya, ada hal-hal yang kemudian ternyata musyrik, semoga Allah memaafkan dosa saya dan Feming : (
***
Sekarang, Sha jauh lebih kalem. Udah semakin pinter ngoceh dan banyak senyum. Nama lengkapnya sekarang Asha Freda Elvind, artinya hidup yang damai. Mudah-mudahan hidup Sha selamanya dalam damai....




No comments:
Post a Comment